Saya termasuk keluarga besar. Tepatnya kami 10 bersaudara. Saya nomor 5. Pada waktu sekolah SD, ayah selalu memberi pujian setiap kali anak-anaknya mencapai prestasi tertentu di kelas masing-masing, kecuali pada saya. Saya merasa aneh. Ada perasaan dianaktirikan atau dibedakan. Setiap kali saya mendapat prestasi bintang kelas, ayah akan memanggil saya sendirian dan memberi saya pengarahan bahwa apa yang saya capai itu belum apa-apa. Beliau pun kemudian menyuruh saya membaca buku yang belum waktunya saya baca karena terlalu berat bagi anak seusia saya. Otomatis saya tidak paham. Di situ ayah kemudian berkata lebih lanjut: “Lihatlah, kamu belum bisa memahami buku ini. Kamu belum pantas mendapat gelar bintang kelas. Itu akal-akalan gurumu aja.”
Orang kedua yang berlaku mirip ayah adalah kakak tertua saya (laki-laki). Dia yang suka memanas-manasi saya untuk membaca artikel-artikel berat di Majalah Tempo saat saya masih SD. Dan sering mengatakan: “Kamu belum baca artikelnya Ong Hock Ham? Gus Dur? Gunawan Mohamad?” Kalau saya jawab, “Belum,” dia akan menjawab cepat, “Adikmu saja sudah baca.” Saya pun segera melahap semua artikel kolom opini Tempo itu takut ketinggalan. Belakangan saya tahu, adik saya belum membaca artikel tersebut dan, anehnya, tidak disuruh membacanya.
Pada usia ABG, saya melanjutkan studi ke pesantren. Otomatis saya berpisah dari ayah dan kakak tertua saya, dua figur yang sangat mempengaruhi pola hidup, pola sikap dan pola pikir saya kemudian. Di pesantren saya kembali dapat bintang kelas. Di sini saya “puas” karena saya mendapat guyuran pujian dari guru dan kekaguman dari teman-teman sekelas.
Tapi, keanehan terjadi. Pujian-pujian itu cuma bisa saya nikmati sesaat. Saya mulai merasa keblinger. Prestasi saya pun menurun. Saya merasa tidak ada tantangan karena mungkin saya merasa semua tantangan sudah saya “taklukkan.” Pada poin ini saya baru sadar bahwa sikap yang ditunjukkan ayah dan kakak tertua saya itu adalah yang paling cocok buat saya. Saya ternyata lebih termotivasi kalau sewaktu saya mencapai suatu prestasi tertentu saya diberi tahu akan adanya tantangan berikutnya yang perlu saya “taklukkan.” Intinya, saya termasuk golongan anak yang “tidak cocok untuk dipuji atau diapresiasi” secara verbal. Apresiasi yang saya senangi adalah apresiasi non-verbal yakni ketika langkah yang saya jalani atau ide yang yang saya ungkapkan ditiru atau menginspirasi orang lain dan itu tidak perlu diungkapkan pada saya, lebih baik kalau Anda membiarkan saya tahu sendiri.
***
Sejak saya sadar akan hal ini, saya merasa kurang nyaman ketika mendapat pujian verbal dari rekan-rekan. Saya lebih nyaman dan lebih senang ketika teman-teman dekat saya menawarkan “tantangan” berikutnya yang perlu saya “taklukkan.” Di saat yang sama, dengan bertambahnya usia, saya sudah bisa menciptakan “tantangan baru” sendiri saat tidak ada tantangan yang ditawarkan teman-teman di sekitar saya. Di sisi lain, saya sadar betul bahwa banyak orang yang yang memerlukan apreasiasi verbal agar lebih termotivasi dan karena itu saya cukup “dermawan” untuk memberi guyuran apreasiasi pada mereka apabila ada sikap dan langkah mereka memang patut diapreasiasi.
Mungkin tidak banyak tipe kepribadian seperti saya. Namun, percayalah tipe pribadi seperti itu ada. Di sini, tugas orang tua untuk cermat melihat kecenderungan anaknya agar anak Anda dapat berprestasi maksimal. Atau, mungkin Anda atau anak Anda memiliki tipe seperti saya?
-
1
Ping balik on Nop 22nd, 2007 at 4:45 am
[...] selalu kami syukuri karena masih banyak yang jauh lebih pas-pasan dari kami. Seperti yang saya tulis di sini, saya di “rekayasa” oleh kakak untuk rajin membaca tidak hanya bacaan normal umumnya anak-anak, [...]
-
2
Ping balik on Mar 3rd, 2008 at 9:33 am
[...] selalu kami syukuri karena masih banyak yang jauh lebih pas-pasan dari kami. Seperti yang saya tulis di sini, saya di “rekayasa” oleh kakak untuk rajin membaca tidak hanya bacaan normal umumnya anak-anak, [...]













