Menulis di Media Cetak Indonesia (3)

Meresapi Gaya Orang Menulis

Di bagian sebelumnya disebutkan bahwa cara terbaik memulai menulis adalah LEARN THE HARD WAY. Langsung menulis menurut insting, tanpa belajar teori; bak cowok atau cewek yang rajin menulis diary kala sedang jatuh cinta. Dan langsung dikirim ke media.

Cara lain adalah dengan BANYAK MEMBACA TULISAN/ARTIKEL ORANG yang sudah dimuat. Resapi tutur bahasanya. Teliti cara pengungkapan idenya.

Umumnya tulisan apapun tak luput dari tiga unsur: pengantar, isi dan penutup/kesimpulan. Ketiga unsur ini tak pernah disebut tapi bisa dirasakan. Semakin banyak kita membaca tulisan orang, akan semakin mudah kita menyerap dan membedakan mana yang pengantar, isi dan kesimpulannya; dan semakin mudah kita ‘meneladani’ gaya dan cara ekspresinya.
Biasanya kita akan cenderung meniru gaya penulis tenar yang bentuk dan ide tulisannya paling sesuai dengan ide-ide kita. Rizqon, misalnya, yang cenderung terbawa gaya menulis Ulil Abshar-Abdalla, tokoh muda NU idolanya yang walaupun cuma lulus M.A. sudah sering memberikan general lectures di berbagai universitas beken Amerika seperti di Harvard Univ., Michigan Univ., dan lain-lain. Saat ini, Rizqon tampak sudah pindah meneladani gaya tulisan Saifuddin Zuhri, menteri agama RI era Sukarno yang produktif menulis. Anda bisa melihat gaya baru tulisan Rizqon Khamami ini dalam kumpulan tulisannya di situsnya: http://rizqonkham.blogspot.com

Sedangkan Zamakhsyari Jamil cenderung meniru gaya menulis tokoh pujaannya dari Riau, Tabrani Yunis, bekas tokoh Riau Merdeka, yang kolomnis tetap di koran Riau Pos. Tulisan-tulisan Tabrani Yunis yang slengekan dan tajam tampak mewarnai tulisan ustadz muda KBRI ini. Kumpulan tulisannya yang sudah dipublished maupun belum bisa Anda temui di situsnya http://e-tafakkur.blogspot.com

Saya sendiri, yang kata ayah saya “berotak lemah dan bodoh”, cenderung meniru gaya tulisan yang mudah dipaham orang, kendatipun saya tidak terfokus meniru satu gaya tertentu. Tulisan-tulisan Hamka, Amin Rais, Jalaluddin Rahmat sangat mudah dicerna otak saya yang lamban, dan mungkin sedikit banyak mempengaruhi gaya saya menulis.

Bagi Anda yang mulai teraspirasi dengan tulisan tokoh-tokoh terkenal nasional, silahkan berbagi pengalaman dengan menuliskannya di sini atau ke email saya. (bersambung…)

Sumber: www.fatihsyuhud.com

Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online

Tips Menulis di Blog


  1. ardi

    Tulisan seseorang bisa dilihat dari apa yang dia baca sehari-hari
    SAya berani bertaruh…{eh kok pake taruhan ya? :)} jika Anda sering baca harian Kompas setiap hari maka gaya tulisan anda tidak akan jauh berbeda. Sedikit features, nyeni, kaya istilah dan alur yang panjang dan mengalir deras.

    begitu juga jika Anda kebetulan berlangganan Jawa pos(indopos) maka gaya tulisan Anda tidak akan berbeda dengan pakem JPNN.
    sedikit njelimet, kaya data, mengajak beranalisa, dan Lugas.

    Masalahnya, saya bukan pelanggan dua harian terbesar di Indonesia tersebut. :)) jadi suka-suka aja deh:))

  2. Ersis WA

    Ya ya saya suka membaca tulisan orang … apa saja. Tapi, naga-naganya nagk terpengaruh. Sebab, saya menulis dengan ‘diri sendiri’, ‘gaya’ sendiri. Soal mudah dimengerti atau gampang dipahami, limet atau main-main, tidak termasuk yang saya hitung.

    Pokoke nulis, nulis, dan nulis. http://www.webersis.com. Bagimana menurut Sampeyan?

  3. novy

    aku terpengaruh gaya membaca cepat,..jadi , kadang tidak peduli dengan pengantar dan penutup, langsung cari isinya. Lah…kalo gaya membacanya seperti aku,..mana bisa aku menyelami gaya menulis orang,…he..he..he..

  4. Dwi Nofiyana

    Betul juga sih,tapi bagaimana caranya menjadi penulis secara instans. hehee.. ya.. walaupun semua itu butuh proses.tapi apakah ada proses yg sangat instans sehingga kita bisa mengembangkan budaya pikiran kita, agar semua itu tidak melalui proses yang panjang.salam dari kawan baru.

  5. aristorahadi

    Menulis, mirip orang jualan. Apa yang kita jual lewat tulisan, merupakan hasil kita belanja membaca. Makin banyak membaca, makin banyak yang bisa kita jual lewat tulisan. Lha kalo kita nggak banyak mbaca, ya nggak punya bahan yang bisa kita tulis. Kalopun memaksa nulis, ya hasilnya kayak tulisan saya ini.

  6. danummurik

    Sepakat bos, saya terinspirasi dari tulisan Amien Rais, Emha Ainun Nadjib dan Cak Nun.
    http://danummurik.wordpress.com/2008/02/18/membaca-kemudian-menulislah/

  7. Pepeng

    Menulis, lebih mirip orang menggambar… Mau diliat dari posisi duduknya, atopun cara megang alat tulis atopun alat gambar, dua-duanya jelas mirip banget. Jadi bisa disimpulkan, dengan banyak menggambar, kita bakal lebih mirip lagi dengan orang nulis!

    *tips ngaco, jangan ditiru*

  8. Rifki

    saya masih bingung, sebab ketika telah bisa dibuka situs pribad saya, namun yang muncul masih bahasa ingeris, tentang proteck lah, link ke website yang lain lah, sementara menu dan petunjuk yang digambarkan belum muncul di halaman saya. jadi please dibantu saya dalam membuat blok sendiri…..

  9. Lowongan Kerja

    Menulis itu menyenangkan loh mas… setidaknya kita bisa menyegarkan otak kita dengan informasi yang dulu pernah kita serap

  1. 1 Tips Menulis di Blog « Fibri Aryanto’s Weblog

    [...] Meresapi Gaya Orang Menulis [...]



Leave a Comment




  • Blog Stats

    • 827,225 hits
  • Komentar Sampah