Media Indonesia, Kamis, 28 April 2005
A Fatih Syuhud: Mahasiswa Agra University, India
PERTEMUAN puncak antara Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf semakin membuktikan bahwa dalam dunia diplomasi (sebagaimana dalam kriket, olahraga populer di kawasan ini) hasil dari pertemuan tingkat tinggi sering berupa kebalikan dari prediksi sebelumnya.
Apabila pertemuan puncak di Agra pada Juli 2001 hanya menghasilkan kepahitan dan jalan buntu, maka hari-hari menjelang pertemuan puncak pada pertengahan April tampak kedua pihak bersikap low profile dan berhati-hati. Namun, hasil pertemuan saat ini dianggap banyak analis kedua negara sebagai paling sukses dan menjanjikan banyak harapan cerah ke depan.
Pernyataan bersama yang dibacakan PM India mengandung enam aspek yang patut dicatat sebagai fondasi utama peta jalan damai antara India dan Pakistan.
Pertama, penekanan bahwa proses damai yang saat ini sedang berjalan tak dapat berubah (irreversible). Kedua pihak mengatakan bahwa apapun yang terjadi di masa depan tidak akan bertolak belakang dengan apa yang sudah dicapai saat ini dimulai dan ditingkatkannya lalu lintas perbatasan dan hubungan antarmasyarakat seperti olahraga dan kesenian, serta gencatan senjata di sepanjang Garis Kontrol (GK) dan di sungai es Siachen. ‘Ngambek’-nya India dengan memutus seluruh hubungan udara, darat, dan laut dengan Pakistan menyusul serangan militan pada 13 Desember 2001 di gedung Parlemen diharapkan tidak akan terulang.
Kedua, bahwa terorisme tidak akan diberi kesempatan untuk mengganggu hubungan. Formulasi khusus patut dicatat bahwa kedua pemimpin berjanji untuk tidak membiarkan terorisme mengganggu proses damai. Terorisme yang dimaksud di sini bukanlah retorika yang biasa dipakai India untuk menghantam Pakistan tetapi ia bermakna sebuah masalah yang harus dihadapi secara bersama oleh kedua negara. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Islamabad akan terus berusaha menjamin bahwa insiden terorisme tidak direncanakan atau dilancarkan dari teritorial yang dikontrolnya; New Delhi juga berjanji untuk tidak overreaktif pada insiden terorisme yang kemungkinan terjadi di masa depan.
Dengan kata lain, India dan Pakistan secara bersama telah sepakat tidak akan memberikan hak pada teroris untuk memveto proses damai melalui aksi kekerasan yang dramatis.
Ketiga, tujuan membahas isu Jammu dan Kashmir (JK) adalah untuk mencapai ‘penyelesaian final.’ Sebelumnya, pada 24 September 2004 pernyataan yang dikeluarkan di New York mengatakan ‘kemungkinan sejumlah opsi untuk penyelesaian dan negosiasi damai soal JK,’ sementara pada 6 Januari 2005 pernyataan bersama menegaskan ‘penyelesaian damai atas seluruh isu bilateral, termasuk Jammu dan Kashmir, sampai memuaskan kedua belah pihak.’ Namun demikian, pernyataan terakhir ‘penyelesaian final,’ sebenarnya bukan hal baru. Bahkan kalimat ini diambil dari Kesepakatan Shimla 2 Juli 1972, klausul 6 dimana kedua negara berkomitmen ‘untuk membahas lebih lanjut menuju perdamaian dan normalisasi jangka panjang, termasuk isu tahanan perang, penyelesaian final soal Jammu dan Kashmir dan dimulainya hubungan diplomatik.’
Dengan kembali pada bahasa yang dipakai pada kesepakatan Shimla 1972, India dan Pakistan secara bijaksana telah sepakat untuk menjadikan Kashmir sebagai isu signifikan.
Keempat, setelah memberi penekanan atas perlunya penyelesaian final, pernyataan itu menunjukkan langkah-langkah awal yang searah dengan paradigma ‘perbatasan lunak’. Dengan demikian, ia membahas langkah selanjutnya ‘untuk menambah interaksi dan kerja sama di sepanjang perbatasan,’ termasuk pergerakan jalur angkutan bus dan perdagangan antarperbatasan di Kashmir.
Akan dimulainya truk angkutan menyeberangi perbatasan merupakan sebuah langkah saling percaya yang radikal bagi kedua negara yang akan mengarah pada geografi ekonomi kawasan kembali pada era prapemisahan.
Kelima, pernyataan bersama juga berkomitmen untuk mempercepat proses ekspor/impor produk dan menekankan perlunya interaksi bisnis lebih besar. Selama India terkesan ingin menghindari isu Kashmir, maka Pakistan tak akan tertarik untuk bergerak lebih jauh di bidang perdagangan.
Dengan tidak menghindar dari isu Kashmir (isu utama yang memicu tiga kali peperangan) maka India telah mencapai apa yang ia inginkan: komitmen Pakistan untuk mendahulukan sejumlah persoalan yang lebih ringan berjalan lebih dulu.
Keenam, Dr Singh dan Jenderal Musharraf tidak hanya menyepakati usulan pipa minyak dan gas Iran-Pakistan-India di tengah kritisisme AS atas proyek tersebut tetapi juga memperluas skup kerja sama energi antara kedua negara.