22 September 2007 at 4:53 pm
bersyukur punya orang tua yang seperti itu mas Fatih.
Saya pun (seingat saya) tidak pernah dapat “hadiah” apa pun ketika Rangking di kelas, dan ternyata Alhamdulillah tidak membuat saya risau, malahan dengan itu bisa dapet rangking terus. Mungkin jika saya dipuji (secara verbal seperti mas fatih), saya pun akan jatuh
23 September 2007 at 2:39 pm
Sama dengan mas andi, setiap saya rangking ga pernah dapet apa-apa tuh, ya tetep aja saya berusaha yg terbaik. Tak ada pujian dan dorongan dari manapun. Hanya motivasi diri saja. Beruntung sekali mas fatih punya orang tua yang mau memperhatikan.
23 September 2007 at 5:39 pm
Salam Kenal.
http://www.alatsurveycenter.com/
23 September 2007 at 10:23 pm
ehe..he..ijinkanlah saya yang bodoh-cubluk ini memberikan komentar disini (Pujian pada Anak, Perlukah? ). Memang kalau kita memberikan/menyampaikan suatu pujian kepada anak terkadang dapat membuat si anak berbesar hati,bangga dan bahkan menjadi sombong..akibatnya si anak tersebut menjadi tidak eling (ingat) & waspadanya. Tapi…kalo nggak di puji kok ya sepertinya tidak ada pengakuan akan pencapaian/prestasi/eksistensi si anak tersebut akan suatu hal.
Nah..disini kita sebagai orang yang sudah tua & lebih berpengalaman di puji..menunjukan kearifan & kebijaksanaannya.
Misalkan : Wah juara 1 to Le (utk anak laki2x)/Nok (utk anak perempuan)..hebat..tetep pertahankan prestasi yo.., ben(biar) besok juara satu lagi..tetep rajin blajarnya…ojo kendo (kendor/kurang semangat).
Nah..tuh kan tetep dipuji tapi tetep diperingatkan supaya tetap sebisa mungkin berprestasi.
wah..sekali lagi maap kalo sekali lagi saya yang bodoh-cubluk ini, (memberanikan diri) berkomentar seperti ini.
Maturnuwun – terimakasih.
Ooiiya..salam kenal., beidewei blognya bagus & semoga akan lebih bagus lagi..(blog ku belon jadi je..belon bisa buat soale.,hehehe).
24 September 2007 at 2:39 am
Pujian pada anak itu perlu. Anak akan merasa puas pada dirinya sehingga lebih percaya diri dan memiliki motivasi tinggi untuk mencapai kesuksesan. Tapi janganlah memuji terlalu berlebihan, krn akan menjadikannya tidak percaya pada kemampuannya dan mengurangi motivasi anak untuk maju. Itu yg pertama. Yang kedua jgn terlalu sering memberi pujian, krn bisa membuat anak malas untuk mencoba hal-hal yang baru.
Pujian yang baik adalah yang mengandung dorongan. Dorongan lebih mengarah pada penghargaan usaha anak tanpa menilainya. Walaupun hasilnya mungkin tidak terlalu memuaskan, ia akan merasa usahanya sudah dihargai. CMIIW
24 September 2007 at 5:33 am
saya punya anak satu masih 17 tahun smu kelas 3, saya tidak tahu persis bagaimana, apakah pujian atau dorongan yang dia perlukan, dipuji, dorongan, celaan bagi anak saya hal yang lumrah. anak saya tidak pernah bereaksi apa-apa.
24 September 2007 at 11:10 am
Pengalaman anda sangat berguna untuk saya untuk memperhatikan anak and thanks.
Salam kenal!!!
24 September 2007 at 4:21 pm
mengajari anak itu berarti perlu 2 hal, memberikan pujian dan tantangan juga… kedua2nya sebagai orang tua mesti tau kapan itu digunakan…
atau misalnya dikasih pujian dulu habis itu dikasih tantangan
okeh…
24 September 2007 at 4:30 pm
Mungkin adakalanya sang anak sedang membutuhkan pujian sebagai penghargaan atas usahanya, namun suatu saat ia pun membutuhkan kritikan dari orang tua sebagai terapi motivasi.
25 September 2007 at 1:59 am
Lebih lengkapnya bisa baca disini
25 September 2007 at 6:31 am
Pendapat saya setiap anak itu mempunyai jiwa yang berbeda-beda bisa di pastikan tergantung orang tua atau lingkungan mendidiknya jadi kalo kita sudah hidup dilingkungan keras dididik keras pun sudah biasa begitu pula sebaliknya.Jadi masalah setuju dan tidaknya dengan opini Penulis itu berpengaruh juga terhadap Suatu faktor.
