Oleh A Fatih Syuhud

Suara Karya Selasa, 11 April 2006

Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Soviet yang dibebaskan setelah hukuman penjara sembilan tahun, terkadang dianggap sebagai inspirasi untuk kebijakan perubahan rezim neo-konsevatif. Khusus mengenai pandangannya pada rasionalisasi neo-imperialisme terbaru dalam mencegah terjadinya prinsip kedaulatan nasional dengan atau tanpa intervensi bersenjata, dan tentang keefektivan aktual dalam menghasilkan perdamaian yang stabil.

Argumen Sharansky, seperti tersebut dalam bukunya The Case for Democracy: The Power of Freedom to Overcome Tyranny and Terror (dengan Ron Dermer, Public Affairs, New York 2004) adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa apa pun rezim atau budaya, seluruh umat manusia pada dasarnya mencintai kebebasan, dan akan memilihnya apabila diberi kesempatan, sebagaimana yang terjadi pada Eropa Timur pada 1989. Dia juga berpendapat bahwa disiden di era moral hitam putih Uni Soviet membutuhkan kekuatan batin untuk melawan kejahatan.
Dalam membagi bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang bebas dan masyarakat yang takut (fear society), dia menggambarkan pemerintahan pada kelompok kedua sebagai merampas kebebasan, hak milik, budaya dan sejarah rakyatnya. Ketika teror internal tidak lagi ada, pemerintah semacam itu akan menciptakan lawan eksternal, baik riil atau hanya persepsi, guna memelihara dukungan populer. Dalam menghadapi ancaman eksternal, rakyat akan secara sukarela tunduk pada segala bentuk deprivasi dan ongkos yang mesti diemban: negara sebebas Amerika sekalipun telah mentoleransi perampasan hak kebebasan sipil pasca-11/9.

Mekanisme demokrasi menciptakan pemimpin yang bertanggung jawab yang tidak dapat terpilih kembali apabila mereka mengadopsi kebijakan agresif tanpa dukungan dari publik. Dengan demikian, demokrasi lebih enggan melakukan perang sekalipun apabila kepentingan nasionalnya sendiri memaksa melakukannya. Sharansky menyimpulkan bahwa karena sistem demokrasi bertindak sebagai rem pada individu agresif, maka hanya demokrasi yang dapat menjadi basis menuju perdamaian murni dalam bentuk apa pun.

Tesisnya ini didukung oleh kajian empiris yang menunjukkan bahwa masyarakat demokratis tidak akan berperang satu sama lain. Semuanya tergantung pada bagaimana demokrasi itu didefinisikan, dan dengan merasuknya demokrasi ke dalam berbagai budaya yang berbeda, banyak hal yang perlu direkonsiliasikan.

Ada dua hal berbeda yang cukup penting antara agenda Sharansky dan agenda yang dianut AS di Irak. Untuk “melunakkan” negara yang berpotensi ancaman, dia mendukung sanksi dan tekanan diplomatik yang dikaitkan dengan HAM, bukan intervensi militer langsung. Kedua, dia tidak sepakat dengan pengadaan pemilu di negara yang baru “dibebaskan”. Sebaliknya, dia lebih memilih periode interim selama tiga sampai empat tahun untuk membangun institusi sipil, membangun sistem kebebasan baru. Karena tesisnya ini berkaitan dengan masyarakat yang telah terbebas, maka teori ini tentunya tidak berlaku untuk kasus Irak saat ini.

Berbeda dengan kalangan realis, Sharansky menekankan perlunya moralitas dalam hubungan internasional. Akan tetapi pemahamannya atas moralitas berbeda dengan kalangan liberal Amerika dan Eropa yang kritiknya atas Reagan dan Bush dia anggap sebagai pembasmian moral, yang berdasar pada kurangnya analisis atas karakter sebenarnya dari totalitarianisme.

Kebebasan bukanlah ketakutan, tapi tatanan. Kebebasan harus dijaga dari pembusukan kebebasan mutlak dan kekacauan. Sebagaimana tatanan dari sikap opresif dan kejam. Akan tetapi kebutuhan sosial atas tatanan sama validnya dengan butuhnya individual atas kebebasan.

Kondisi tak stabil dapat membuka jalan ketertiban melalui rezim totalitarian, otoritarian, atau despot. Hal ini pada gilirannya akan mengecewakan dan mengaktifkan kemauan untuk bebas. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban, khusus untuk dunia ketiga, bagi pembangunan ekonomi.

Sharansky membuat dikotomi terlalu tajam antara demokrasi dan tirani, karena sejumlah rezim non-demokratik ada juga yang menghormati HAM.

Bangsa Tibet pada prakemerdekaan 1949, sebagai contoh, tidak dapat memenuhi separuh dari empat poin tes kebebasan Sharansky. Pertama, rakyat tidak dapat berbicara terus terang apabila itu bertujuan untuk mengeritik Dalai Lama. Kedua, mereka tidak dapat mempublikasikan (menyiarkan) opini yg menentang. Tetapi mereka, ini yang ketiga, bebas mengamalkan agama dan kepercayaan. Keempat, bebas mempelajari sejarah dan budaya mereka.

Begitu juga, Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew yang dikritik tajam karena mengekang kebebasan berpolitik, tapi berhasil gemilang dalam mengantar penduduk negara-kota itu menjadi terdidik, terintegrasi, makmur dan tenang.