Dengan adanya peningkatan permintaan energi baik di Pakistan dan India serta perlunya Asia Selatan mengakses minyak dan gas dari Iran dan Asia Tengah, maka sangat perlu bagi kedua negara untuk memulai dialog energi yang lebih komprehensif.
Sementara itu, perbatasan di Kashmir, dalam istilah Musharraf, akan berupa soft border yang artinya India dan Pakistan akan tetap memiliki privilese kedaulatan baik de jure maupun de facto di kawasan yang dikuasai, namun pada waktu yang sama tidak akan menghalangi rakyat di kedua perbatasan untuk menikmati teritorial yang bersatu.
Apabila enam elemen di atas berjalan sesuai rencana dan dialog-dialog berikutnya semakin mendapatkan momentum, maka perdamaian di kawasan yang menurut Collin Powel termasuk one of the most dangerous flash point in the world ini akan dicatat sejarah sebagai pertanda robohnya tembok Berlin part II.***













29 Maret 2006 at 9:07 am
Do you want free porn? Contact my AIM SN ‘abunnyinpink’ just say ‘give me some pics now!’.
No age verification required, totally free! Just send an instant message to AIM screen name “abunnyinpink”.
Any message you send is fine!
AIM abuse can be reported here.
16 Mei 2006 at 8:34 am
Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.
Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069
Get these Degrees NOW!!!
“BA”, “BSc”, “MA”, “MSc”, “MBA”, “PHD”,
Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal
Act now you owe it to your future.
(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.
10 Juni 2009 at 8:23 pm
Perang Saudara Di Pakistan Sungguh Memprihatinkan
Presiden AS, Barack Obama berhasil mengobarkan api perang saudara di Pakistan sejak ia memimpin pemerintahan pada awal tahun ini. Pemerintahan AS secara terbuka menghasut para penguasa Pakistan untuk memusuhi gerakan Taliban; memerintahkan mereka untuk membatalkan perjanjian dengan Taliban di lembah Swat; dan menuntut mereka untuk melibatkan semua kekuatan tentara Pakistan dalam peperangan yang sengit melawan gerakan Taliban hingga memakan banyak korban warga sipil, yang terdiri dari anak-anak dan perempuan di wilayah barat laut Pakistan.
Tidak hanya itu, pertemuan di Washington antara presiden AS dengan presiden Pakistan, Zardari dan presiden Afganistan, Karzai pun berlangsung. Dari pertemuan itu dikeluarkan sebuah tekad bersama, yang menekankan bahwa: “Mereka bertekad untuk meningkatkan kerjasama guna menghadapi ancaman Taliban dan kelompok militan di Pakistan dan Afganistan”. Zardari berjanji kepada presiden Obama dengan mengatakan bahwa: “Operasi militer terhadap Taliban akan berlanjut sampai situasi di lembah Swat kembali normal”. Tentang keterlibatan tentara Pakistan di tengah-tengah perang melawan Taliban, maka hal itu telah meningkatkan seruan dan janji AS untuk memberikan bantuan militer dan ekonomi kepada pemerintah dan tentara Pakistan.
Rakyat Muslim Pakistan tentu saja sangat geram melihat penguasanya yang tunduk kepada AS. Mereka melakukan protes keras atas kezaliman penguasa mereka. Bahkan, 31 Mei kemarin sebuah protes besar telah digelar. Penguasa Boneka Pakistan turuti tuannya. Pasukan AS menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan. Pakistan mendapat tekanan dari Amerika agar menumpas kelompok Islam yang ingin menegakkan syariah Islam di wilayah Swat itu. Dan kedua penguasa ini pun bertekuk lutut atas tekanan ini.
Demikianlah, potret buram dunia Muslim. Kita menyaksikan bagaimana kebiadaban AS, bersama para penguasa bonekanya, Pakistan melakukan serangan brutal terhadap para ulama’ dan pengemban dakwah di Lembah Swat, semata karena mereka ingin syariat Islam diterapkan di sana. Lebih dari 180 pejuang Muslim telah gugur sebagai syuhada’. Lebih dari ratusan ribu kaum Muslim, baik tua, muda, anak-anak, dewasa, laki-laki dan perempuan terpaksa harus mengungsi (al-Jazeerah TV, 10/05/2009).
Sangat disayangkan, pembantaian ini terjadi setelah kedua penguasa boneka itu menghadap tuannya, Barack Obama, di Gedung Putih. Seolah ingin membuktikan kesetiaan mereka kepada perintah tuannya.
Bagaimana menyelesaikan permasalahan ini? permasalahan ini hanya dapat selesai dengan adanya seorang penguasa yang mempunyai pendirian yang kuat. Dan hanya Negara yang mempunyai kemandirianlah yang akan bisa menyelesaikan permasalahan umat termasuk permasalahan antara Pakistan dan Afganistan. Menyelamatkan Muslim Pakistan serta membebaskannya dari cengkraman penjajah AS. Hegemenoni AS sebagai sebuah negara adidaya harus dilawan dengan kekuatan yang serupa yaitu Negara pula. Negara yang dimaksud adalah Negara Islam sebuah negara adidaya tandingan yang akan disegani oleh Negara manapun.
Windia
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia,
Jurusan Pendidikan Ilmu Komputer