Pada tgl 9 November jam 4.30 dini hari — berarti 30 menit setelah berita meninggalnya ibu Jusman — saya mendapat telpon dari Jusman yg lagi berada di Aligarh mengabarkan tentang berita duka cita tsb. Masih jelas terngiang di telinga saya suara isakan tangis tertahan Jusman kala mengabarkan berita itu. Saya tidak mengatakan apa-apa kecuali satu kata, “Jus, Sabar, Jus!”
Ibu memang menempati posisi tersendiri di mata anak laki-laki. Kalau ayah berfungsi sebagai penanggung jawab kesejahteraan keluarga, maka ibu di mata kaum lelaki memiliki multifungsi yg sering tidak dimiliki sang ayah: sebagai pendingin hati kala kita marah, motivator kala resah dan putus asa, peneduh di kala suasana memanas. Intinya, sosok Ibu adalah sosok sahabat, guru jiwa, pendekar nurani dan Suhu penenang hati.
Oleh karena itulah, ketika saya mendengar isakan tertahan Jusman di telpon itu saya tidah heran. Menangis merupakan hal yg tabu bagi laki-laki; karena air mata itu mahal harganya, dan hendaknya diteteskan pada saat-saat yg sangat berharga, bermakna dan luar biasa. Dan, adakah kejadian yg lebih luar biasa selain kematian seorang ibu? Tetesan air mata itu saya yakin tidak akan sia-sia. Ia akan berubah menjadi butir-butir mutiara indah mengiringi kepergian ibunda ke liang lahat.
Telpon Jusman di pagi hari itu juga mengingatkan saya pada peristiwa beberapa tahun lalu, saat saya di Aligarh. Bedanya, deringan telpon itu datang dari rumah saya di Malang, mengabarkan tentang wafatnya ibu saya. Waktu itu memang saya tidak menangis, mungkin karena cadangan air mata saya sudah habis. Tetapi, ada perasaan yg sulit digambarkan. Ada duka yg sulit diuraikan dg kosa kata bahasa Indonesia yg begitu terbatas. Ada rasa kehilangan yg tidak bisa dibandingkan dg kehilangan sebuah benda paling berharga apapun. Separuh hati dan jantung saya seperti mengikuti arwahnya ke alam baka. Separuh ambisi dan cita-cita saya seperti terbang entah kemana.
Tetapi, setelah lama melakukan retrospeksi dan memotivasi diri, saya kembali dapat mengurai kata-kata dg logika akal yg sedikit demi sedikit mulai dapat saya tata kembali. Saya kembali dapat melihat dunia dg apa adanya. Bahwa kematian itu adalah bagian dari kehidupan. Bahwa kehidupan itu akan terus berjalan ke depan, dan karena itu saya pun harus terus bergerak ke depan agar hidup saya tidak ditinggalkan oleh waktu. Saya yakin, dg pola pikir semacam ini akan membuat ibu saya dapat tersenyum bahagia melihat anaknya yg tidak lagi terbenam ke masa lalu. Saya juga yakin, bahwa rekan-rekan yg ditinggal ibunya seperti Jusman dan Bahrum memiliki pemikiran yg sama dg saya.
Kepada Jusman, saya cuma bisa mengulang kata-kata yg saya ucapkan waktu Anda nelpon itu, “Jus, sabar, Jus!”
dari sahabatmu yg ikut berduka,
Fatih
New Delhi, 11 November 2004
















Desember 15, 2007 at 2:13 pm
kita memang tidak akan tahu apa rahasia dibalik sesudah matinya seseorang, namun yang mesti kita kudu tahu, sudah siapkah kita akan menghadapi saat saat pengadilan akhirat ini..? cukupkah amal kita ..? Bekal apa saja yang perlu kita bawa dari nikmatnya kehidupan duniawi..?
By the way, the show must go on… hidup harus tetap berjalan…
Mei 28, 2008 at 2:24 pm
Dalam kasus ini saya teringat sebuah syair seperti ini.
Sewaktu Adzan mendayu dayu
ibuku pergi meninggalkan
perginya takkan kembali lagi
ibuku kau pemupuk kasih sayang baktiku
jasamu padaku tak kulupakan
selamat tinggal ibuku
do’a restu ku utuskan untuk mu ibu
semoga diri ibu ibu bahagia di akhirat yang kekal abadi
ibuku walau kau pergi dulu namun ku tetap mengingatimu
baktiku padamu seperti dulu selamat tinggal ibuku
nasyid