Nulis Buku, Pak Dosen!
Mei 3, 2005 in Tip Menulis
Tags: buku, menulis, menulis buku
Oleh www.fatihsyuhud.com
Nulis Buku, Pak Dosen!
Cara termudah bagi seorang akademisi untuk membangun kredibilitas akademiknya adalah dg menulis buku. Terutama bagi mereka yg sudah menjadi dosen. Apakah saya sedang bercanda? Kalau menulis artikel singkat di koran atau menulis paper ilmiah untuk jurnal saja “tidak sempat”, bagaimana mungkin “ada waktu” untuk menulis buku?
Menulis buku bagi seorang dosen sebenarnya sangat mudah. Rata-rata dosen UI, UGM, ITB, dll menulis buku. Isinya pun sederhana tapi cukup representatif. Waktu kuliah S1 jurusan hukum di Indonesia, saya terkesan dg buku “Dasar-dasar Ilmu Politik” karya Prof Miriam Budiarjo, guru besar UI yg mantan diplomat di AS. Isinya ringan tapi berbobot dan yg lebih penting lagi semua kandungan buku tsb adalah kumpulan materi kuliahnya selama setahun di FISIP UI! Apa yg dilakukannya merupakan ide sederhana tapi cemerlang: menulis buku dari kumpulan materi kuliah yg diajarkan pada mahasiswa. Dg demikian, bisa dipastikan
bahwa semua dosen dapat menulis buku. Paling sedikit, setahun sekali. Asal setiap materi kuliah dipersiapkan secara serius. Tidak sulit, bukan?
Buku juga dapat berupa kumpulan makalah ilmiah yg pernah kita bawakan di sejumlah seminar, pernah dimuat di jurnal atau kompilasi tulisan artikel pendek yg pernah dimuat di media. Buku sejumlah tokoh akademisi banyak juga yg berasal dari kumpulan tulisan mereka di media. Buku-buku Prof Dr Nurcholis Madjid seperti “Keislaman dan Keindonesiaan”, “Islam dan Peradaban”, dll. adalah salah satu contoh.
Kenapa kalangan akademisi umumnya begitu getol menulis atau menyusun buku? Jawaban pertama yg keluar adalah “untuk membangun kredibilitas atau reputasi akademis”. Ini tidak berarti bahwa kalangan akademisi yg tidak mempunyai karya ilmiah sama sekali sebagai bodoh. Tidak. Ia bisa saja pintar, bahkan mungkin saja lebih pintar dari yg menulis. Tapi, tanpa memiliki karya bagaimana orang lain tahu bahwa anda memiliki
kapabilitas/kemampuan akademis yg mumpuni? Bagaimana orang tidak akan meragukan ijazah dan titel Anda yg berderet-deret? Dan pada tataran praksis, bagaimana Anda dapat mencapai kredit poin untuk menjadi profesor apabila tanpa memiliki karya tulis?
Akademisi Pakar dan Non-Pakar
Secara faktual, walaupun tidak pernah disebut secara eksplisit, kalangan akademisi terbagi menjadi dua kelompok: pakar dan non-pakar. Apabila Anda rajin menonton channel TV berita internasional seperti CNN, BBC, CNBC atau rajin membaca jurnal dan majalah internasional seperti TIME (www.time.com), NEWSWEEK (www.newsweek.com), Al Jazeera (www.aljazeera.net), The Guardian (www.guardian.co.uk), The Times
(www.times.co.uk), Internationl Herald Tribune (www.iht.com), dll, maka anda akan melihat siapa saja tokoh-tokoh yg mengisi di situ. Dari kalangan akademisi, biasanya yg muncul tulisannya atau wawancaranya adalah mereka yg sudah menulis buku. Di
CNN atau BBC umpamanya, di bawah gambar tokoh yg diwawancarai biasanya selalu ada keterangan tentang buku yg ditulisnya yg berkaitan dg topik wawancara.
Begitu juga dg kalangan akademisi yg mengisi kolom-kolom majalah internasionl. Bangga sekali saya rasanya ketika melihat tampang dan tulisan Gunawan Mohamad, mantan pemred majalah TEMPO, tampil di majalah bergengsi Amerika, TIME. Di akhir tulisannya ada keterangan singkat bahwa dia adalah penulis buku SIDELINES (kumpulan tulisannya di Tempo dalam kolom Catatan Pinggir).
