Pilihan Karir

Donald TrumpPada suatu kesempatan ngobrol dg Bapak Suhadi Salam, waktu itu beliau menjabat KUAI (Pjs Duta Besar) di KBRI New Delhi, saya mendapat nasihat berharga yg intinya begini: “..cepatlah diselesaikan studinya dan cepatlah berkarir. Sukses dan tidaknya karir seseorang akan diketahui pada saat seseorang usia 40 tahun.” Artinya, cepat pulang, bekerja dan kalau bisa, meloncat-loncat tangga karir agar cepat sampai tangga karir tertinggi.

Lukman Nul Hakim pada suatu kesempatan ngobrol di rumah saya yg terkenal rapi dan bersih juga bertanya dg nada yg hampir sama: “Ingin berkarir di mana setelah pulang nanti?”

Saya memaklumi kepedulian beliau (dan juga pertanyaan Lukman) dan berterima kasih. Namun pada saat yg sama saya memahami bahwa saya dan beliau berada dalam zona pemikiran yg berbeda, dan karena itu nasihat beliau saya tanggapi dg senyuman tanpa komentar lebih lanjut.

Saya hidup dalam dua lingkungan budaya etnik dg pola pikir yg sama sekali berbeda: Jawa dan Madura. Lingkungan Jawa dari keluarga ibu tampaknya memiliki pola pikir yg hampir sama dg Pak Suhadi Salam dan Lukman: karir adalah bekerja di sebuah instanti pemerintahan dan/atau perusahaan PMA terkenal. Semakin cepat mendapat promosi jabatan, semakin tinggi nilai keberhasilan, apalagi kalau bisa menduduki posisi CEO di sebuah perusahaan PMA atau MNC (multi-national company).

Dan memang itulah realitas yg terjadi pada keluarga dari ibu: banyak dari mereka yg menduduki berbagai posisi puncak di instansi pemerintah maupun institusi swasta; menjadi PNS sampai eselon yg paling tinggi atau direktur sebuah perusahaan PMA.

Dari keluarga ayah yg asli Madura, situasinya sama sekali berbeda. Tidak ada satupun dari mereka yg bekerja pada instansi pemerintah atau swasta. Sebaliknya, mereka menciptakan pekerjaan.

Mana yg lebih baik dari kedua pilihan “karir” tersebut adalah tergantung kecenderungan pola pikir masing-masing individu. Secara umum, asal bekerja dg dedikasi dan kejujuran dan tidak kompromi dg praktik korupsi, menjadi PNS atau manajer itu mulya. Sebaliknya, jadi pengusaha pun kalau suka bermain api juga kurang baik.

Bagi saya pribadi, penilaian baik dan/atau lebih baik mana adalah tergantung dari barometer berikut: sejauh mana karir atau pekerjaan yg kita lakukan itu dapat bermanfaat tidak hanya bagi kita dan keluarga kita, tapi juga pada lingkungan di sekitar kita; sejauh mana pekerjaan kita itu dapat membantu orang-orang yg membutuhkan uluran tangan kita dan memberdayakan kalangan lemah. Semakin besar sumbangan yg dapat kita berikan pada kalangan yg lemah, maka semakin tinggi nilai karir atau kerja kita.

Menjadi PNS, profesional atau pegawai apapun bisa dijadikan sarana untuk membantu termasuk dg mempermudah jasa layanan orang yg membutuhkan layanan di tempat kita bekerja. Namun saya lihat menjadi pengusaha, entrepreneur atau wiraswasta memiliki dampak sumbangsih yg jauh lebih berpengaruh: dari mulai menciptakan lapangan kerja, bantuan finansial secara langsung pada kaum dhuafa sampai dampak ekonomi makro negara. Dan inilah salah satu jawaban saya pada pertanyaan Lukman di atas: saya ingin bekerja– apapun asal yg halal –yg tidak hanya mencukupi kebutuhan saya dan keluarga, tapi juga ada kelebihan yg dapat disumbangkan baik langsung (pemberian beasiswa, menciptakan yayasan sosial, dll) maupun tidak langsung (dg cara menciptakan lapangan kerja). Suatu kenginan yg saya pikir mustahil atau sulit terlaksana kalau saya jadi pekerja, bukan pencipta pekerjaan.

