Gus Dur seperti yang kita kenal adalah tokoh kontroversial di mata sebagian orang dan sangat populer di mata orang lain.
Banyak kata-kata dan pernyataannya yg membuat kalangan NU (para kyai dan tradisional NU) yg marah. Namun, di sisi lain, kyai yg sama dalam waktu tidak lama berubah
menjadi teman baik Gus Dur.
Apa rahasianya? Jawabnya: silaturrahmi. Gus Dur
terkenal dg aktivitas silaturrahmi-nya yg luar biasa;
apalagi mengingat kondisi fisiknya yg sebenarnya lebih
patut untuk banyak istirahat. Karena itu tidak heran
kalau semasa menjadi presiden, dia termasuk salah satu
presiden yg mencapai rekor paling banyak perjalanan
silaturrahmi-nya ke luar negeri termasuk ke India.
“Silaturrahmi”-nya ke sejumlah negara Eropa dan
Amerika telah membuat posisi diplomatik RI cukup
dimengerti dunia luar dalam persoalan konflik dalam
negeri waktu itu, seperti soal Aceh (GAM) dan Ambon.
Intensitas silaturrahmi-nya ternyata tidak berkurang
walaupun saat ini sudah buta total dan kondisi
kesehatan fisiknya setelah mengalami stroke menurun
drastis. Terbukti dia sempat beberapa kali datang ke
New Delhi setelah tak lagi jadi presiden. Belum
terhitung kunjungannya ke negara-negara lain.
Silaturrahmi ternyata tak hanya manjur sebagai obat
penambal persahabatan yg retak; semakin memperkuat
hubungan antar-individu yg sudah baik; mengurangi
kesalahpahaman antar-kelompok, antar-suku dan
antar-pemeluk agama; lebih dari itu, ia juga menjadi
cara efektif dan sangat mujarab untuk menambah wawasan
dan “wisdom”: belajar menghadapi perbedaan, belajar
melihat suatu persoalan dari sudut pandang orang lain
dan belajar melihat realitas sekitar yg tak sesuai dg
idealisme dan mungkin norma kita. Apapun arti dari
idealisme dan norma itu.
Dalam hubungan antar-negara, silaturrahmi ini disebut
dg “kunjungan kenegaraan” atau state visit. Apabila
anda rajin baca koran setiap hari, coba kita
perhatikan dampak politik, ekonomi dan kultural dari
setiap kunjungan seorang kepala negara ke negara lain.
Baca berita esok harinya, maka akan anda dapatkan
sejumlah hasil kerja sama politik, ekonomi,
pertahanan, kultural dll yg telah dihasilkan berkat
“silaturrahmi” seorang kepala negara ke negara lain.
Lihat misalnya hasil kunjungan presiden SBY ke Amerika
beberapa bulan lalu; atau kunjungan PM India Manmohan
Singh, juga ke Amerika, bulan lalu.
Secara personal saya bukan pemuja Gus Dur, tapi juga
bukan anti-Gus Dur. Karena sikap seorang pemuja dan
pembenci sama buruknya: sama-sama tidak dapat melihat
hal-hal negatif dan sisi positif secara objektif pada
seseorang dan yg hanya akan berujung pada fanatisme
dan naivisme dangkal.
Terlepas dari kekurangannya, Gus Dur adalah aset
nasional dan dikagumi di panggung internasional. Dan
salah satu faktor keberhasilannya, di antara
faktor-faktor yg lain, adalah intensitasnya dalam
melakukan silaturrahmi dg berbagai kalangan tanpa
memandang kelompok, suku, bangsa dan agama.
Dan salah satu kelemahan saya, di antara ribuan
kelemahan-kelemahan saya yg lain, adalah silaturrahmi
ini. Mungkin, dengan menyoroti sisi positif seorang
figur sukses yg salah satu keberhasilan pencapaiannya
adalah berkat silaturrahmi, maka kebiasaan baik ini
akan “menular” ke saya. Setidaknya itulah harapan
saya. Harapan akan lebih indah kalau selalu diisi dg
harapan ke depan yg lebih baik, bukan? Termasuk dalam
hal ini, harapan menuju perubahan sikap yg lebih baik;
jadi bukan hanya harapan yg bersifat materi.***
















Januari 1, 2008 at 10:56 am
Iya setuju. Silaturahmi itu penting, untuk menjalin persahabatan. Termasuk di dunia blog. Dengan saling mengunjungi (dan berkomentar) blog misalnya, itu pun bentuk silaturahmi.
Februari 6, 2008 at 5:52 am
bukankah nge-blog juga termasuk silaturahim sobat…
nice written
Maret 19, 2008 at 1:28 am
saya sangat setuju dengan adanya blog ini karna dapat menambah relasi juga menyambung ukhuwah islamiyah dan mempererat tali ppersaudaraan antar sesama..;>
Maret 19, 2008 at 1:33 am
menjadi tahu dan pengalaman adalah dengan adanya bog \yanfg semacam ini dengan begini apa yang menjadi pemikiran gusdur dapat kita di\skusikan dan dikaji kembali
Maret 19, 2008 at 9:48 am
penting bgt !!mjaga tali sirahturahmi,disaat bngsa sedang terpuruk dengan ego masing2 individu yg saling sikut satu sama lain,kalo dibiarkan terlalu lama dan mjadi budaya,maka bgsa kita akan mudah diadu domba bangsa lain.
Agustus 3, 2008 at 3:13 pm
Dengan silahturrohmi seperti ini emang bisa menjadi lebih baik karena ada “niat” agar bisa tambah saudara dengan cara belajar bersama. AYO NGEBLOG. Gus Dur dan Silahturrohmi… Asruri Syam silahturrohmi dengan mas fatih….