jump to navigation

Mengapa Lebaran Berbeda Oktober 12, 2007

Posted by Blogger Indonesia in Blogger Indonesia, Fatih Syuhud, Refleksi.
trackback

Mengapa Lebaran Idul Fitri BerbedaSemua bermula dari sebuah Hadits Nabi yang berbunyi:

Shumu li ru’yatihi, wa aftiru li ru’yatihi.

Mulailah puasa Ramadan dengan melihat bulan sabit (hilal). Dan akhiri bulan Ramadan (yang berarti awal Lebaran) dengan melihat hilal.

Setidaknya di Indonesia ada dua penafsiran dalam memahami Hadits di atas.

Pertama, Muhammadiyah memahami kata “ru’yah” (Arab, melihat) di Hadits tsb sebagai bermakna “melihat dengan ilmu” konsekuensinya, Muhammadiyah memakai ilmu hisab/ilmu falak untuk menentukan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal.

Kedua, NU memahami kata “ru’yah” secara harfiah yang berarti “melihat bulan sabit dengan mata telanjang” Apabila bulan sabit/hilal tidak terlihat pada malam ke-29, maka puasa disempurnakan menjadi 30 hari seperti yang terjadi pada Ramadan 2007 / 1428H ini.

Kedua pendapat yang berbeda itu didasarkan pada perbedaan dalam menafsiri Hadits yang sama-sama menjadi sandaran kedua organisasi. Asal tidak ada self/political-interest dan didasari pada niat baik, kedua pendapat itu disebut ijtihad–yang apabila benar mendapat dua pahala dan apabila salah mendapat satu pahala.

Lebih penting lagi dari sekedar berbeda sehari itu adalah ini: apakah Anda berpuasa selama sebulan Ramadan ini? Kalau iya, apakah puasa Anda ada pengaruhnya–sedikit atau banyak–untuk semakin mematangkan atau mentrasformasi kepribadian Anda? Ini yang esensial.

Pada waktu yang sama, belajar saling menghormati perbedaan adalah proses pendewasaan kita sebagai Muslim di satu sisi dan sebagai bangsa di sisi lain. Muslim Indonesia yang dewasa akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang dewasa pula.

Selamat hari Raya Idul Fitri 2007 / 1428 H. Maaf lahir batin.

Komentar»

1. mulia - Oktober 12, 2007

asyik yang pertama..
sama sama mas fatih,
Taqoballalahu mina waminkum..
mohon maaf lahir dan bathin
Berbahagialah..berbahagialah..

2. mathematicse - Oktober 12, 2007

Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H. Mohon maaf lahir dan bathin. :D

3. AdhiRock - Oktober 13, 2007

Articles yang sangat bagus. Saya setuju mas.. kita harus belajar saling menghormati perbedaan adalah proses pendewasaan kita sebagai Muslim di satu sisi dan sebagai bangsa di sisi lain.

Selamat Hari Raya IduL Fitri 1428 H
MinaL aidzin waL Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

4. brahmasta - Oktober 13, 2007

Salam kenal,
Artikelnya bagus, saya jadi bener-bener mengerti kenapa lebarannya berbeda. Saya setuju dengan pendapat Mas di mengenai apa yang sebenarnya esensial.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin.

5. syarifuddin - Oktober 13, 2007

salam kenal,
Selamat Berhari Raya di tengah perbedaan, Mohon Maaf Lahir dan bathin. Kayaknya sampai kiamatpun sulit untuk menyatukan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah.

6. boengawan a.w - Oktober 13, 2007

bagaimana dg hadis lain yg isinya “jika hilal tdk terlihat, maka genapkanlah bulannya” ? jika memakai hisab, di manakah peluang hadis tersebut? sekedar ingin lebih jelas saja kok,biar plong..

7. siringoringo - Oktober 13, 2007

slam kenal…

kalau lihat dari perbedaan ini. seharusnya islam berdiri di garis depan untuk bisa saling memaklumi, saling menyayangi. Gak ada lagi bakar-bakaran gereja, gak ada lagi perang antar suku dan agama, gak ada lagi larangan mendirikan bangunan ibadah, gak ada larangan aliran tertentu….

