Hidup Sederhana sebagai Pilihan
Oleh A. Fatih Syuhud
Website: www.fatihsyuhud.com

Wilfried Hoffman,[1] Duta Besar (Dubes) Jerman antara 1987-1994 di dua negara Arab, Aljazair dan Maroko, bercerita bahwa istrinya merasa “malu” setiap kali menghadiri acara pesta kalangan diplomat atau para pejabat di kedua negara itu. Pasalnya, istri Pak Hoffman tidak memiliki perhiasan dan baju yang gemerlap, mahal dan mewah seperti yang biasa dikenakan para ibu-ibu pejabat negara-negara Arab. Kisah kecil yang dituturkan Wilfried Hoffman—yang juga Diektur Informasi NATO yang berpusat di Brussels– di atas menggambarkan fenomena yang terasa ironis dan paradoks: seorang Dubes atau diplomat dari negara maju dan kaya yang hidup sederhana, dan di sisi lain, para Dubes/diplomat dari negara miskin yg hidup mewah dan glamor. Hidup mewah di kalangan pejabat, memang tidak hanya terwakili oleh negara-negara Arab saja, tetapi hampir bisa dilihat menjadi fenomena umum di seluruh negara-negara berkembang yang miskin, tak terkecuali Indonesia. Kenapa ini terjadi? Ada beberapa faktor yg memotivasi hal ini: Pertama, faktor mental kuli. Negara-negara berkembang rata-rata baru 5 – 6 dekade menikmati kemerdekaan dari penjajah bule (plus Jepang bagi Indonesia). Mental dari anak jajahan yang paling kental adalah perasaan minder (inferiority complex) yang ekstrim yg untuk menutupinya adalah dengan cara hidup mewah dan berkesan kaya raya seperti gaya para penjajah itu; tak peduli apakah kemewahan itu didapat dari pendapatan yang halal atau haram.

Kedua, mismanajemen negara. Karena baru bisa mendapat kesempatan mengatur negara sendiri, maka kemampuan mengorganisir juga kurang. Keluar masuk uang negara juga kurang terdeteksi. Dan KKN juga menjadi hal yang dianggap wajar dan malah terkadang “membanggakan”. Sama dengan pelacur yang “bangga” dengan profesinya karena. telah berhasil mengangkat taraf hidup layak keluarganya.

Fenomena ini semakin diperparah dengan ketidakkritisan masyarakat pada praktik korupsi yang dilakukan pejabat. Sering kita melihat seorang pejabat yang dielu-elukan tokoh masyarakat tertentu (Kyai atau pemilik yayasan pendidikan) karena telah membantu pembangunan gedung-gedung institusi miliknya, tanpa mencari tahu lebih dahulu dari mana uang bantuan itu berasal. Hal ini selain akan mempermalukan sang tokoh masyarakat itu sendiri, juga—yang lebih parah—akan semakin memotivasi sang koruptor untuk melakukan praktik KKN-nya sudah “direstui” walaupun secara tidak langsung. Ketiga, rata-rata para calon pejabat, termasuk kita-kita para generasi muda ini, berasal dari keluarga miskin. Hidup miskin itu tidak enak, dan jarang orang yang bisa “menikmati”-nya. Ciri khas orang miskin umumnya selalu bermimpi jadi kaya dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Karena itu, ketika mendapat kesempatan menjabat posisi basah, kita jadi ibarat singa lapar. Lapar memenuhi mimpi-mimpi waktu muda dengan segala cara. Seperti ketika kita berpuasa dan makan sepuas-puasnya ketika waktu berbuka sudah tiba. Sekarang mari kita kembali pada Dubes Wilfred Hoffman. Dia dubes negara maju, gajinya pasti besar.[2] Tapi kenapa dia hidup sederhana? Apakah dia tidak punya duit untuk menyenangkan istrinya? Atau apakah dia terlalu pelit untuk hidup mewah dan glamor? Jawabnya jelas, tidak. Dia hidup sederhana bukan karena tidak punya uang untuk hidup mewah. Tapi karena ia memang “sengaja memilih untuk hidup sederhana”. Jadi hidup sederhana sebagai pilihan yg membanggakan, bukan sebagai keterpaksaan. Dan mereka bangga dg kesederhanaan itu! Banyak kalangan orang-orang di negara maju (pejabat maupun pebisnis) yg memilih hidup sederhana, karena. mereka merasa hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat: kelebihan uang mereka disalurkan untuk yayasan-yayasan anak-anak yatim, mengambil anak asuh, yayasan pemberi beasiswa pada mahasiswa internasional, untuk orang-orang miskin di negara-negara berkembang, untuk berbagai penelitian keilmuan, dan lain-lain..