Apa artinya semua ini? Jelas, seorang akademisi baru dianggap pakar yg kredibel dan patut didengar kata-katanya kalau dia sudah membuahkan karya tulis, terutama yg berbentuk buku. Baik itu berupa kumpulan tulisan pendek atau karya utuh. Tanpa itu, janganlah merasa bangga hanya karena telah berhasil menjadi dosen. Karena kredibilitas kedosenan/akademisi Anda masih dipertanyakan banyak orang.
Nah, apakah seorang akademisi yg tak memiliki karya tulis pantas dianggap pakar? Apakah gelar M.A. dan Ph.D belum cukup untuk menjadi akademisi pakar yg kredibel? Tentu saja bisa. Akan tetapi masalahnya adalah, pertama, siapakah yg tahu akan kepakaran anda bila tidak menulis? Kedua, bagaimana kita dapat mengklaim diri sebagai pakar apabila keilmuan kita belum teruji dan dikritisi selain oleh mahasiswa
sendiri yg umumnya akan berpikir dua kali untuk mengkritisi dosennya. Aturan tak tertulis dalam dunia kompetisi adalah semakin teruji kualitas seseorang di
“medan tempur”, maka akan semakin tinggi kualitas orang tsb.
Dalam lingkup nasional dan internasional, akademisi yg belum memiliki karya tulis (published articles, atau buku), belum dianggap pakar, walaupun dia sudah bergelar M.A. atau Ph.D. Sebaliknya, walaupun baru lulus S1 tapi kalau sudah menulis buku bisa dianggap akademisi pakar. Gunawan Mohamad adalah salah satu contoh.
Sumber: www.fatihsyuhud.com
Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online
- Alamat Email Media Massa Cetak Indonesia
- Bagaimana Memulai Menulis?
- Meresapi Gaya Orang Menulis
- Membina Hubungan dengan Media
- Basis dan Topik Tulisan
- Honor Tulisan dan Biodata Penulis
- Menulis Surat Pembaca
- Menulis Artikel Bahasa Inggris
- Nulis Buku, Pak Dosen!
- Aku Tak Bakat Menulis
Tips Menulis di Blog
-
Menu Utama
-
Sponsor
Blogger Indonesia A. Fatih Syuhud- AdSense for Feeds has Begun
- Google faces defamation lawsuit in India
- Western Union AdSense to More Countries
- What Happen with Jackbook.com?
- Beijing 2008 Olympic Games
- Wordpress 2.6 Gravatar in Brian Threaded Comment
- 20 US Dollar Referral
- Two Indonesian Ministers Named in Corruption Case
- A script on this page is causing IE to run slowly
- Internet Explorer cannot display the webpage
-
Artikel Penting
-
Tulisan Terakhir
- Cara Pasang Foto di Komentar
- Wanita ber-Jilbab
- Alfred B. Nobel
- Lomba Buat Blog Sekolah Tingkat Nasional
- Cara Promosi Blog
- Wanita Karir
- Daftar Nama DPR Penerima Dana Bank Indonesia
- Snap Shot Disable Saja!
- Rumah Sakit di Malang
- Transkrip Rekaman Pembicaraan Artalyta - Urip dari Sel Tahanan
- Pengumuman Seleksi Beasiswa Mesir 2008 2009
- Transkrip Rekaman Al Amin Azirwan (2)
- Drop-down Blogroll
- Rekaman Pembicaraan Al Amin dan Azirwan
- Wanita Pintar
-
Top Posts
-
Meta
-
Komentar Terakhir
-
Track
-
Budaya ngeblog adalah budaya baca dan menulis dalam skala massal. Sebuah budaya yang dilakukan bangsa-bangsa maju dan civilized.
Indonesia akan tetap berkutat dalam kemunduran kalau masih stagnan pada budaya lisan dan enggan mereformasi diri.
Setiap Blogger Indonesia "berkewajiban" untuk mengajak rekan-rekannya ngeblog--dengan bahasa Inggris atau Indonesia -- untuk sama-sama menuju tradisi baru insan modern.
Email: fatihsyuhud-at-gmail-dot-com -
Baca Tulisan Terbaru via Email
-
Tukar Link dg Blogger Indonesia
#1 Top Ten Blogger Indonesia versi Majalah Tempo
Copy code below, insert into your blog :)
<a href="http://fatihsyuhud.com/" target="_blank"> <img src="http://fatihsyuhud.googlepages.com/blog-indonesia.gif" alt="Blogger Indonesia"> </a>
Sebarkan Budaya Ngeblog!