Memang, humanisme modern dengan fondasi HAM mendapat tempat ekspresi terbaiknya pada sistem demokrasi. Akan tetapi paradigma HAM seperti yang terdapat dalam Universal Declaration itu sendiri agak kontroversial mengingat konsepsi dasarnya diambil dari nilai-nilai Yudeo-Kristen, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai berbau kental nuansa kultur dan sosial barat dan karena itu bukan murni bernilai universal. Kehendak untuk tidak ditindas dan dikekang, keinginan untuk “bebas dari” rasa takut, jelas bernilai universal. Tetapi kebebasan dalam sistem demokrasi termasuk di dalamnya “bebas untuk” tak jarang bertentangan dengan budaya lokal, dan dapat dianggap sebagai ancaman pada kultur dan tatanan sosial yang ada.

Dengan demikian, proyek demokratisasi tampaknya menjadi tantangan pada esensi pluralisme umat manusia, kecuali apabila dibuat pemisahan jelas antara politik dan kultur, yang cukup problematik. Dalam dunia kontemporer, demokrasi sedang mendapat tempat sebagai bentuk pemerintahan ideal. Apabila ia terbukti fleksibel untuk beradaptasi, dan kultur setempat dapat menerima separonya saja, maksa aplikasinya dapat terus meningkat.

Apabila lebih banyak lagi negara yang terdemokratisasi tanpa serangan pada kedaulatan mereka, tidak seperti dalam kasus Irak, maka skenario terciptanya kesepakatan internasional semakin dimungkinkan. Ini bukan jaminan 100 persen menuju perdamaian, tetapi jelas dapat mengurangi potensi konflik.***

Penulis adalah mahasiswa
Ilmu Politik Agra University, India.


  1. RESPUESTAS DE SU SANTIDAD SAMAEL AUN WEOR…SOBRE S.S. DALAI LAMA…
    Debido a la importancia de lo que comenta el v..m Samael Aun Weor frente a sus discipulos,se expone en forma textual sus respuestas frente a las preguntas de sus discipulos referente a su santidad dalai lama… D.¿el dalai lama es un gran maestro?… m.pues,el dalai lama es,dijeramos,la autoridad teocratica del tibet.pero pero el dalai lama actualmente no esta en el tibet,vive en el norte de la india.el tuvo que huir con la llegada de los chinocomunistas, de manera que el ahora vive en el norte de la India.es un Maestro Autorrealizado y completo;no es ningun profano ni un simple mandarin,sino un Maestro…. D.es decir,¿que todos los gobernantesdel tibet han sido maestros? M.bueno,sin exagerar la nota,¿sabes? tenemos que ser mesurados…mesurados… D.pero,por lo menos en este caso del dalai lama,si es como un… M.pues,el caso de este dalai lama,si es un MAESTRO AUTORREALIZADO Y CONSCIENTE.En alguna ocacion,precisamente,recibi la visita del dalai lama.En los mundos superiores estaba yo ahi,y resolvi platicar con el,y vino el a mi y platicamos;queria el hacerme alguna consulta (o hacercela a este que esta aqui adentro,puesto que mi insignificante persona nada vale).La respuesta que le di fue… bueno,contestare, atendere tu consulta,pero alla en el mundo fisico,no aqui; si puedes penetrar en el mundo fisico, hablaremos en el mundo fisico, de persona a persona… Acepto el reto,dijo: Esta bien,VENERABLE MAESTRO,voy a pasar al mundo fisico… bueno,alla hablaremos… M. y yo me vine y me meti entre mi cuerpo.ya que me meti entre mi cuerpo,me incorpore bien,y tal,dije: BUENO,VAMOS AHORA A VER QUE SUCEDE ,A VER QUE PASA…No habia sino una silla,ahi junto a la cama…VAMOS A VER QUE PASA…Estuve vigilando…de pronto un hombre entra a la habitacion… D. ¿aqui en su casa? M. En otra casa,en la zona sur,donde viviamos antes…acompañado de otros dos lamas.este lama, El Dalai,imponente,maravilloso,entro,saludo… SIENTESE le dije hermano. no habia sino una silla y se sento ahi;los otros dos se colocaron uno a uno lado de el y el otro del otro lado.le dije: TE FELICITO POR HABER CUMPLIDO LA PALABRA;AQUI EN EL MUNDO FISICO PODEMOS HABLAR PERFECTAMENTE… Crei que me iban a tratar asuntos politicos o cosas asi por el estilo;no¡.,se trataba de consultas personales del DALAI LAMA y de los otros dos monjes que lo acompañaban… ( ALTOS MAGOS TIBETANOS…) … pero,si estuve observando cuidadosamente al DALAI :,TODO UN ADEPTO… EN EL SENTIDO MAS CONPLETO DE LA PALABRA…MARAVILLOSO… hable con el lo que tenia que hablar;luego muy amablemente nos despedimos todos;se fueron,se sumergio en el astral rumbo a la India. eso hace el DALAI LAMA…. estas preguntas y respuestas se dan despues que el VENERABLE MAESTRO SAMAEL AUN WEOR dictara la catedra EL CRISTO COSMICO,TAMBIEN LLAMADA EL CRISTO COSMICO Y LA SEMANA SANTA…–>




Leave a Comment