Salah satu contohnya yang paling monumental adalah Albert Nobel. Inventor (penemu) dan pemilik lebih dari 300 hak paten berbagai penemuan teknologi baru. Dia milyarder yang hidup sederhana dan memiliki komitmen tinggi terhadap keilmuan dan kemanusiaan. Ketika meninggal, tak sepeserpun hartanya dia wariskan ke anaknya. Sebaliknya, ia tumpahkan seluruh harta kekayaannya untuk Nobel Foundation, pemberi hadiah Nobel untuk para ilmuwan dunia yang berhasil meraih prestasi gemilang di bidang masing-masing. Albert Nobel sudah meninggal puluhan tahun lalu, tapi namanya selalu dikenang di seluruh dunia sampai sekarang. Kuncinya, karena ia memilih hidup sederhana, kendati ia lebih dari mampu untuk membeli kemewahan apapun yang menjadi impian banyak orang.

Menyebut pengusaha kaya raya yang hidup sederhana mengharuskan saya untuk sedikit membeberkan profil seorang milyarder Muslim asal India bernama Azim Premji.[3] Pengusaha teknologi informasi ini selama tiga tahun berturut-turut menempati posisi nomor 30 sebagai pengusaha terkaya dunia versi majalah bisnis Amerika, Forbes. Hartanya menurut laporan majalah Forbes edisi 2007 diperkirakan sebanyak U$D 30 milyar atau sekitar Rp. 300 milyar. Ini hanya kekayaan pribadinya, tidak termasuk omset perusahaan.

Apabila simbol kemewahan biasanya ditandai dengan rumah mewah berharga milyaran, mobil Mercedes Benz (Mercy), BMW, atau Lexus keluaran terbaru (kalau perlu memiliki pesawat jet pribadi seperti sebagian pengusaha Indonesia) dan baju merk terkenal, maka kita akan terkejut ketika bertemu Azim Premji. Mobil satu-satunya “hanya” sedan Ford Escort yang di India berharga tidak sampai 100 juta rupiah, mengenakan baju tanpa merk yang dijahit penjahit biasa dan rumah yang tidak layak masuk koran.

Azim Premji tidak hidup di zaman dahulu kala. Dia masih segar bugar sampai saat ini di usia 65-an. Azim juga bukan seorang sufi. Dia pebisnis ulung yang dihormati banyak pengusaha kelas dunia lain karena kejujuran dan integritas pribadinya.

Apa yang membuat Azim Premji “kuat” untuk tidak hidup mewah di tengah bergelimangnya harta yang melimpah adalah pemahamannya yang mendalam akan esensi atau hakikat hidup di dunia yaitu kerja keras[4], disiplin dan kepedulian untuk membantu sesama yang membutuhkan.[5] Harta yang banyak bagi dia hanyalah buah dari kerja kerasnya; bukan tujuan itu sendiri.Dengan demikian, kemewahan atau hidup bersenang-senang tidak ada dalam agenda hidupnya. Selain itu, hidup mewah adalah identik dengan ketamakan yang sangat berlawanan dengan prinsip kepedulian sosial itu sendiri.[6]

Tulisan ini saya persembahkan buat siapa saja yang membaca tulisan ini termasuk di dalamnya kalangan ulama (kyai), birokrat, pengusaha dan generasi muda seperti saya yang mungkin pada sepuluh tahun mendatang sudah menduduki berbagai posisi di pemerintahan atau menjadi pebisnis besar. Kalau kita beruntung secara materi, pilihlah hidup sederhana dan bangga dg kesederhanaan itu. Kalau kita kurang beruntung, mari sama-sama bekerja keras untuk menuju hidup yang lebih baik secara materi dan pola pikir (mindset).

Jadi, tulisan saya di atas hendaknya tidak disalahpahami secara sempit. Saya bukan mengajak Anda untuk hidup miskin seperti anjuran sebagian tokoh sufi. Sebaliknya, saya malah mengajak Anda untuk berusaha sekeras mungkin untuk menjadi kaya (dg cara yg halal tentunya), tapi tetap menjaga dan memelihara gaya hidup sederhana, bermartabat dan peduli pada yg membutuhkan bantuan kita.[]

——————-
CATATAN KAKI:

[1] Setelah membaca dan meneliti dengan seksama kandungan Al Quran, Hoffman dan istrinya akhirnya masuk Islam pada tahun 1980 dan berganti nama menjadi Murad Wilfried Hoffman. Sampai saat ini Hoffman telah menulis 10 buku berkaitan dengan Islam, yang terkenal antara lain Journey to Islam: Diary of a German Diplomat dan Religion on the Rise – Islam in the Third Millennium..

[2] Sekedar perbandingan, gaji diplomat Indonesia saja berkisar antara USD 3,000 – 8,000 atau sekitar Rp. 30 juta – 80 juta/bulan (tergantung senioritas jabatan).

