Semua bermula dari sebuah Hadits Nabi yang berbunyi:
Shumu li ru’yatihi, wa aftiru li ru’yatihi.
Mulailah puasa Ramadan dengan melihat bulan sabit (hilal). Dan akhiri bulan Ramadan (yang berarti awal Lebaran) dengan melihat hilal.
Setidaknya di Indonesia ada dua penafsiran dalam memahami Hadits di atas.
Pertama, Muhammadiyah memahami kata “ru’yah” (Arab, melihat) di Hadits tsb sebagai bermakna “melihat dengan ilmu” konsekuensinya, Muhammadiyah memakai ilmu hisab/ilmu falak untuk menentukan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal.
Kedua, NU memahami kata “ru’yah” secara harfiah yang berarti “melihat bulan sabit dengan mata telanjang” Apabila bulan sabit/hilal tidak terlihat pada malam ke-29, maka puasa disempurnakan menjadi 30 hari seperti yang terjadi pada Ramadan 2007 / 1428H ini.
Kedua pendapat yang berbeda itu didasarkan pada perbedaan dalam menafsiri Hadits yang sama-sama menjadi sandaran kedua organisasi. Asal tidak ada self/political-interest dan didasari pada niat baik, kedua pendapat itu disebut ijtihad–yang apabila benar mendapat dua pahala dan apabila salah mendapat satu pahala.
Lebih penting lagi dari sekedar berbeda sehari itu adalah ini: apakah Anda berpuasa selama sebulan Ramadan ini? Kalau iya, apakah puasa Anda ada pengaruhnya–sedikit atau banyak–untuk semakin mematangkan atau mentrasformasi kepribadian Anda? Ini yang esensial.
Pada waktu yang sama, belajar saling menghormati perbedaan adalah proses pendewasaan kita sebagai Muslim di satu sisi dan sebagai bangsa di sisi lain. Muslim Indonesia yang dewasa akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang dewasa pula.
Selamat hari Raya Idul Fitri 2007 / 1428 H. Maaf lahir batin.
Filed under: Umum, Fatih Syuhud, lebaran, puasa, ramadan, ramadhan, ramadlan, Refleksi



[...] Mengapa Lebaran Berbeda [...]
(asal jangan beda karena gengsi, juga jangan sama karena asal)
http://rolays.blogspot.com
nAMBAH MAS….
Jadi lebaran beda ato bareng no problem. yang pasti jangan berpecah-belah karena we are one (QS 21:92-93 23:52-53)
Bersatu dalam masalah Ushul, toleran dalam masalah furu’. (asal jangan beda karena gengsi, juga jangan sama karena asal)
D E A L ???
Baca juga comment-nya: bukan NU bukan Muhamadiyah – Oktober 15, 2007
buat boengawan a.w, tanya aja ama org2 muhamadiyah hahaha.. sebenarnya jawabannya sederhana, siapa yg berhak nisbat? hayoo..
H A Y O O J U G A …….