8. Panduan Marketiva - Oktober 14, 2007

Jadi buat bingung saja bagi yang non muslim

9. franky - Oktober 15, 2007

perbedaan itu biasa, asal jangan memutuskan ukhuwah islamiah kita sebagai umat.
Selamat idul Fitri 1428 H, mohon maah lahir bathin, mas

10. anas fauzi rakhman - Oktober 15, 2007

Kalau istilah ‘beda tafsir’ kayaknya kurang tepat.
Bagi yg menggunakan metode hisab tentulah mereka mengetahui dengan jelas bahwa praktik Rasulullah menggunakan metode ru’yah (melihat) hilal dg mata telanjang.

11. bukan NU bukan Muhamadiyah - Oktober 15, 2007

buat boengawan a.w, tanya aja ama org2 muhamadiyah hahaha.. sebenarnya jawabannya sederhana, siapa yg berhak nisbat? hayoo..

12. mulia - Oktober 15, 2007

tambahin tuh mas fatih, denger2 kalo HT yang punya cita2 menyatukan islam di seluruh dunia itu, pengennya satu lebaran untuk semua muslim di dunia, jadi lebaran ngikutin arab. Bagus juga ya. soalnya pas lebaran di Norway jumat, nelpon ke rumah belom lebaran. kaya nya gimana gt..

13. fatih - Oktober 15, 2007

@mulia: saya cuma menulis realitas di lapangan dan bagaimana cara kita menyikapinya. aspirasi HT itu baru sebatas wacana, walaupun bagus tapi –setidaknya untuk konteks indonesia–harus mendapat “restu” dari NU dan muhammadiyah dulu. tanpa itu, ide tsb tidak akan berkembang ke arah implementasi.

14. Aris H - Oktober 16, 2007

Saat ini kita biasa menggunakan jadwal waktu sholat dengan akurasi sampai ke menit. Ini tidak pernah terjadi di zaman Rasullullah. Teknologi informsi belum sampai secanggih sekarang. Lihat saja waktu buka puasa saat nonton TV. Tentu waktunya beda-beda antar wilayah. Tak ada yg meri or jelouse, apalagi mangkel kok bisa mereka yg di wilayah timur buka duluan dari saya.

Jadi soal awal puasa atau kapan Idul Fitri bisa beda ini kira-kira bisa nggak disamakan dengan penentuan waktu sholat. Cuma yg satu pakai bulan yg lain pakai matahari.

Penentuan waktu yg demikian itu rukyah apa hisab hayoo?

Bermacamnya penentuan Idul Fitri bisa dilihat di Rukyah Hilal Indonesia : http://www.rukyatulhilal.org

15. dedi hamdani - Oktober 16, 2007

ASSALAMUALLAIKUM WARAHMATULLAH WABARAKATUH !
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1428 HIJRIAH !
MOHON MAAP LAHIR MIWAH BATHIN !
PERBEDAAN ADALAH KODRAT SEMUA MAKHLUK CIPTAAN ALLAH SUBHANAHUWATAALLA. KALAU MANUSIA BELUM MEMAHAMI PERBEDAAN MAKA RUGILAH MANUSIA ITU. KARENA SEJAK LAHIR MAKHLUK HIDUP SEMUANYA MEMILIKI PERBEDAAN, HITAM PUTIH, MANIS PAHIT, LAKI-WANITA, SIANG MALAM, PANAS DINGIN, DLSB.
KENAPA HARUS BERBEDA? KARENA KALAU TIDAK ADA PERBEDAAN MAKA TIDAK ADA BANDINGNYA MAKA MANUSIA KHUSUSNYA TIDAK TAHU JENIS MASING-MASING, RASA MANIS, GELAP TERANG DLSB.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALLAILLAHAILLAHU ALLAHU AKBAR.

16. mulia - Oktober 17, 2007

@dedi hamdani #15: perbedaan yang indah itu memang harus diterima dan dibiasakan u kita terima. ada ijo, kuning, merah. nah kalo beda lebaran, bagi saya kurang indah. kurang kompak begitu. mau hala bi halal juga bingung, ada y masih puasa, ada y udah pesta2. walau saya nggak maksa orang lebaran bareng, saya harap suatu saat bisa kaya yang dicita2kan HT itu.