[3] Profil Azim Premji lebih detail lihat di website saya www.fatihsyuhud.com

[4] Dalam setiap kesempatan saya selalu tekankan bahwa esensi ayat dalam Al Quran surah Al Jum’ah 62:9-10 adalah perintah bekerja keras dan tidak bermalas-malasan yang kalau dilaksanakan dengan benar akan menjadikan umat Islam sebagai umat yang paling rajin bekerja. Dalam agama lain seperti Yahudi dan Kristen, masing-masing harus libur pada hari besar mereka yaitu hari Sabtu dan Minggu. Dalam Islam, bahkan hari Jum’at pun umat Islam masih diperintahkan untuk bekerja, kendatipun di situ diingatkan untuk tidak melupakan salat Jum’at. Konsekuensi dari kerja keras adalah keberhasilan secara materi. Dengan kata lain, apabila ini dilakukan, umat Islam akan menjadi umat yang secara umum paling berhasil dari sisi materi. Apabila fakta menunjukkan sebaliknya, maka itu artinya kita belum memenuhi standar kerja keras seperti yang digariskan Islam.

[5] Salat lima waktu dan berzakat yang menjadi pilar pokok (rukun) Islam (QS Maryam 19: 31) adalah esensi pelajaran disiplin di satu sisi dan kerja kerjas serta kepedulian sosial di sisi lain yang kalau dilaksanakan dengan penuh komitmen akan menjadikan seorang Muslim sebagai individu ideal yang membawa rahmat di berbagai bidang kehidupan (QS Al Anbiya` 21:107).

[6] QS Al Muddatsir 74:12-16).


  1. mer

    tulisan menarik, Fatih. stuju banget. tapi ada satu catatan, kebanyakan senior2 ku yg sekarang jadi pejabat2 muda (dan bakalan jadi pejabat besar) bukan berasal dari keluarga miskin. teman2 yg bisa masuk lingkaran elit ternyata memang berasal dari kelas menengah ke atas. kayaknya skrg ini sudah semakin susah bagi org yg “outsider” untuk masuk lingkaran elit kelompok pejabat & birokrat. ada sih yg berhasil, tapi dah jarang deh.

  2. Rich people aren’t measured through expensive car they drive, or anything else that show their luxuries; but how much money have sent to people who need it.

    I agree with mer, that now there is kind of gap between high class economy and medium-low class economy, since people from high class economy create psychology boundaries among themselves from people who are coming from medium-low class economy.

  3. mas fatih, kalo orang kaya walau gak pake perhiasan gak usah takut dibilang miskin. nah kalo orang miskin pake begituan supaya menepis asumsi mereka miskin jadi musti nunjukin, mereka gak miskin kok, cukup cerdas dan berharta untuk jadi fashion victims..

  4. hugy78

    aku mendukung banget tulisan nya, bagus tuh hidup sederhana menata kehidupan yang lebih baik terutama dihari tua. Ingat hidup dihari tua setelah kita tak bekerja dan terhentinya penghasilan, kita bisa memanfaatkan tabungan kita dan menikmati hidup dihari tua tanpa dikejar-kejar permasalahan diwaktu kita masih aktif bekerja untuk mendapatkan harta dgn cara-cara yng curang (korupsi dll :) ).

  5. rasid

    Cerita spt istri Dubes Jerman tsb sangat langka di Indonesia. Padahal jika banyak istri-istri pejabat hidup sederhana pasti korupsi dapat diminimalisir.

  6. waw masya Allah, hidup sederhana memang hidup yang luar biasa betapa kesederhanaan telah menjadikan Rasulullah dan orang-orang yang hidup di masanya masih senantiasa hidup dalam kehidupan kita hari ini.

  7. yudhaw

    iyya mas, saya sbg pns depkeu juga merasakan demikian.Makanya saya mau belajar membuat blog dan belajar menulis agar bisa menularkan info,membuat opini/review atas kebijakan pemerintah demi kebaikan bersama.
    Saya sudah sering dimutasikan ke berbagaidaerah/kabupaten. Sekarang jamannya otonomi daerah,bukannya masyarakat semakin sejahtera tetapi malah semakin terjepit,malah pejabat2 di daerah yang semakin gila krn tidak ada kontrol dari pemerintah pusat
    .Sebetulnya banyak yang mau saya ceritakan tetapi nunggu nanti aja kalo blognya udah syiiip,maju terus mas..TYVM (baru tahu tadi)

  8. Yon Paulanka

    Simplicity live? Setuju. Tapi, kaya dengan ilmu seperti kamu! Kamu boleh “pamerin” ilmu kamu – tepatya syi’ar- kamu di blog ini. Insya’allah Oom akan rajin kunjungi. Kalau pamer harta sudah banyak orang melakukannya, sampai tidak logis lagi. Misalnya, tetangga saya, PNS yang baru ber umur 42 tahun bisa beli rumah rumah seharga tiga milyar? Semua orang tahu berapa gaji PNS. Oke! Om doain kamu segera jadi salah satu pemimin di negeri ini!

