TKI TKW: antara Indonesia dan Filipina

antara Kita dan FilipinaAngelo de La Cruz dan TKI/TKW Kita

Sejak Irak diinvasi AS setahun yg lalu, negara Abu Nawas ini selalu menghiasai headline media internasional dg berbagai dinamikanya. Dari wacana soal legalitas invasi AS itu sendiri sampai pada tidak surut2nya pemberontakan rakyat Irak yg mengadakan perlawanan dg berbagai cara: dari menanam bom di pinggir jalan yg akan dilewati tentara AS, bom bunuh diri, sampai trend terakhir yg tak kalah dramatiknya adalah penyanderaan.

Salah satu korban penyanderaan terakhir bernama Angelo de La Cruz. Seorang sopir warga negara Filipina. Pihak penyandera menuntut pemerintah filipina menarik tentaranya yg berkekuatan sekitar 59 orang dari Irak, atau kalau tidak, De La Cruz akan dipenggal kepalanya.

Filipina berusaha bersikap tegas dg “tidak bernegoisasi dg teroris” seperti anjuran AS. Tapi akhirnya, menurut CNN/BBC hari ini (14/7/04) pemerintah filipina bersedia menarik pasukannya asal La Cruz dibebaskan. Dan pasukan filipina pada saat tulisan ini ditulis dikabarkan sudah mulai bersiap-siap meninggalkan Irak. Saya turut berdoa semoga De la Cruz dapat selamat dan berkumpul dg keluarganya di filipina.

Dalam proses negoisasi yg menegangkan dan dramatis antara filipina dan pihak penyandera, tak lupa Presiden Arroyo sendiri menyempatkan datang ke rumah istri La Cruz untuk menghibur dan membesarkan hati sang istri.

***

Filipina memiliki banyak persamaan dg kita. Secara geografis, ia berada di atas Maluku. Secara etnis juga sama-sama satu rumpun. Negaranya juga sama-sama miskin dan karena itu memiliki banyak TKI/TKW yg bekerja di luar negeri, terutama di negara-negara kaya seperti negara2 Arab Teluk, Malaysia, Hongkong, dll.

Bedanya cuma satu. Filipina sangat konsen dg nasib rakyatnya, terutama TKI/TKW-nya yg di luar negeri sedang kita tidak. Setidaknya inilah persepsi umum, dan citra buruk kita serta citra baik pemerintah Filipina ini bukan tanpa bukti. Contoh kasus De La
Cruz di atas adalah salah satunya. Dan kita bisa lihat contoh kecil fakta lain di masa lalu sbb:

- Sekitar tahun 1993, kalau tidak salah, ada TKI kita hendak dieksekusi di Saudi Arabia karena membunuh majikannya. Sehari menjelang eksekusi itu berlangsung, radio BBC siaran Indonesia mewawancarai pejabat KJRI Jeddah. Apa jawaban mereka? “Saya tidak tahu adanya rencana eksekusi itu. Pihak Saudi belum mengirim notifikasi pada kami!” Aneh, bukan? Tidak aneh. Itulah
Indonesia. Ada dua kemungkinan berkenaan dg jawaban tsb. Pertama, KJRI Jeddah berbohong pada BBC. Kedua, KJRI Jeddah memang tidak diberitahu. Kedua kemungkinan itu sama2 sangat buruk. Apalagi apabila yg terjadi adalah kemungkinan kedua, yg berarti bahwa KJRI/KBRI kita tidak dipandang sebelah mata di Saudi Arabia.

- Ketika seorang gadis Filipina bernama Paglabagan (?) hendak mengalami nasib yg sama yakni hendak dieksekusi di Uni Emirat Arab, gadis berusia 17 tahun ini selamat. Penyebabnya adalah kalangan diplomat Filipina bekerja keras bernegosiasi baik dg pihak pejabat
negara setempat maupun dg keluarga yg terbunuh.

- Ketika pada tahun 2002 TKI/TKW illegal Filipina hendak diusir dari Malaysia, Presiden Arroyo langsung mengadakan pertemuan darurat dg PM Mahathir Muhamad, dan hasilnya pengusiran itu ditangguhkan atau diperlunak. Pada saat yg sama, pengusiran terhadap TKI/TKW kita ke perbatasan Kalimantan trus berlangsung dan tidak sedikit yg sampai meninggal krn. sakit atau
kelaparan. Presiden Megawati tidak berbuat apa-apa. Menlu Wirayuda melakukan negoisasi setengah hati. Akhirnya yg banyak membantu para TKI/TKW yg terdampar itu kalangan LSM yg selama ini selalu dicurigai pemerintah. Ironis? Tidak. Itulah negara kita.

