jump to navigation

Mental Kuli Mei 2, 2005

Posted by Blogger Indonesia in Tak Berkategori.
trackback

Tue, 01 Feb 2005

Oleh: Mario Gagho

Ketika saya berniat melanjutkan studi ke India, ada
dua hal yg saya perlukan.Paspor dan Visa. Mengurus
paspor sebenarnya mudah dan berbiaya murah: yg
dibutuhkan cuma akte kelahiran, pas foto dan biaya
administrasi sejumlah Rp.200.000-an. Namun in the end
of the day, paspor kita baru akan beres setelah kita
’sogok sana sogok sini’ dan akhirnya paspor baru
keluar dengan biaya total(formal dan ‘informal’)
Rp.400.000 (empat ratus ribu). Kalau tidak mengikuti
‘aturan main’ mungkin sebulan lamanya paspor kita baru
akan beres. Dan the game is not over yet, sewaktu saya
bayar uang fiskal(semacam pajak bagi yang mau ke luar
negeri) di airport Cengkareng, saya juga diminta lagi
‘uang administrasi’ oleh petugas imigrasi yang waktu
itu berhasil saya hindari.

Ketika kita masuk kantor birokrasi di Tanah Air, kita
sering melihat tampang dan sikap para pegawai yang
galak dan serem-serem, dan bersikap tidak ramah dan
sok berkuasa. Anehnya wajah-wajah sangar itu bisa
berubah menjadi sangat lembut dan sangat ketakutan
ketika menghadapi pegawai lain yang posisinya di atas
dia.

Sejujurnya, sikap ’sedapat mungkin mengambil
keuntungan tambahan’ itu bukan hanya dilakukan oleh
para aparat birokrasi, tapi ironisnya dilakukan juga
oleh para dosen (dosen umum atau agama) yang notabene
merupakan “garda depan nilai keintelektualan dan
idealisme,” sebagaimana kata Plato. Dengan adanya
sistem pendidikan universitas di Indonesia di mana
dosen memiliki otoritas mutlak memberikan nilai pada
mata kuliah yg dia ajarkan, memberikan suasana
kondusif
bagi para dosen untuk bersikap “meneguk laba dari
mahasiswanya yg menyerah tiada daya”. Bagi dosen yang
kebetulan punya libido tinggi, ‘keuntungan’ itu bisa
berupa ‘quick encounter’ dengan mahasiswinya yg cantik
dan kebetulan bloon.

Siapa saja yang pernah punya urusan dengan
kantor-kantor pemerintah, dan para dosen (bagi
mahasiswa/mahasiswi) pasti akan menemui
kejadian-kejadian yg serupa dg apa yang saya alami
itu. Dan saya yakin satu jilid buku tebal tidak akan
cukup menampung ‘kisah nyata tapi pahit’ masyarakat
Indonesia setiap kali harus menghadapi tekanan batin
dan tekanan uang oleh para birokrat di kantor-kantor
pemerintahan dan para dosen keblinger tsb. Bagi rakyat
kebanyakan, situasi tidak enak itu mungkin sudah
dianggap hal lumrah, status quo, dan tidak perlu
dipermasalahkan. Hal itu wajar, terutama bagi mereka
yang tidak pernah kemana-mana dan never think and
never ’see outside the box’(tidak pernah membuat
perbandingan dg dunia luar dan nilai universal ideal).

Sikap-sikap dan thinking mentality tidak profesional
seperti yang disebut di atas dikenal dengan istilah
‘mental kuli’. Sikap mental kuli ini timbul
biasanya pada suatu bangsa yang pernah dijajah dan
tidak bisa lepas dari mental anak jajahan, sistem
pemerintahan yang otoriter atau demokrasi semu
(seperti era ORBA) atau sistem kerajaaan, seperti
Saudi Arabia, dll. Di mana kompetisi sehat
berdasarkan kemampuan (meritokrasi) dan transparansi
rule of the game tidak jelas. Karenanya orang yang
sudah ngebet ingin dapat promosi jabatan, akan
berpikir bahwa jalan satu-satunya untuk naik pangkat
ya dengan menjilat kaki atasan dengan berbagai efek
sampingan yang sungguh tidak sehat: seperti budaya
memberi upeti, dan meminta upeti balik bagi siapa saja
yg membutuhkan jasanya termasuk pada rakyat-rakyat
kecil seperti yang saya alami sendiri ketika
mengurus paspor itu.

Yang agak aneh, kenapa para dosen kok juga ikut-ikutan
bermental kuli dengan meminta sejumlah upeti kepada
para mahasiswa/i-nya? Apakah ini juga disebabkan
oleh beban upeti yang dia tanggung untuk diterima jadi
dosen? Ataukah ini murni dikarenakan ‘mental disorder’
atau mentally disoriented? Atauhkah ini disebabkan
oleh minimnya gaji dosen? Atau tuntutan budaya
hedonisme-materialisme yang begitu menekan pola pikir
para garda depan intelektual kita yg bernama dosen
itu? Sehingga dosen tanpa nyetir mobil jadi kurang
keren dan terhormat? Hanya para dosen-lah yg tahu
sebab yang sebenarnya.

