Sun, 29 Aug 2004
Oleh Mario Gagho
Self-esteem merupakan sikap jalan tengah (middle
path). Ia berada di antara dua ektrimitas sikap
“anti-sosial”: minder dan sombong. Jadi, seorang dg
self-esteem sempurna tidak akan minder atas kekurangan
yg dimiliki, tapi juga tidak akan sombong pada
kelebihan yg disandang. Ia akan merasa “bebas” untuk
bergaul dg siapa saja; tanpa memandang
kelebihan/kekurangan materi, tanpa melihat
kelebihan/kekurangan fisik, tanpa peduli dg
kelebihan/kekurangan jabatan/titel rekan bergaulnya.
Pelaku self-esteem akan menghargai seseorang dari segi
kemanusiaannya: bahwa setiap orang diciptakan sama dan
patut mendapat respek yg tidak beda.
Dg demikian, seorang diplomat dg self-esteem tinggi
akan dg mudah bergaul dg sesamanya; sama mudahnya dg
ketika ia bergaul dg lokal staf dan rakyat jelata yg
miskin papa dan berbaju lusuh. Begitu juga, seorang
mahasiswa/rakyat biasa akan merasa “biasa-biasa saja”
ketika bergaul dg pejabat tinggi, kalangan pebisnis,
dan tokoh-tokoh besar. Sama biasanya dg ketika ia
bergaul dan berbicara dg seorang gelandangan atau
tukang becak. Karena kepribadian dg tipe ini selalu
menghormati orang karena “manusia”-nya, bukan karena
jabatan, titel, atau penampilan fisiknya. Dg kata
lain, perilaku self-esteem akan menempatkan kata
“martabat dan gengsi” pada makna yg riil, bukan makna
yg artifisial.
Di India, saya melihat Bapak Uton Rifai, mantan
direktur WHO (world health organisation) Asia-Pacific
bisa menjadi contoh tokoh besar yg memiliki
self-esteem tinggi. Beliau bisa akrab dg siapa saja:
dari mulai kalangan pejabat nasional maupun
internasional sampai dg kalangan kami-kami, para
mahasiswa India yg dikenal sebagai mahasiswa miskin
dan “tidak perlente” (setidaknya demikian gumaman
“ringan” sebagian kalangan diplomat yg tak perlu saya
sebut namanya di sini).
Pak Uton, demikian kami biasa memanggil, di sela-sela
aktivitas internasionalnya yg super sibuk, sering
mengundang kami untuk sekedar ngobrol, membagikan
majalah terbitan Indonesia, memberi nasihat dan
wawasan dan berbagi pengalaman. Beliau sering cerita
banyak hal; dari pertemuannya dg berbagai tokoh dunia,
trik-trik melobi tingkat tinggi, sampai perkembangan
mutakhir pergeseran politik nasional/internasional.
Kalau kita membaca profil/biografi tokoh-tokoh besar
kita yg berlevel internasional seperti Bung Karno
(Penyambung Lidah Rakyat Indonesia as told to Cindy
Adams, Gunung Agung, 1990), Prof.Dr. Buya Hamka
(Pribadi, pustaka Panjimas, 1990); KH Abdurrahman
Wahid (Bunga Rampai Pesantren, 1989); dll., maka kita
akan melihat pakem (pattern) gaya hidup dan gaya
bergaul yg hampir sama: populis/egalitarian/merakyat,
rendah hati, kemauan tinggi, percaya diri tinggi.
Ciri-ciri sosok self-esteem yg ideal.
Dari sekian banyak buku-buku biografi/otobiografi
tokoh besar yg pernah saya baca, otobiografi Buya
Hamka adalah yg paling menarik dan berkesan . Apa yg
menarik adalah karena dia memulai semuanya dari nol.
Hamka muda mengawali masa remajanya dg tidak
menyenangkan: ia terkena cacar, sehingga merasa kurang
pede untuk mendekati sang gadis pujaan. Mindernya juga
berkaitan dg hal-hal lain, seperti dalam pergaulan,
tampil di muka umum, dll. Tapi ada satu hal yg
membuatnya lain: kemauan tinggi untuk berubah dan
determinasi tinggi untuk maju. Dari kedua poin ini dia
melangkah. Dan sukses besar.