***

Di balik fakta-fakta akurat yg datanya bisa kita baca di media tsb., saya juga berkesempatan berbincang-bincang dg sejumlah TKI/TKW di Saudi Arabia ketika saya beberapa kali ke sana. Hasil dari “survei” itu kurang lebih sama dg fakta di atas, dg tambahan beberapa “rumor” yg bisa benar bisa juga tidak.

Konon, menurut seorang TKI kita di Saudi, kalangan diplomat Filipina sangat disegani dan ditakuti kalangan pejabat Saudi. Pasalnya, para diplomat Filipina ini umumnya sangat berani, tegas dan tidak kompromi apabila terjadi abuse pada TKI/TKW Filipina.
Sementara, kalangan diplomat kita di sana lebih sering tidak peduli dg berbagai keluhan para TKI/TKW yg datang setiap hari ke KJRI Jeddah/KBRI Riyadh. Boro-boro mau meneruskan keluhan itu ke pihak Saudi. Bertemu dg TKI/TKW saja sudah malas.

Saya pribadi pernah mengalami hal serupa. Sewaktu saya datang ke KJRI Jeddah, beberapa tahun lalu, saya dilarang masuk oleh seorang Satpam yg kebetulan orang Indonesia. Mungkin saya dikira salah satu dari para TKI/TKW di sana. Gaya melarangnyapun sangat tidak mengenakkan. Di belakang saya, berbaris para TKI/TKW yg juga hendak masuk. Setelah saya jelaskan bahwa saya
ini mahasiswa dari India dan hendak menemui salah satu diplomat di sana, baru muka satpam tadi agak ramah dan menyilahkan saya masuk. KJRI/KBRI adalah miniatur negara kita di luar negeri. Kalau di “negeri sendiri” saja kita disambut dg wajah-wajah beringas, lalu di negeri manakah kita akan mendapatkan keramahan?

***

Cara kerja para pejabat Filipina memang patut kita contoh. Sikap caring mereka, sikap pembelaan terhadap rakyatnya, sikap ketegasan dan sekaligus keberanian menanggung resiko demi membela selembar nyawa seorang TKI, seperti dalam kasus Angelo de La Cruz, betul-betul patut menjadi preseden dan tauladan bagi kita. Baik kita sebagai pejabat/diplomat yg sedang bertugas, maupun kita yg akan menjadi pejabat/diplomat di masa datang. Dan itu baru dapat terimplementasi kalau jabatan yg kita pegang didukung oleh integritas pribadi tinggi dan kapabilitas individual yg mumpuni sebagai syarat umum seorang pejabat yg diangkat karena kepantasan, bukan karena KKN.

14 Juli 2004
www.fatihsyuhud.com

About these ads

12 gagasan untuk “TKI TKW: antara Indonesia dan Filipina

  1. Ping-balik: Refleksi atau Renungan Ringan « __Ruang Hatiku

  2. sepertinya udah nggak diterima di negeri sendiri ya…. sayang banget pemerintah nggak bisa melakukansesuatu yang berarti buat mereka..
    salut buat mas fatih…yang ngangkat mereka dalam tulisan.

  3. sesungguhnya inilah dugaan warga indonesia
    harap anda terus berusaha mencapai yg terbaik
    kami di malaysia sentiasa mendoakan

  4. Emang sih pemerintah kita hanya memikirkan seberapa besar uang yang masuk kekantongnya saja dari para TKI/TKW kita, padahal sesungguhnya bukan untung yang diraih tapi buntung yang didapat

  5. Saya juga mengalami hal serupa pas mau masuk ke KBRI Hongkong sewaktu mau ketemuan ma temen yg kebetulan kerja disana. Di pintu masuk sudah dibentak kasar karena dikirain TKW yg lari dari majikan “kamu agennya siapa?” begitu bentak si front desk. Karena saya lebih judes dari dia maka sayapun balik memaki lebih kasar. Teman saya yang kebetulan staff junior jadi malu melihat kelakuan saya yang panjang kali lebar terus saja ngomel mengajak keruangannya untuk ngadem-ngademin saya.

    Coba pikir kalo saya benar-benar TKI yg lari dari majikan dan butuh perlindungan ke KBRI malah dimaki-maki di pintu depan oleh orang yg seharusnya melindungi, apa ya gak putus asa ?