CMIIW
25 September 2007 at 8:05 am
menurut saya, semua harus dilakukan secara proporsional. ada pujian, ada teguran. ada hadiah, ada hukuman. semua diberikan kepada anak sesuai umur dan pemahamannya. yang penting ada keseimbangan lah. kalau memuji, sembari diingatkan agar nggak takabur. kalau menegur, juga ditekankan bahwa itu karena orang tuanya sayang
25 September 2007 at 10:06 am
Perlakuan ayahanda mas Fatif mirip dengan perlakuan Philipus ayahanda Alexander the Great yang selalu memuji teman teman sekelasnya lebih baik, padahal Alexanderlah yang lebih cakap dalam bermain pedang dibanding Ptolemeus.
30 September 2007 at 1:50 pm
Pujian pada anak saya rasa sangat perlu.Itu berarti sianak merasa dihargai atas apa yang dilakukan.
4 Oktober 2007 at 9:58 am
Mas, topiknya bagus. Aku mau link blognya ya. Thanks
9 Oktober 2007 at 3:19 am
Assalam… Topiknya Bagus mas! kalau boleh berkomentar (Pujian pada Anak, Perlukah? ) saya pribadi menjawab perlu! dengan dipuji anak akan merasa dihargai. Begitu juga dengan berprestasi, orang tua “seperti apapun sikapnya” pasti merasa bangga dan merasa berhasil mendidikannya. Bukankah Mereka “orang tua dan anak” adalah manusia yang sama-sama uniknya (sebagian maunya begini, sebagian yang lain maunya begitu). Wassalam…
19 Oktober 2007 at 10:58 am
Pujian itu penting, dengan pujian, seorang anak akan menjadi merasa dihargai, nah apabila si anak tadi mendapat yang kita ingtinkan dan (misalkan) janji kita terhadap si anak tidak kita tepati, si anak akan merasa tidak dihargai dan akhirnya menimbulkan efek psikologis, yakni pematian kreatifitas dan kemalasan melakukan hal-hal yang ia inginkan.
13 April 2008 at 7:39 pm
Bukan pujian yang diperlukan, juga bukan cercaan. Penghargaan atas apa yang telah diusahakan anak, apapun hasilnya, mungkin yang paling tepat.
Pujian yang berlebihan tanpa adanya prestasi bisa membuat anak tidak termotivasi untuk berupaya secara maksimal.
Kritikan pedas yang berlebihan bisa membuat anak dirundung rasa khawatir, takut tidak sempurna.
Penghargaan akan proses, evaluasi bersama akan hasil, serta dialog yang hangat akan sangat memotivasi anak untuk berupaya mencapai prestasi tertinggi tanpa harus mengkhawatirkan ketidaksempurnaan.
31 Oktober 2008 at 10:43 am
Thanks masukannya, untung saya baca ya,.. putri saya umur 3,5 tahun, mungkin saya harus cermat melihat, dia tipe yang mana ya??
28 Nopember 2008 at 2:27 am
salam kenal yo mas, mau ikutan koment nih…
Saya dan suami termasuk yang hobby ngasih pujian ke anak. Anakku baru satu, umur tiga tahun. Sejauh ini pujian cukup efektif untuk memotivasi dia agar semangat belajar atau mau mengulangi hal-hal baik yang sudah dia lakukan. Misalnya aja pada saat di belajar jalan, pada saat dia membuang sampah pada tempatnya, pada saat dia memakai baju sendiri, pada saat dia membimbing neneknya jalan, dll. Kita juga kasih dia teguran dan konsekwensi jika memang ada perbuatan yang tidak baik. Semua diberikan dengan porsi wajar sesuai umurnya. Sejalan dengan perkembangannya mungkin porsi pujian bisa berubah, tergantung anaknya nanti. Tapi yang namanya pujian,… tetap perlu lah….
Kunjungi blog saya yang masih pemula ini ya.. di http://alifque.wordpress.com
10 Januari 2009 at 11:55 pm
saya ibu dengan 2 orang anak putra dan putri…umurnya masih 5 dan 6 tahun. semuanya berebut perhatian…selayaknya anak-2 semuanya saling cemburu dan iri…jadi hanya pujian’lah yang membuat anak-2 merasa adil diperhatikan dan disayangi walaupun hal yang terkecil sekalipun.
20 Februari 2009 at 9:32 am
hmmmmmmmmm,,tulisan mas fatih sangat membangun,,makanya saya suka mapir ke blognya mas fatih!:D