jump to navigation

Mengkaji Ulang Kontraterorisme September 12, 2005

Posted by Blogger Indonesia in Artikel Opini, Harian Waspada.
trackback

WASPADA Online 24 Apr 04

Oleh A Fatih Syuhud *
Pengeboman di Madrid menjadi sebuah indikasi yang jelas betapa tidak tepatnya perang atas terorisme selama ini. Saya kira sah-sah saja kalau kita mengkritisi AS atas sikapnya dalam merancang perang dan mengimplementasikannya sebagai agenda personal seorang Presiden Amerika, yang dalam catatan sejarah dikenal selalu menanam benih perpecahan antar-agama. Akan tetapi komunitas internasional tidak kurang salahnya membiarkan terjadinya sebuah perang yang semakin lama semakin menjadi benturan budaya, untuk tidak mengatakan peradaban.

Lebih menyedihkan lagi, Presiden George W Bush – atas nama perang kontraterorisme – telah menumbuhkan pola pikir, khususnya di Barat, yang sangat berlebihan dengan janji menggantung para teroris di depan publik Pengadilan Amerika. Perang Presiden Bush telah membutakan publik Amerika dan pada tahap tertentu, publik dunia, untuk haus darah dan dahaga akan perang yang membuat ribuan warga sipil tak berdosa tewas dan mengobarkan kesumat jutaan yang lain untuk membalas dendam.
Kesalahan fatal dalam perang Amerika atas terorisme, yang diperdebatkan dan diseminarkan tiada henti oleh kalangan ikon intelektual akademisi dan think tank Barat dalam dua tahun terakhir, adalah bahwa ia dirancang bak operasi bedah oleh ahli bedah yang tak bervisi dengan hanya bermodal sebuah kapak. Kalangan pembuat kebijakan Amerika tidak mampu bersikap lebih arif dari nenek moyang mereka, yang atas nama menaklukkan Dunia Baru, menjagal jutaan suku Indian.

Kebijakan menjarah dan membunuh berlanjut sampai kini, walau dengan sofistikasi istilah. Jadi, para pembuat kebijakan AS melihat Al Qaidah di Afganistan dan selama dua tahun memuntahkan amunisi bernilai ratusan milyar dolar di kawasan pegunungan dan populasi sipil sampai mereka dapat menjatuhkan rejim Taliban dari Kabul dan memasang penguasa boneka.

Bom Madrid merupakan gelombang balas dendam kedua yang dilakukan oleh teroris anonim, yang berkonsolidasi dengan penuh kemarahan di seluruh dunia, termasuk Spanyol, bahkan ketika Amerika mulai menyerang Irak.

Kendati terlalu dini saat ini untuk membuat analisis komprehensif, temuan awal mengarah pada keterlibatan jaringan teror global, yang sering secara simplistik disebut Al Qaidah.

Salah seorang yang ditahan untuk diinterogasi dalam kasus peledakan Madrid adalah orang Maroko bernama Jamal Zougam, yang sudah berada dalam daftar pengawasan aparat keamanan setelah peledakan di Casablanca, Maroko, pada Mei 2003 yang menewaskan lebih dari 30 orang. Tidak banyak diketahui tentang Zougam kecuali bahwa dia dikenal oleh Imad Eddin Barakat Yarkas, alias Abu Dahdah, ketua jaringan Al Qaidah-nya Usamah bin Ladin di Eropa.

Besar kemungkinan Zougam adalah salah satu anggota Al Qaidah sel Madrid, yang masih eksis setelah sel pertama dibubarkan menyusul serangan 11 September dan penahanan Abu Dahdah karena menjadi salah satu otak tragedi itu.

Hubungan menarik lain yang sedang diteliti adalah adanya kemungkinan hubungan antara Al Qaidah dan ETA, kelompok separatis Spanyol.

Terdapat laporan intelijen bahwa anggota ETA pernah bertemu Bin Ladin dan kelompoknya di Brussel guna membahas kemungkinan aliansi antara kedua kelompok tetapi tidak begitu berhasil. Mohammad Atta, pilot bunuh diri yang memimpin serangan WTC, juga mencoba berhubungan dengan ETA ketika separatis Basque berencana untuk mengebom Piccaso Tower pada Natal 1999 yang dapat dilihat sebagai bagian dari rencana Pengeboman Millennium (Millennium Bombing) yang gagal yang juga direncanakan Al Qaidah.