  9. Penasehat Dewa Cinta

    gimana sich biar bisa hidup sederhana tapi masa depan bahagia

  10. Diana Ari Susanti

    Aku senang bgt bisa baca semua info di Blog Om ini, bagus bgt dan semua infonya bisa menggugah isi otak kaum muda tuk “berfikir”. Smoga barokah ya Om, amiin.

  11. eamng bagus tulisannya mas fatih, keep ur spirit go on..

  12. gus

    hal yang paling tidak sederhana adalah memtutuskan untuk mengambil cara hdup sederhana, sementara disekitarnya kemewahan adalah sebuah prestasi. ayo kita semangati petinggi kita yg memilih kesederhanaan sbg jalan hidup…
    regards from semarang

  13. bintang di langit

    tulisan ini memang bagus..bagus sekali.. tetapi sebaiknya nggak usah dicampurbaurkan dengan perbandingan-perbandingan agama
    Karena ternyata sampai saat ini.. negara-negara yang menekankan fanatisme agama justru terkebelakang dalam ekonomi… Bandingkan aja Indonesia dengan Malaisya… Indonesia dengan Singapura yang kecil… Cobalah penulis menulis tanpa harus ada konotasi Islamisasi biar lebih…ok… Salt untuk usulan pola hidup sederhana

  14. salut untuk pola hidup sederhana, rasanya memang hidup sederhana ngga ngaruh agama apa deh, memang dari dalam diri manusiannya sendiri kok :) salut untuk hidup sederhana.

  15. memang sederhana atau tidak nda bergantung materi yang dipunyai tapi keinginan orangnya sendiri, salut pak fatih atas postingannya, semoga memberi banyak inspirasi

  16. hidup sederhana bisa bahagia juga kok karena kebahagiaan kan pilihan kita, bukan karena kondisi kita

  17. yang hidup sederhana tidak takut untuk hidup mewah tapi yang hidup mewah PASTI takut untuk hidup sederhana :)

  18. oten

    Hidup miskin atau kaya pada prinsipnya hampir sama, tergantung dari penafsiran orang yang menghadapinya. ada orang yang hidup takut miskin, tetapi ada juga orang yang hidup puas dengan kemiskinan nya. kenapa demikian; bisa kita lihat dalam kehidupan di lingkungan maupun diluar lingkungan kita,dalam sehari hari nya. bahwa yang di maksud dengan orang yang takut dengan kemiskinan itu diantaranya mempunyai ciri ciri :1.dalam bekerja lebih giat,seolah olah tidak kenal waktu dan hemat. dalam arti pandai dalam ngatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup nya.
    2.korupsi.mencuri. merampok.dll
    sekarang kebalikan nya dari orang yang takut dengan kemiskinan adalah orang yang merasa puas walaupun hidup ada dalam kemis kinan. kita ambil saja contoh yang dekat, ada diantara nya orang yang hidup serba di jamin, di bantu, tetapi selalu dihabisi tanpa sisa karena ada anggapan bahwa besokpun ada rejeki. ahirnna dia malas malasan,boros. seolah olah mereka udah merasa puas hidup dengan kemiskinan nya.

  19. tricomnet

    masfati hebat…. saya adala penggemar dari mas…

  20. yuna

    wih, sungguh pemikiran yang hebat..
    thx yup atas inspirasinya….. never give up!!

  21. Abdul Cholik

    -jaman sekarang memng agak sulit mencari orang yang mau hidup sederhana kecuali memang orang itu tidak punya apa2.
    -Pak Harto pernah menerbitkan petunjuk tentang “Pola Hidup Sederhana”. ternyata kurang ampuh karena Menterinya gak ada yang menjadi contoh untuk hidup sederhana.
    -Di India,pejabatnya banyak yang memakai mobil buatan dalam negeri. Lha kita……pejabat naik mobil Timr saja gak ada yang mau.
    -thanks artikelnya.

    salam
    Abdul Cholik
    http://mascholik.wordpress.com

  22. sarat makna serta penuh gizi sehingga pembaca termotivasi untuk berupaya meneladani tokoh yang ada di artikel ini.ok selamat

  23. hekmatiyar

    tulisan yg cukup menggugah Mas..
    bs bahas ttg konsep Fantashiiru fil ardh.. mksh

  1. 1 Dari Blog Sebelah : Refleksi Tahun Baru 2008 « Greensand’s Weblog

    [...] Hidup Sederhana Sebagai Pilihan [...]

  2. 2 Top Indonesian Blogger » Blog Archive » Refleksi Pribadi

    [...] Hidup Sederhana Sebagai Pilihan [...]

  3. 3 IMB «

    [...] Hidup Sederhana Sebagai Pilihan [...]




Leave a Comment