    Apa sich bangganya jadi pegawai kedutaan ?, bangga karena pintar ? berpendidikan ?, atau bangga menjadi golongan kelas atas ? , jadi mentang2 sama orang-orang yg dianggap gak berkelas.

  6. Saya sedih banget tidak habis pikir dengan sikap pemimpin kita.Selama ini kita dihina oleh bangsa lain karena sikap pemimpin kita yang tidak mau peduli dengan rakyatnya baik didalam negeri apalagi di luar negri, kita sudah dianggap bukan manusia lagi sungguh menyedihkan kapan kita punya pemimpin yang bijaksana dan mau berkorban untuk rakyatnya dan disegani oleh bangsa lain.Malahan sekarang ini pemimpin kita dianggap cetek oleh pemimpin negara lain, karena ulah pemimpin kita sendiri yang sering menyakiti hati rakyatnya, selalu diperlakuan tidak baik apalagi rakyatnya seperti TKI/TKW banyak yang disiksa tetapi tidak ada yang membela……Saya kalau memikirkan ini selalu merasakan sakit yang tak terhingga, ingin menolong tapi tidak punya kekuatan karena saya hanya rakyat biasa tidak punya kuasa.Yah Allah lindungilah rakyat Indonesia dari kehancur karena ulah beberapa orang yang memiliki jabatan tetapi tidak Amanah.Dan yah Allah datangkanlah seorang atau lebih pemimpin yang amanah.Amiien………….

  7. Dulu,waktu lulus sma ,karena keadaan ,aku daftar jadi TKI ,selama 6 th ,selama kurun waktu itu aku bisa lihat karakter orang dr berbagai negara: taiwan,jepang,india,korea,apalagi indonesia pulang pergi ,mulai dr yg legal sampai yg ilegal.Menurutku birokrasi sekarang,tki/tkw,ato org indonesia adalah korban ,korban kebodohan,korban dr sistem pendidikan yg tidak bermutu.Bukan merasa pinter ,tapi kenyataan bahwa org bodo mau di kritik pakai corong didepan kupingpun gak bakalan denger .Kritik tidak akan berarti tanpa tindakan ,malah bisa mengarah ke fitnah ,benahi pendidikan kita,coba lihat anggaran pendidikan kita berapa?belum lagi yang di sunat.Sebagai org indonesia mari bahu membahu benahi pendidikan kita…..

  8. hanya ini yang dapat kita lakukan, menulis, mengkritik walaupun kalau bisa pinjam istilah anakmuda sekarang “capek deh….” untuk selalu mengingatkan.

    mengeritik ketidakadilan atau ketidakbecusan pemerintah bukan hanya berfungsi unt. mengingatkan mereka. tapi juga kita dan siapa saja agar tdk melakukan hal yg sama ketika menjadi pejabat pemerintah suatu hari nanti.

  9. memang menyedihkan para TKI dan TKW kita, banyak diantara mereka yang tiba di bandara sukarno hatta sering ditipu calo, bahkan ada yang menjadi korban perampokan bahkan pembunuhan (Komplotan Pembunuh Belasan TKW Terilhami Cerita Bangau dan Katak silahkan link beritanya http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=122756) didalam negeri saja mereka tidak terlindungi ? bagaimana diluar negeri yang jauh ?.
    pemerintah responnya sering terlambat, terkesan terlalu hati-hati nyaris takut, padahal tidak sedikit devisa yang dihasilkan oleh mereka.
    satu hal lagi pengawasan terhadap PJTKI masih lemah sehingga TKI/TKW yang berangkat kadang skillnya dibawah standard sehingga mungkin majikan atau bos si TKW/TKI menjadi kecewa dan melampiaskan kekesalannya kepada pekerja tersebut. Bagaimanapun TKI/TKW yang berkualitas akan meningkatkan martabat bangsa apalagi bila didukung sikap pembelaan dan dukungan pemerintah terhadap warganya yang mencari pekerjaan diluar negeri.
    kadang sebagai warga negara , saya kesel banget pada sikap pemerintah kita yang kurang perhatian para pahlawan penghasil devisa tersebut tetapi hanya ini yang dapat kita lakukan, menulis, mengkritik walaupun kalau bisa pinjam istilah anakmuda sekarang “capek deh….” untuk selalu mengingatkan.

Silahkan berkomentar dengan santun

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s