Dan saya melihat pola kecenderungan yg sesuai dg apa yg telah digambarkan di atas pada dua tipe keluarga saya: yg dari kalangan keluarga ibu lebih banyak disibukkan dg kegiatan kewajiban rutin sehari-hari: pagi berkemas, ke kantor, pulang sore, malam istirahat, pagi ke kantor lagi, dst. Suatu rutinitias yg akan membuat saya stress dg hanya membayangkan. Keluhan pun sering terdengar, dari bos yg galak, gaji dipotong, gosip korupsi, dll. Tak ada lagi ruang untuk memikirkan betapa sedihnya nasib tetangga sebelah yg sakit tapi tak punya biaya untuk berobat, yg anaknya tak mampu sekolah karena tak ada biaya, yg cuma dapat makan sehari sekali karena gaji kecil, dll.

Sebaliknya, suasana “santai” tak dikendalikan rutinitas harian tampak menyolok di kalangan keluarga dari ayah; maklum mereka bekerja buat “perusahaan” sendiri, menentukan jam kerja sendiri, kadang bekerja 18 jam atau 8 jam sehari tidak ada yg marah. Mereka tidak punya bos, karena merekalah bos-nya. Dalam kehidupan sosial jelas lebih berbeda lagi, banyak waktu dan uang untuk menyantuni anak yatim, mengunjungi keluarga yg ditimpa musibah, membantu sekolah anak yg orang tuanya tak mampu membiayai, dll.

Kisah di atas hanyalah tuturan kisah nyata, bukan untuk menilai orang lain di luar keluarga saya. Ini hanyalah refleksi kecil saya pribadi berdasarkan apa yg saya lihat dan yg menginspirasi saya dalam menentukan pilihan karir apa yg akan saya ambil nanti ketika saya terjun ke dunia nyata.

Saya, tentu saja, sangat menghormati pilihan karir setiap orang. Seperti yg saya sebut di atas, setiap pilihan karir apapun akan ada tempat untuk memberi sumbangsih pada bangsa, pada individu anak bangsa dan lingkungan kita. Apabila memang niat itu yg menjadi salah satu tujuan utama kita bekerja, pilihan karir apapun akan bernilai tinggi dan mulya. Tentu saja kenyataan yg akan bercerita lebih lantang, bukan retorika. []

Artikel terkait:


  1. Jadi, ceritanya sekarang ini sampeyan pegawai negeri tapi juga pengusaha ya :D

  2. Bagi saya pribadi, penilaian baik dan/atau lebih baik mana adalah tergantung dari barometer berikut: sejauh mana karir atau pekerjaan yg kita lakukan itu dapat bermanfaat tidak hanya bagi kita dan keluarga kita, tapi juga pada lingkungan di sekitar kita; sejauh mana pekerjaan kita itu dapat membantu orang-orang yg membutuhkan uluran tangan kita dan memberdayakan kalangan lemah. Semakin besar sumbangan yg dapat kita berikan pada kalangan yg lemah, maka semakin tinggi nilai karir atau kerja kita

    .

    Setuju Mas :) . dan sungguh perlu kesungguhan komitmen dalam diri

  3. ya klo boleh urun rembug nih ya enak jadi pengusaha to mas, maklum sih saya juga anak pensiunan PNS jadi tahu gmana rasanya dan sekarang jadi buruh jadi ya tahu gmana rasanya bekerja kepada orang lain….klo pengusaha kan bisa menciptakan kerja buat org lain…rak gitu to..mas……tapi semua itu juga relatif karena pemikiran orang juga lain-lain nek saya ya daripada jadi buruh swasta enakan jadi buruh negara alias PNS…….mekaten mas…..btw wajah baru isi semakin bagus lho…

  4. ya ikut nimbrung juga trus gimana caranya kita menciptakan kerja baru. saya dari dulu ingin usaha cuma rada binggu.aku ingin usaha kecil kecilan mas… ada tidak ya.?