Transparansi

Sebenarnya solusi menghilangkan jiwa mental kuli di
tubuh para birokrat itu “tampaknya” mudah, yaitu
adanya transparansi. Adanya aturan main yang jelas dan
terbuka. Siapa saja yang mengikuti aturan main dengan
benar, dia akan mendapat posisi layak sesuai dengan
kemampuannya. Dan bagi yang tidak memiliki added
value dan tak enerjik akan tetap di tempat. Pokoknya
negara dibikin sebagaimana perusahaan, dg manajemen yg
profesional. Tapi apakah profesionalisme dan
transparansi ini applicable stuff di negara kita? Itu
dia yang sulit. 32 tahun jaring laba-laba sistem
mental kuli di bawah suharto tentu tidak akan bisa
berubah dg hanya wishful thinking rakyat jelata
seperti saya. Tanpa adanya political will dari ‘bapak2
pembuat kebijakan’ untuk merubah sistem-sistem
intransparensi itu, saya pesimis bahkan 10 tahun lagi
(seperti harapan Cak Nur) Indonesia tidak akan berbeda
dari waktu ketika saya menggoreskan unek-uneg ini.

Kendatipun begitu, harapan saya, sambil menunggu
sistem pemerintahan dan administrasi negara yang
kondusif, saya berangan-angan buat generasi muda
seperti saya, agar ketika salah satu atau beberapa
orang dari kita menduduki posisi-posisi penting dalam
pemerintahan, watak dan sikap mental kuli (menjilat
ke atas, menginjak dan memeras ke bawah) tidak lagi
kita lakukan dengan penuh kesadaran dan komitmen
profesionalisme. Sikap egaliter dan profesional bukan
hanya kita tunjukkan ketika kita berada di belakang
meja tugas, tetapi juga dalam suasana informal, dalam
aktifitas keseharian kita.

Semoga wishful thinking ini tidak hanya sekedar
harapan tanpa gema.

Mental kuli Rakyat

Apakah rakyat biasa seperti kita juga memiliki mental
kuli? Tentu. Apabila kita, disadari atau tidak,
bersikap “manis” pada orang tertentu dan bersikap
“pahit” (muka masam) pada yg lain hanya berdasarkan
motivasi keuntungan materi, maka itu berarti dalam
diri kita telah tertanam bibit-bibit mental kuli yg
akan menjadi subur kelak ketika kita sudah mulai
terjun dalam dunia kekuasaan, seberapa kecilpun
jabatan atau kekuasaan yg akan kita pegang.[]

Komentar»

1. Agus - September 11, 2007

Salam kenal, saya agus r. mahasiswa IIT Roorkee.

Saya ingin komnetari masalah mental kuli dari saudara mario gagho.

Kita sebagai manusia sangat membutuhkan makanan, pakaian dan lain2 untuk kelangsungan hidup kita. memang untuk mendapatkan hal2 seperti itu, setiap manusia punya cara masing2. tapi tidak semua laki2 eh… maksudnya semua PNS bermental tsb.kalau nati mario gagho menjadi PNS saya harapkan mario tidak bermental seperti itu, karena maaf ya saya ingin ceritakan waktu kejadian di trisakti, saya punya kenal anak mahasiswa trisakti kebetulan dekat dgn rumah, saya bertanya mengapa kamu demo, dia jawab pemerintahan tidak benar lagi. dan saya katakan kalau ada ingin perubahan sebaiknya dari diri anda, keluarga dsb. terus saya bertanya, ayah anda mampu menyekolahkan anda dengan adik2 anda di trisakti, berapa ngaji bapak anda? diam terdiam, karena saya tahu gaji seorang pegawai tdk akan mencukupinya. terus saya katakan kalau anda ingin reformasi atau perubahan cobalah dari diri anda dari keluarga dan yang terakhir pasti negara kita.

Bung mario, marilah kita berpikir kedepan kita bantu pemerintah kita ini, kita adalah sebagai mahasiswa yang punya tugas belajar dengan baik, capailah ilmu yang kita inginkan sehingga jadilah seperti habiebie dan dapat memyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan bangsa kita.

Bung mario, kalau mau berantas korupsi dan sebagainya jangan kita hanya lihat satu sisi, cobalah lihat sisi lain. anda tahu ngaji seorang PNS sangat tidak memadai. kalau seandainya saja ngaji itu layak. saya sangat setuju bila seorang PNS dihukum karena perbuatannya. Kemarin saya ngobrol dengan seorang teman dari nepal saya bertanya berapa ngaji minimum seorang PNS dia Katakan 10.000 RS (2.000.000 rp) coba anda bandingkan dengan seorang PNS di negara kita.marilah sekali lagi kita bangun negara kita sehingga, bangsa kita tidak ketinggalan dengan negara2 lain.

Salam agus.