Copy kode di bawah, letakkan di Sidebar blog Anda :)
<a href="http://afatih.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="http://fatihsyuhud.googlepages.com/blog-tutorial.gif" border="0" alt="Cara Membuat Blog"> </a> -
Feed Readers
Tag
ahmadiyah ahmadiyya artalyta suryani beasiswa beasiswa luar negeri beasiswa s1 beasiswa s2 blbi blogcatalog blogger blog gratis blogspot buku cara buat blog cara menulis cara ngeblog gai indonesia jai Kepribadian korupsi koruptor lowongan kerja membaca menulis narkoba pasang foto perempuan promosi blog pull-down read more s2 stan tips menulis artikel transkrip tutorial blog Tutorial Blogger tutorial wordpress wanita wanita cantik wanita jelek wanita modern wanita muslimah widget wordpress-
Social Networks
-
Money Maker
-
Global Contribution
-
Iklan
-
Blog Stats
- 827,299 hits
-
Komentar Sampah
















Agustus 13, 2006 at 10:59 am
Articles bagus…
Untuk jenis cerita bersambung (cersil), apa baiknya dikirim semua (ratusan halaman) atau per 700-1000 kata?
thanks
Agustus 22, 2006 at 2:36 am
biasanya dikirim semuanya secara utuh.
Mario
September 26, 2007 at 4:10 am
Setuju sekali nih, dosen perlu sekali nulis kalau tidak ya sekedar penghias kampus saja, tapi terkadang terbentur masalah teknis dan publikasi, masalah penghargaan akademis dan termasuk sulit sekali mendapat dana penelitian, kapasitas dosen itu sendiri plus negeri kita khan belum ada garansi jaminan bagi maha guru, bahasa kitanya malas dengan kondisi sosial seperti ini serta penerbit hanya mencari dosen pakar saja, lalu gimana dosen yunior yang kurang terkenal ada gak penerbit yang beresiko mau menerbitkan?
ahmad kurnia
http://akur-stbajia.blogspot.com
Nopember 26, 2007 at 6:48 pm
betul! setuju!
Desember 18, 2007 at 2:36 pm
sangat setuju. tapi kebanyakan dosen enggan menulis, bahkan secuilpun tidak pernah mungkin karena tiadanya penghargaan masyarakat atas hasil karya mereka di pasaran.
Januari 17, 2008 at 1:45 am
Saya juga berpikir kearah itu…dosen kita miskin karya…
Januari 18, 2008 at 7:42 am
Aswrwb,
Beri Semangat saya untuk menulis ya…… terimaksih atas blognya yang berisi email redaksi. saya lagi coba nulis untuk koran. saya ada di http://www.halalsehat.com , Insya Allah saran anda untuk menulis buku juga sedang kami lakukan
Wswrwb
Februari 7, 2008 at 11:31 am
mari menulis, banyak yang bisa di tulis…ya kan pak ..”heheheh cari pembelaan”
Februari 8, 2008 at 10:01 am
yup, betul
Februari 8, 2008 at 10:03 am
betul juga
Maret 17, 2008 at 5:56 am
KOK SEMUA YG ADA DI BLOG INI KEREN2 YA? BEDA SAMA BLOG SAYA YG CUMA SPT DIARY, HE2. ANYWAY, I HOPE I CAN MAKE A GOOD BOOK ONE DAY… AMIEN!!!
KEEP UP DA GUD WORK!!!
SALUT.
April 10, 2008 at 5:56 am
Ass. wr. Wb.
Saya setuju dengan pendapat pak Fatih. Sebagai tanda persetujan saya, saat ini naskah buku saya tentang “Good corporate Governance /GCG” dalam proses terbit. Naskah buku tsb merupakan kumpulan artikel / tulisan saya yang pernah dimuat di mediamassa. Mudah2an segera terbit. Siapa menyusul?
wassalam.
Mei 20, 2008 at 10:12 am
Alhamdulilah, saya sudah menulis buku. Saya mengajar di UI dan Interstudi. Mudah-mudahan akan banyak buku yang saya telurkan. Untuk kebaikan generasi mendatang!