jump to navigation

NU dan Gawagis Mei 5, 2005

Posted by Blogger Indonesia in Artikel Opini, Blog Indonesia, Blogger Indonesia, Fatih Syuhud, Indonesian Blogger, Refleksi.
Tags: , , , ,
trackback

Oleh A. Fatih Syuhud

www.fatihsyuhud.com

saya cukup berbesar hati melihat perkembangan intelektual rekan-rekan muda NU yg sangat dinamis akhir-akhir ini. To be honest Muhammadiyah legged far behind in this regard. Dimulai dg munculnya pemikir muda Ulil Abshar Abdalla yg dalam setiap tulisannya di media sering mengatas namakan Lakpesdam NU dibanding sebagai pelopor Islib, memberi motivasi besar bagi kalangan intelektual muda yg
lain untuk mengikuti jejaknya. Pengaruh Ulil tidak hanya meinginspirasi kalangan intelektual NU dari kalangan IAIN, tapi juga - dan ini yg penting - dari kalangan Al-Azhar Cairo yg biasanya cenderung konservatif. Momentum ini tidak hanya perlu dipelihara tapi juga harus terus dikembang biakkan sebagai cikal bakal dari Islam Indonesia yg pluralis dan menyejukkan bagi segenap komponen bangsa. Khususnya mengingat realitas bahwa mayoritas muslim di pedesaan berada di bawah bendera NU, terutama di Jawa.

***

Sebagaimana dimaklumi bersama masyarakat NU mayoritas berada di pedesaan dan mereka umumnya berada di bawah “kekuasaan” para kyai pemilik pesantren yg relatif independen dalam struktur organisasi. Pesantren dg demikian merupakan “kerajaan-kerajaan” kecil yg pengaruhnya terhadap warga sekitar, tidak jarang, lebih besar dari CEO PBNU itu sendiri. Di samping Kyai sebagai “Raja” di pesantren-nya, terdapat heir-to-the-throne (putra mahkota) yaitu putra kyai, yg di jawa timur dan jawa tengah dipanggil Agus/Gus (jamak: gawagis), di Madura Lora (jamak: lawari), sedang di jawa barat Akang (jamak: kawangi [?])

Berjalannya wacana intelektual NU dalam bidang “islam plural” yg sedang berjalan dinamis saat ini saya lihat masih terbatas dalam tataran puncak (PBNU), tapi belum merambah pada kalangan pesantren2 yg nota-bene justru sebagai the real power, back bone atas eksistensi kebesaran NU itu sendiri. Berdasarkan kunjungan saya ke berbagai pesantren saya mengambil kesimpulan bahwa wacana2 yg berjalan di milis milik NU-pun saya lihat masih lebih banyak diikuti oleh kalangan santri2 non-gawagis. Para gawagis sebagai calon pemegang tampuk kepemimpinan pesantren -umumnya- masih belum menampakkan perubahan dari sikap2 tradisionalnya: puas dg status quo, enggan perubahan dan tampak masih “menikmati” ke-agus-annya (to say the least). Ini artinya, hasil dari wacana2 bermutu dari kalangan muda NU ini tidak akan pernah sampai dan mempengaruhi kalangan nahdliyyin di pedesaan, karena pintu gerbang satu-satunya menuju ke sana, yaitu para gawagis,tidak/belum terbuka.
***
Karena itu betapa penting dan pivotal-nya peran para gawagis di tubuh NU sebagai penyampai pesan pada kalangan nahdliyyin pedesaan, maka diperlukan langkah2 untuk “membawa” mereka seirama dg lokomotip NU. Langkah2nya tentu saja kalangan puncak nahdliyyin lebih tahu.

salam,

Komentar artikel di atas:

From: “desa ranjani”
Date: Sun Mar 23, 2003 10:22 am
Subject: Re: [kmnu2000] NU dan GAWAGIS

sebenarnya mereka udah nimblung di milis. bahkan milis
ini. sebagaimana ciri khas NU yang aku ketahui, mereka
terutama anak sang raja tak kan mau identitas mereka
diketahui. mereka lebih suka dikenal sbg orang biasa.
maklumlah perkembangan pemikiran pemuda NU sekarang ini
cenderung liberal.

From: mohammad yusuf
Date: Sun Mar 30, 2003 4:37 pm
Subject: Re: [kmnu2000] re: NU dan GAWAGIS

assalamualaikum warohmatullohi wbarokatuh.

mas , mohon tanya, sampean ini percaya sama
teologinya Asari, apa tidak, jika percaya, hati-hati
nanti KUALAT. pertanyaan berikutnya, ada nggak mahasiswa asal
Blitar di India ???. Terima kasih atas jawabanya, jika kenal salam sama amri medan…
wasalam.
M.yusuf.A.S

From: fatihsyuhud.com
Date: Thu Mar 27, 2003 1:45 am
Subject: re: NU dan GAWAGIS

desa ranjani (mbak/mas?),
saya tahu ada sejumlah kecil gus dan lora di milis ini, dan mereka umumnya yg lagi studi di cairo. sementara kalangan mayoritas gus dan lora ini bahkan tidak mengenal yg namanya internet, apalagi mailing list. :) dan anda jgn heran kalau tidak sedikit dari mereka tidak baca koran! sehingga yg namanya ulil -pun mereka dengar dari kuping ke kuping!

tentu sebagian kecil lora/agus ini akan punya makna dalam konteks masa depan NU secara makro kalau mereka dapat memberi pengaruh dan pencerahan pada kalangan lora/agus lain yg masih illiterate dalam dunia wacana.

secara faktual, seperti yg saya singgung dalam tulisan singkat saya di milis ini, para lora/gus memiliki otonomi khusus di pesantren masing2 yg bahkan terkadang tidak ada hubungan vertikal sama sekali dg struktur NU, walaupun kalau ditanya mereka itu mengaku NU (baca: bukan muhammadiyah). hubungan antar lora/agus-pun hanya terbatas pada hubungan silaturrahmi, bukan hubungan interaksi yg saling mempengaruhi.

asal anda tahu saja, di kalangan pesantren di pedesaan, masih banyak yg menganggap main internet itu tabu bagi para santri (apalagi gus/lora) dg cap tabu ini itu artinya mereka yg suka main internet akan kurang dihargai alias “muru’ah” (dignity)-nya dipertanyakan. :)

salam,
fatih syuhud

Komentar»

No comments yet — be the first.