Makna Nasionalisme

Oleh fatihsyuhud.com

Tulisan refleksi saya yg berjudul “NDTV dan Wanita
Cantik” kebetulan juga saya posting ke Milis Nasional
PPI-India
.

Dan diluar dugaan banyak mendapat apresiasi terutama
dari kaum perempuan dan diforward ke berbagai milis
lain. Salah satu dari mereka yg memberi apresisasi dan
resensi via email pribadi adalah seorang redaktur
sebuah stasiun TV berita di Indonesia, seorang wanita
cantik, cerdas dan sangat dinamis. Setelah memotivasi
saya untuk terus berkarya, dia juga sedikit curhat
karena, katanya, tengah mengalami krisis nasionalisme.

Dia kecewa pada Indonesia. Pada pejabatnya yg tak
pernah puas korupsi setiap ada peluang. Pada sistem
birokrasi yg tak pernah berubah ruwetnya. Pada
kalangan aktivis yg awalnya tampak idealis tapi
setelah mendapat peluang korupsi juga tidak menolak.
Poin terakhir ini tentu saja merujuk pada kasus
Mulyana W. Kusuma, sekjen KPU yg terlibat skandal
suap. Dia juga sedih dg sikap pejabat negara yg penuh
retorika ala penatar P4, demen upacara dan berseragam
rapi, tapi suka lupa untuk merapikan borok-borok yg
dibungkus stelan jas perlente itu.

Emailnya yg sangat panjang dan berapi-api itu membuat
saya jadi ikutan terpaku dan merasakan kekecewaan dan
keputusasaannya. Kecewa dan putus asa timbul biasanya
karena “the unexpected result”. Adanya kesenjangan
antara realitas dan harapan. Ketika genderang
reformasi ditabuh dan Suharto jatuh, semua dipenuhi dg
harapan tinggi bahwa KKN di Indonesia akan habis dalam
waktu singkat; dan dg demikian ekonomi negara akan
membaik, dan kemakmuran rakyat secara merata bukan
lagi impian. Realitasnya, KKN tetap berjalan dg aman.
Pelakunya adalah pemain lama plus debutan baru yg juga
ingin menikmati enaknya ber-KKN ria.

Dua hari setelah itu baru saya jawab emailnya. Saya
katakan dg singkat bahwa kita tak perlu terlalu
kecewa. Kita lakukan saja apa yg bisa kita lakukan
untuk memperbaiki bangsa ini melalui keahlian yg kita
bisa. Bagi seorang presenter seperti dia, beritakan
kabar apa adanya dan jangan mudah tunduk pada tekanan
pejabat. Bagi intelektual, teruskan mengeritik dg
jujur dan niat baik. Bagi pejabat yg jujur, sebarkan
kejujuran itu pada koleganya; karena jujur sendirian
bagi pejabat sama dg inaction — kediaman pejabat
jujur pada korupsi yg dilakukan koleganya sama dg
ketidakjujuran dan dg demikian bisa dianggap ikut
bertanggung jawab pada KKN yg terjadi di depan
matanya.

Saya juga katakan padanya, bahwa apapun yg terjadi
kita tetap bangsa Indonesia. Status kita tetap tak
akan berubah walaupun seandainya kita merubah
kewarganegaraan. Our heart and mind are Indonesian.
Nobody will regard us as American or Australian
kendati kita pemegang paspor AS atau Australia
sekalipun. Dg demikian, nasionalisme dalam arti hakiki
identik dg jati diri asal dan karena itu tidak mudah
untuk berubah, suka atau tidak suka. Orang India warga
AS tetapi dijuluki “Indian-American”. Oleh karena itu,
jalan satu-satunya adalah memperbaiki apa yg bisa kita
perbaiki. Walaupun untuk sementara ini kita tidak
merasa bangga menjadi orang Indonesia, tapi justru di
saat seperti inilah sikap nasonalisme kita teruji.

Saya katakan juga bahwa suatu hari nanti–entah
kapan–akan tiba saatnya ketika kita akan bangga
menyebut diri “I am Indonesian”, karena saat itu,
Indonesia identik dg berbagai hal yg indah-indah:
negaranya yg indah dan permai, bangsanya yg ramah,
dewasa dan penuh toleran, pejabatnya yg bersih bukan
hanya bajunya, dan ekonomi yg lagi booming dan
dicemburui negara-negara Barat. Mungkinkah hal itu
terjadi? Saya yakin, walaupun agak ragu.***

Indonesia Blogs

About these ads

7 thoughts on “Makna Nasionalisme

  1. Ping-balik: Refleksi atau Renungan Ringan « __Ruang Hatiku

  2. sepakattt…!!!! Nasionalisme bukan hanya “berperang”, tapi bagaiamana memberi yang terbaik buat bangsa dan negara dengan cara masing2…^^

  3. Independent day….jelang 17 Agustus 2008, Makna nasionalisme memang perlu kita renungkan kembali…Jangan lupakan sejarah begitulah harapan Soekarno, agar kita masih tetap belajar untuk menjadi lebih baik

Silahkan berkomentar dengan santun

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s