Studi Banding April 20, 2006
Posted by Blogger Indonesia in Blogger Indonesia, Fatih Syuhud, Refleksi.trackback
Di Malang ada satu sekolah dasar unggulan, namanya Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Malang yg lebih dikenal dg sebutan MIN 1 Malang. Murid-muridnya sering menjuarai kompetisi nasional dan fasih berbahasa Inggris dan Arab. Jangan lupa, mereka baru berumur antara 5 - 12 tahun. Sekolah ini juga mengadakan kemitraan dg lembaga pendidikan internasional seperti Comboyne Public School Hill, New South Wales, Australia dan Seaford Primary School, Australia.
Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak institusi pendidikan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke datang berbondong-bondong ke MIN 1 Malang untuk melihat lebih dekat rahasia sukses dari institusi ini. Anda sendiri bisa membuat “studi banding” dg melongok situs/website resmi MIN 1 Malang di sini. Anda juga bisa “memamerkan” situs ini pada kolega/teman kampus dari negara lain karena situs ini juga menyediakan info dalam bahasa Inggris.Pelajaran terpenting bagi kita adalah mengapa kesuksesan selalu dijadikan kajian perbandingan pihak lain yg, katakanlah, belum mencapai prestasi yg sama? Jawabnya, karena salah satu cara paling bermanfaat dan efektif untuk sukses adalah dg melihat dan mempelajari pihak yg sudah sukses dan meneladaninya sesuai dg kemampuan yg ada.
Hal ini juga berlaku bagi pengembangan kepribadian. Agar seseorang mencapai kesuksesan individual yg maksimal, maka dia perlu memperbanyak mengadakan studi banding; atau membandingkan dirinya dg individu lain yg jauh lebih berhasil dari dirinya dg antara lain membaca biografinya, membaca hasil karyanya (dalam bentuk tulisan atau buku), membaca bahasan orang tentang dia, dan kalau mungkin dan ada peluang bertemu muka dg orang sukses tadi untuk sekedar ngobrol dan meminta saran dan tips. Pertemuan personal dg orang-orang sukses akan sangat membantu mengangkat dan memotivasi jiwa kita untuk juga memiliki determinasi yg sama atau mungkin lebih tinggi.
Apa indikasi kesuksesan?
Tentu saja setiap orang memiliki ukuran sendiri. Bagi seorang intelektual, kesuksesan dapat diukur dari seproduktif apa dia berkarya atau menulis baik dalam bentuk buku, tulisan di jurnal internasional, jurnal nasional, jurnal kampus, di majalah atau koran. Dan sebarapa jauh ide-ide dalam karyanya memiliki pengaruh dan warna dalam level internasional, nasional/daerah.
Bagi pebisnis, kesuksesan tentu saja dalam segi seberapa banyak dia berhasil berinovasi sehingga dapat mengeruk uang banyak dalam waktu singkat dan seberapa cepat dia dapat meniti tangga sebagai 300 besar orang terkaya dunia versi majalah FORBES. Dan seterusnya, dst.
Studi banding inter-personal tentu lebih rumit dibanding studi komparasi antar-institusi. Dalam studi banding personal diperlukan “jiwa robot” dalam arti diperlukan kemampuan yg dapat memilah-milah mana yg baik yg perlu diteladani dan mana unsur kelemahan pada pribadi sukses yg tak perlu ditiru tapi juga tak perlu dibahas. Di sini diperlukan jiwa yg independen.
Pribadi Independen
Ia adalah pribadi yg cool yg memiliki kematangan dan kemampuan jiwa yg merdeka untuk secara efektif menilai, meniru dan meneladani langkah-langkah baik yg dilakukan pribadi sukses; dan pada yg sama ia juga memiliki pandangan tajam melihat sisi-sisi negatif/kelemahan dari pribadi yg sukses tsb. dan mengabaikannya dalam arti tidak menirunya, tapi juga tidak mau membuang waktu untuk mencaci atau meributkannya. Karena ia tahu, hal itu tidak efektif dan tidak bermanfaat bagi proses pendewasaan dirinya dan pada waktu yg sama justru akan semakin menjauhkan dirinya dari proses pembelajaran.
Dengan demikian, pribadi independen itu tidak memiliki satu tokoh idola, tapi banyak. Karena setiap pribadi sukses adalah manusia dan manusia selalu lekat dg kelebihan dan kekurangan. Sebagai contoh, seorang intelektual muda Indonesia yg independen hendaknya tidak hanya menjadikan Gus Dur saja, atau Nurcholis Madjid saja, atau Ulil Abshar Abdalla saja, atau Aa Gym saja, atau Zainuddin MZ saja (bagi yg suka khutbah) sebagai tokoh idolanya. Tapi, ambil sisi-sisi positif dari semua tokoh itu; dan buang sisi-sisi negatifnya. Pribadi independen, dengan demikian, tidak akan memiliki pola pikir fanatik pada satu tokoh tertentu.
Dari sejumlah literatur biografi yg saya baca, hampir semua tokoh-tokoh sukses di berbagai bidang adalah mereka yg memiliki pribadi independen: yg kecintaan atau kebenciannya tidak tertumpu pada satu titik.














Komentar»
No comments yet — be the first.