Hamka kemudian menjadi orang pertama yg mendapat gelar
Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Mesir
karena berbagai karya buku-bukunya yg brilian. Ia
kemudian mendapat gelar Doktor dari sebuah universitas
Malaysia karena karya penelitiannya yg orisinal dan
langka tentang perkembangan sastra melayu.Ia juga
menjadi andalan rezim Sukarno/Suharto untuk
berkomunikasi dg kalangan pejabat Timur Tengah.
Walaupun dia tidak memiliki jabatan formal apapun di
pemerintahan.
Buku-buku karyanya banyak, lebih dari 200-an buku
telah ditulisnya. Dalam masyakarat, ia juga menjadi
tokoh yg dihormati rakyat karena merakyatnya; disegani
pejabat karena ketegasan prinsipnya. Waktu menjadi
ketua MUI (majelis ulama indonesia), ia tidak mau
digaji, dan mengundurkan diri karena merasa ditekan.
Dan, sekedar Anda tahu, semua pencapaian
intelektualnya itu dicapainya tanpa melalui pendidikan
formal. Modalnya cuma satu: determinasi tinggi dan
keyakinan kuat bahwa siapapun akan dapat mencapai
mimpinya asal kerja keras: tidak banyak buang waktu,
tabah, banyak membaca dan berkarya. Salah satu sikap
self-esteem yg patut ditiru oleh kita,
mahasiswa/masyarakat/alumni India. Ditiru dan
diteladani oleh kita. Dari sekarang.[]
-
1
Pingback on Jun 16th, 2008 at 6:17 am
[...] yang sangat diperlukan dalam mengarungi kehidupan yang sangat memerlukan ketahanan mental tinggi. Rasa minder tersebut apabila tidak ditanggulangi–oleh Anda sendiri tentunya–akan semakin menterpurukkan [...]
-
2
Pingback on Jul 13th, 2008 at 9:02 am
[...] yang sangat diperlukan dalam mengarungi kehidupan yang sangat memerlukan ketahanan mental tinggi. Rasa minder tersebut apabila tidak ditanggulangi–oleh Anda sendiri tentunya–akan semakin menterpurukkan [...]
















Oktober 17, 2007 at 3:38 pm
orang hebat bukan bearti gak minder loh, hati manusia siapa yang tahu. bertahun2 yang lalu, saya pernah terplih jadi mahasiswa teladan nasional, menang berbagai macam lomba karya tulis, debat dalam bahasa asing, kerja dengan badan internasional diusia sangat muda, bergaji juta2 dan sekarang sekolah di luar negri. secara fisik, walau kurus kerempeng gini, secara objectiv, saya merasa cantik (huehehehe)
tapi apakah saya bebas dari penyakit hati ini? saya merasa belum. saya masih suka mikir, orang kaya pendidikannya pasti lebih baik, orang tinggal diluar negri pasti lebih hebat, kerja di metro tv pasti cerdas, menang abang none jakarta pasti berkualitas, and so on yang konyol2.
anehnya saya sadar itu konyol tapi susah untuk memutar pola pikir. anehnya lagi, dulu saya sering memandang keatas orang2 yang mendapatkan apa yang saya dapatkan sekarang. tapi sekarang, saya merasa biasa aja. saya selalu berpikir, orang lain pasti lebih baik dari saya.
saya pikir, tanpa minder, mungkin memang bener, saya bisa lebih produktif..entahlah..kapan saya bisa lepas dari penyakit psikologis ini.
makasih ya postingannya bikin curhat.
untung cuma saya yang komen, hehe.
Juni 27, 2008 at 5:06 am
stiap manusia pasti memiliki rasa rendah diri.
dan manusia juga bisa mlakukan kompensasi untuk menutupi atau mengurangi bahkan menghilangkan rasa rendah diri itu.
jadi menurut saya,
ga ada orang yang bisa sesantai itu menghadapi bermacam-macam orang dari berbagai kalangan.
memang kelihatannya bisa dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
tapi tetap saja ada sisi mindernya.
imtinya, ga selamanya rasa minder itu berdampak negatif. bisa aja malah sebaliknya.
kan manusia memiliki kemampuan untuk memperbaharui diri.
dan memang selalu ada yang perlu diperbaiki.
nah,,
masalahnya,
pa kmampuan itu juga merupakan bagian dari self esteem????