  5. @arie: punya duit 4 juta dah cukup buat buka toko kecil2an. kerja keras dan prosesional, dlm wkt 2 thn, asetnya bisa 2x lipat. Lihat kisah baba rafi yg cuma bermodal 6 juta, skrg sudah beromset ratusan juta rupiah. liat di sini –> http://fatihsyuhud.com/2007/08/30/kebab-turki-baba-rafi-in-bbc/

  6. ratuadilsatriapinandhita

    sudah…. sudah…. arab diam dulu.
    ratu adil sedang lewat nih.

    http://ratuadilsatriapinandhita.wordpress.com/

  7. setuju sekali dengan pendapatnya (seperti yang comment #2), mungkin akan saya kutip juga kalau nanti akan bikin tulisan senada (sekalian minta ijin nge-link kesini).

    Di tulisan ini saya melihat ada sedikit keberpihakan pada pengusaha (dibanding dengan pegawai suatu instansi), namun saya juga setuju kalau karir itu memang pilihan setiap orang. Sebagai sebuah pilihan, tentunya keduanya juga punya plus-minus yang harus dipertimbangkan. Good Luck !

  8. Menjadi pengusaha memang sedikit berat apalagi jika sebelumnya kita sudah bekerja di perusahaan bonafid dengan great salary dan tdk pernah menghadapai resiko investasi yg besar.

    Saya selalu ingat kata Ibu saya bahwa business is an art of live spirit and training your brain become faster in make decision in your live. Satu hal yg sampai skrng saya belum benar2 bisa melaksanakannya adl “keikhlasan” beliau dlm menjalan usahanya. Rugi? Ikhlas. ditipu? ikhlas. Pelanggan direbut tetangga?ikhlas. Mau untung atau Rugi.. tetep sodakoh..

    Dan saya setuju dgn penulis; kalau jadi pengusaha lebih banyak waktu untuk bersilaturahmi. Tetangga meninggal masih bisa takziyah, ba’da maghrib ada undangan pengajian di masjid.. masih bisa datang. Tapi meski demikian semuanya adl pilihan pribadi.

  9. Kemarin ini saya membaca artikel mengenai pasangan tua yang merayakan pernikahan emasnya. Ada 2 hal yang menarik pada artikel tersebut; pertama fakta bahwa mempelai wanita ketika menikah “baru” berumur 15 tahun. Pada Amerika yang sekarang, hal ini akan bisa menyebabkan mempelai prianya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan menodai anak di bawah umur.

    Hal lainnya yang menarik adalah bahwa ketika menikah, mempelai prianya berumur 19 tahun, dan sudah mandiri, bekerja sebagai salesman mobil.

    Pengalaman orang tua kami juga mirip. Mereka sedari masih SD sudah mulai berusaha sendiri / bekerja sebagai pegawai orang lain (sekarang : eksploitasi anak).
    Sehingga banyak yang sudah sukses karirnya pada usia yang sangat muda.

    Kini, di Indonesia, dan seluruh dunia saya kira; umur 19 tahun secara umum berarti adalah mahasiswa S1 tingkat 1.

    Akibatnya misalnya; kini tidak aneh menemukan seseorang berumur 40 tahun namun belum menikah, dengan alasan masih belum mampu mendukung sebuah keluarga secara finansial.
    Lalu ketika akhirnya berkeluarga, anak-anaknya masih kecil, namun ybs sudah masuk usia pensiun. Semuanya jadi merasakan kesulitannya.

    Kenapa ini bisa terjadi ?

    Saya kira banyak penyebabnya. Konsep apprenticeship yang kini sudah menghilang, mitos bahwa “sekolah formal = jaminan sukses”, kurangnya transfer knowledge & wisdom dari orangtua ke anak-anaknya (sehingga anak terpaksa “reinvent the wheel”), penyempitan wawasan (”anak kecil sekolah saja dulu” — lalu setelah lulus kuliah bingung & kaget melihat dunia yang sebenarnya / berbeda total dengan lingkungan akademis), dst.

    Anyway, intinya; kalau bisa ditulis secara komprehensif & sistematis, berikut panduan untuk menghindari masalah tersebut, saya kira akan sangat bermanfaat untuk banyak orang.

  10. It is interesting topic.
    well, from my point of view, no matter how will u be-whether entrepreneur or professional worker as long as we can give the best for our job, our community, our company

  11. It is depends on each personality.




Leave a Comment