Dari dulu saya suka dg adagium Inggris “Simplify Life and Follow the Sun.” Sederhanakan masalah, nikmati gemericik air yg mengalir (terjemahan bebas).
Simplifikasi masalah tentu beda dg over-simplifikasi atau terlalu menyederhanakan. Masalah yg kita hadapi sehari-hari akan selalu ada dan secara garis besar dapat dikategorikan dalam dua kelompok.
Pertama, masalah internal. Yakni masalah khas yg dihadapi setiap individu yg tak ada kaitannya dg orang lain. Contoh, jatah beasiswa atau kiriman dari rumah belum datang bagi mahasiswa. Atau konflik rumah tangga bagi yg sudah berkeluarga.
Kedua, masalah eksternal. Yaitu masalah sehari-hari yg berkaitan dg interaksi individu dg individu yg lain.Berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal umumnya adalah masalah kecil, namun tidak jarang itu berupa persoalan besar. Masalah eksternal kecil yg terjadi berulang-ulang juga biasanya akan berujung menjadi masalah besar. Kemampuan kita dalam menyaring mana masalah yg kecil dan mana yg besar akan sangat menentukan “karisma” kita sebagai individu di mata individu yg lain.
Masalah internal tentunya adalah masalah masing-masing individu. Tak ada seorang pun berhak ikut campur, kecuali apabila persoalan internal itu menyeberang garis batas dan menjadi problema eksternal. Sebagai contoh, apabila sikap individu “melanggar” undang-undang tak tertulis dalam komunitas lingkungannya.
Persoalan eksternal sama sekali berbeda. Di sini diperlukan pemahaman tinggi tentang hak dan kewajiban kita sendiri dan, pada waktu yg sama, memahami hak dan kewajiban orang lain.
1. Standar minimal manusia yg “normal” yg berhak disebut “baik” adalah apabila dia menggunakan haknya sama takaran dan persentasenya dg memberi hak orang lain.
Contoh, (a) apabila Anda bercerita sepanjang 5 menit, maka Anda berkewajiban memberi waktu yg sama untuk pendengar cerita Anda tsb. untuk bercerita balik dan Anda menjadi pendengarnya. (b) Apabila Anda menggunakan hak untuk meledek teman baik Anda, maka Anda juga harus memberi hak yg sama pada teman Anda untuk meledek balik. Apakah teman Anda mau menggunakan haknya atau tidak itu soal lain.
2. Standar minimal individu yg berjiwa pemimpin adalah apabila individu tsb lebih ingat pada apa yg mesti diberikan pada orang lain; bukan apa yg orang lain mesti berikan padanya. Memberi tidak dianggapnya sebagai pengorbanan atau aktivitas interaktif, tapi dianggapnya sebagai kewajiban satu arah baginya yg tak perlu menunggu balasan.
Memberi dalam bahasa hubungan interpersonal tentu saja bukan hanya dalam wujud materi, tapi yg terkadang justru lebih penting adalah memberikan ego . Dalam bahasa agama mungkin bisa disebut dg sedekah ego.
Apa itu sedekah ego? Anda tentunya lebih paham. Tapi untuk lebih memudahkan, saya beri beberapa contoh di bawah:
(a) Apabila Anda berbuat kebaikan pada seseorang, tapi tidak ada balasan dalam bentuk apapun dan bahkan, terkadang, mendapat respons negatif. Tapi Anda tidak mengeluh atau tidak membahasnya sama sekali.
(b) Apabila Anda tidak membalas sikap yg menyakitkan dari teman Anda (yg sedang ‘menggunakan haknya’ itu). Sebaliknya, Anda justru tetap bersikap baik seperti biasa.
(c) Apabila Anda terus berkonsentrasi untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan manfaat bersama, tanpa menunggu apresiasi dari pihak manapun dan tanpa sepatah kata keluhan apalagi makian.
(d) Apabila Anda pejabat negara, maka Anda tidak hanya memaksimalkan amanah rakyat itu dg, antara lain, memudahkan urusan rakyat yg memerlukan layanan Anda semudah-mudahnya, lebih dari itu Anda memanfaatkan amanah tsb dg melakukan hal-hal di luar tugas yg dapat bermanfaat bagi rakyat dan negara. Tanpa peduli, apakah segala hal yg baik yg Anda lakukan mendapat apresiasi rakyat atau tidak. Pada waktu yg sama, memberi ruang di hati Anda untuk mendengarkan kritik dan saran dari rakyat, menurut saya adalah sedekah ego terbesar seorang pejabat.
Sulit untuk menjadi pemimpin ideal, atau bahkan sekedar jadi manusia ‘baik’. Tapi, berkeingingan menuju pencapaian yg lebih tinggi, tidak hanya bidang akademis & jabatan tapi juga karakter, saya kira bukan sesuatu yg salah.













16 Maret 2008 at 12:47 pm
Ra Fatih, tulisannya sangat lancar mengalir. Saya harus banyak belajar dari panjenengan
#trims. teruslah mencoba. wish you the best of luck.
btw, nama saya fatih, bukan ra fatih.