Investigasi atas perjalanan Atta sepanjang Eropa dan Asia, sebelum 11 September, juga mengungkapkan bahwa sel Madrid memainkan peran kunci –secara organisasional – dalam pendanaan dan pemberian logistik serangan WTC. Sebagai contoh, Atta mengunjungi Spanyol dua kali – pertama pada 8 Juli 2001 ke Madrid untuk menemui kelompoknya. Atta sendiri masuk dalam sel Hamburg dengan Marwan al Shehhi dan Zia al Jarrah, dua pilot lain yang menabrakkan pesawat ke gedung WTC dan Pentagon. Atta kembali ke Spanyol pada 14 Juli tepatnya ke Tarragona untuk menemui seorang tahanan Aljazair, Nizar Trabelski, yang dikenal kemampuannya dalam memalsu dokumen perjalanan dan finansial; tanpa dia anggota Al Qaidah tidak akan dapat memiliki jaringan seluruh dunia.

Salah seorang yang sering dihubungi Atta adalah Abu Dahdah. Dahdah mengepalai sel Madrid dan merupakan penghubung finansial dan logistik jaringan Al Qaidah. Dahdah berhubungan dengan Said Bahaji, pakar komputer dan manajer logistik jaringan ini, yang terakhir terlihat dalam sebuah hotel di Karachi sehari setelah 11 September 2001, sebelum ia tinggal landas menuju destinasi yang tak terlacak dengan penerbangan Turkish Airlines setelah mengirim email perpisahan pada istrinya di Jerman. Dalam buku diari Bahaji, yang ditemukan kemudian, tercantum nama Dahdah.

Hubungan Dahdah tidak terbatas ke Eropa. Ia juga biasa ke Indonesia di mana ia bekerja sama dengan Jamaah Islamiah untuk melatih teroris. Dahdah tidak hanya seorang manajer logistik; ia juga pencari dana, perekrut, pelatih anggota baru di samping penghubung yang efisien.

Agen penghubung Dahdah di Indonesia adalah Parlin Siregar yang dikirim ke Indonesia pada akhir 2000 guna membangun kamp pelatihan untuk teroris di Sulawesi. Salah satu pembantu dekat Dahdah adalah Yusef Galan, mantan anggota ETA dan anggota penting dari Sel Madrid.

Menurut pakar intelijen Prancis Jean Charles Brisad, yang memberi briefing pada Dewan Keamanan PBB soal Al Qaidah, Galan dan Parlin sering bertemu baik di Spanyol maupun di Indonesia dan berencana membentuk kamp pelatihan militan di Indonesia. Terdapat bukti adanya kontak antara Parlin dengan anggota Al Qaidah senior yang berbasis di Kuwait, Umar al-Faruq dan sedikitnya dua warga Australia, Sheikh Mohammad Omran dan Bilal Khazal asal Sydney. Salah satu dari kolega Dahdah adalah seorang klerik yang tinggal di London, Abu Qatada.

Dahdah bertemu Qatada sedikitnya 20 kali sebelum serangan 11 September. Qatada mendapat perlindungan politik dari Inggris pada 1993 setelah pengadilan Jordan menghukumnya seumur hidup in absentia atas keterlibatannya dalam serial peledakan.

Dahdah mengirim sejumlah besar uang secara teratur pada klerik London itu. Seminggu setelah 11 September, aparat Inggris menemukan bahwa sang klerik, atas nama dana sumbangan, mengeluarkan tiga lembar cek bernilai total AS00. Dalam rekeningnya di Royal Bank of Scotland, menurut investigator, pernah ditemukan uang senilai AS$ 180.000.

Uraian singkat tentang jaringan kelompok teroris dan simpatisannya yang begitu meluas di atas adalah untuk menekankan poin bahwa jaringan ini eksis dan masih akan berlanjut. Ini terjadi setelah dua tahun diberlakukannya perang atas terorisme. Bahkan tidak hanya sekedar eksis, lebih dari itu akan tumbuh subur kecuali apabila AS dan aliansinya seperti Spanyol, Inggris dan Australia segera mengkaji ulang kebijakan kontraterorisme-nya.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India.

Komentar»

No comments yet — be the first.