Etika Prioritas

Beberapa minggu lalu, di forum ini Putu Widyastuti Rudolf dg tajam mengeritik sebuah fenomena kontradiktif: bahwa orang yg tampilan luarnya tampak “agamis” sering tak agamis sikap sosialnya; sebaliknya, yg atheis justru bersikap sosial lebih etis alias tidak arogan.

Makna implisit dari kritikan Putu tsb adalah idealnya seorang yg rajin ibadah semestinya lebih baik sikap sosialnya dari pada yg tak peduli pada Tuhan (agnostik). Kalau yg rajin ibadah–yg berarti taat sama Tuhan–kurang etis sikap sosialnya, lalu apa fungsi agama itu sendiri dalam pri-kehidupan sehari-hari?

Kritikan tsb. mengingatkan saya pada obrolan saya dg Pak Suhadi di Musholla Baiturrahman beberapa tahun lalu tentang fenomena seorang haji yg pelit dan masih suka mukulin istrinya. Dan para pejabat Depag yg rata-rata pinter agama dan jebolan universitas jurusan agama tapi kok malah paling doyan korupsi dan “menikmati” pola hidup KKN.
Jadi, di mana letak kesalahannya?

Insting Karakter

Menurut guru besar psikologi UI alias dosennya Lukman Nul Hakim, Prof Sarlito Wirawan Sarwono, secara garis besar manusia dapat dikategorikan dalam empat karakter dasar sejak masa bayinya: (1) Yg memiliki dasar watak baik yg kuat (dermawan, jujur, tegas dan teguh pendirian, enerjik, dll); (2) Yg memiliki dasar watak buruk yg kuat (pelit, pemarah, lemah, penipu, dll); (3) Memiliki kecenderungan baik tapi tidak begitu kuat (mudah terpengaruh); (4) Memiliki kecenderungan watak buruk tapi tidak begitu kuat (dapat berubah).

Kelompok (1) ini akan selalu baik di manapun dia berada kendati ia berada di tengah lingkungan yg buruk. Ia tidak mudah terpengaruh dan malah akan mempengaruhi orang lain. Prof. Baharuddin Lopa (alm.) mantan menteri era Gus Dur adalah contoh ideal.

Kelompok (2) adalah sebaliknya. Ia akan tetap jahat walaupun hidup di lingkungan yg baik. Dan lebih dari itu, ia juga akan mempengaruhi orang lain untuk ikut jahat.

Kelompok (3) dan (4) adalah kalangan mayoritas manusia: mereka akan baik dalam lingkungan baik dan ikut rame-rame jadi maling dalam lingkungan maling.

Agama sebagai Rekayasa Moral
Agama adalah petunjuk moral bagi keempat kelompok karakter di atas dg penekanan fungsi yg berbeda-beda. Pada kelompok (1) fungsi agama adalah untuk “memoles” hati emas mereka agar semakin berkilau. Untuk kelompok (2) fungsi agama adalah untuk “meminimalisir” watak dan sikap buruk yg sudah inheren dalam urat nadinya. Sementara untuk kelompok (3) dan (4) yg merupakan mayoritas, fungsi agama adalah untuk betul-betul mengarahkan atau melakukan rekayasa sosial (social engineering) di bidang moral dan etika agar tatanan masyarakat menjadi teratur, harmonis dan tertib. Kelompok (3) dan (4) adalah kalangan yg sering labil dan tidak tetap pendiriannya: antara mengikuti panggilan nurani dan nafsu.

Di manakah posisi Anda di antara keempat kelompok di atas? Anda lebih tahu melihat diri Anda sendiri. Akan tetapi yg lebih penting di sini dan menjadi tujuan utama tulisan singkat ini adalah bahwa kita tidak perlu heran melihat suatu realitas perilaku yg terkesan kontradiktif.

Tidak perlu heran melihat seorang yg rajin ibadah tapi juga rajin menjadi maling profesional alias KKN atau sikap pergaulan sosialnya tidak toleran dan arogan (golongan [2] [3]) . Tidak perlu aneh melihat orang yg tidak mengikatkan diri pada tuntunan agama (agnostik), tapi sikapnya justru lebih agamis dibanding yg rajin ibadah (golongan [1]).

Etika Prioritas

Manusia memiliki ego yg menuntut untuk dihargai; dan logika manusia memberitahu bahwa untuk dihargai, salah satunya adalah kita harus berbuat baik pada manusia lain di sekitarnya untuk mendapatkan sikap resiprokal. Manusia perlu petunjuk yg memberi tahu nilai apa yg baik dan buruk. Agama menjadi salah satu alat penunjuk itu disamping petunjuk nilai dan moral yg disusun kalangan cendekiawan, pujangga dan filsuf.

Ketika kita membaca “daftar nilai-nilai kebajikan” yg perlu kita lakukan, kita sadar atau tidak akan melakukan skala prioritas atas nilai moral dan kebaikan mana yg perlu didahulukan, sesuai dg kemampuan daya nalar masing-masing dalam melihat kebajikan yg perlu diprioritaskan.

(1) Sebagian orang akan lebih memilih ibadah: rajin beribadah (hubungan dg Tuhan), tapi kurang peduli untuk menjaga hubungan baik dg sekitarnya. Ini yg menurut Putu Widyastuti sebagai “rajin ibadah (dg Tuhan), tapi “ibadah” (baca, berperilaku baik) pada manusia dilupakan.”

(2) Sebagian lagi memilih sebaliknya. Tak jarang kita dengar kata-kata seperti “yg penting saya sudah berbuat baik pada orang lain dan tidak merugikan. Selebihnya, apa yg saya lakukan itu terserah saya dan saya tak peduli apa kata orang.”

Keduanya benar. Atau lebih tepatnya, mereka berhak mengklaim separuh kebenaran. Dan karena itu, dari pada repot-repot memuji separuh kebaikan diri sendiri yg sudah dimiliki, bagaimana kalau kita mencari dan mendapatkan yg separuhnya lagi?


  1. cinta

    masih dalam pencarian jati diri…….. sperti apa aku sbenerny, apa sbenerny yg ku cari&MENCOBA UNTUK LBH BIJAK MENGGUNAKAN WAKTU.. bnyk ibadah pgnny, biar dosa2 dpt terampuni.. hh..jd sedih :(

  1. 1 Top Indonesian Blogger » Blog Archive » Refleksi Pribadi

    [...] Etika Prioritas [...]

  2. 2 WANITA BERJILBAB « Zokoalvonso’s Blog

    [...] menjadi masalah adalah ketika kita berusaha mencari pembenaran (justifikasi) dari kekurangan kita. Seorang Muslimah berjilbab dan yang tidak berjilbab hendaknya terus introspeksi diri melihat kekuran… Manusia memang tidak sempurna. Tapi lebih tidak sempurna lagi kalau kita tidak mau introspeksi dan [...]




Leave a Comment