17. Fajar Widodo - Oktober 18, 2007

Minal Aidzin Wal faizin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf Lahir Batin.
ikut komentar ah;

Ide HT itu (rukyat global) bukan hal baru (lawas) karena sebelumnya kelompok yg mengaku Salafy juga demikian. Tapi sekarang meraka tidak memakainya, tapi mengikuti pemerintah, baginya rukyat bukan lagi hal yang utama tp lebih kepeda keputusan pemerintah (*sikap yg plin plan itu juga menuai cibiran).

ikut Arab bagi saya juga tidak sepenuhnya bisa diterima karena Arab yg memakai Rukyat murni seringkali/mudah menerima sumpah perukyat padahal secara teori hisab masih jauh di bawah ufuk. belum lagi kepentingan Arab yg ingin seperti wuquf/Haji agar bisa diseting dapat jatuh di hari Jum’at (lihat kasus Haji tahun kemaren).

Bagi saya biarlah perbedaan ada, yang penting umat di jelaskan dengan cara yang cerdas, tegas dan konsisten. jangan dibodohi. kayak kemaren, Arab sudah lebaran Hari Jum’at tapi info itu ditutupi. dikira teknologi informasi belum maju.

18. Budayawan Muda - Oktober 18, 2007

Eid, Sungkem, Halal Bihalal, Dolan

Ini adalah ritual Lebaran.

Kebetulan saya warga Muhammadyah jadi Sholat Eid tanggal 12 di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, karena tempat terbatas sholat sampe ketengah jalan.

Sungkeman, adikku Seno lagi sungkem sama Ibu. Bapak lagi tugas di Laut Cina j…

19. Fakhrurrozy - Oktober 20, 2007

Lebih penting lagi dari sekedar berbeda sehari itu adalah ini: apakah Anda berpuasa selama sebulan Ramadan ini? Kalau iya, apakah puasa Anda ada pengaruhnya–sedikit atau banyak–untuk semakin mematangkan atau mentransformasi kepribadian Anda? Ini yang esensial.

Setuju.
Semoga masuknya bulan syawal bukan sekedar sebagai perayaan kemenangan dan seolah merasa bebas lepas dari berpuasa, melainkan sebagai momentum peningkatan amal dan keimanan kepada Allah SWT serta pembuktiaan tempaan selama Ramadhan.Insya Allah.

Tak lupa pula saya mengucapkan;
Selamat Idul Fitri 1428 H
Semoga segala amal ibadah kita selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Mohon maaf lahir dan batin

20. KSATRYA - Oktober 21, 2007

Letak geografis setiap bangsa kan da-beda to mas? artinya nongolnya si bulan juga gak sama.Ide HT yang pingin lebaran serempak apa gak neh-aneh.wong (setahu saya) gak ada hadits yang mengharuskan lebaran serempak, lho.
Secara tersirat Rasullullah sendiri dalam hadits yang udah dinukil di atas mengisyaratkan hal itu. “Shumu li ru’yatihi, wa aftiru li ru’yatihi.
Mulailah puasa Ramadan dengan melihat bulan sabit (hilal). Dan akhiri bulan Ramadan (yang berarti awal Lebaran) dengan melihat hilal.
Tapi untuk kasus di Indonesia gimana ya.Tanya deh sama Mbak diyah?
Baca juga deh Comment-nya kang boengawan a.w :
bagaimana dg hadis lain yg isinya “jika hilal tdk terlihat, maka genapkanlah bulannya” ? jika memakai hisab, di manakah peluang hadis tersebut? sekedar ingin lebih jelas saja kok,biar plong..

Selamat Hari Raya IduL Fitri 1428 H
MinaL aidzin waL Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

21. KSATRYA - Oktober 21, 2007

Baca juga comment-nya: bukan NU bukan Muhamadiyah - Oktober 15, 2007
buat boengawan a.w, tanya aja ama org2 muhamadiyah hahaha.. sebenarnya jawabannya sederhana, siapa yg berhak nisbat? hayoo..

H A Y O O J U G A …….

22. KSATRYA - Oktober 21, 2007

nAMBAH MAS….
Jadi lebaran beda ato bareng no problem. yang pasti jangan berpecah-belah karena we are one (QS 21:92-93 23:52-53)
Bersatu dalam masalah Ushul, toleran dalam masalah furu’. (asal jangan beda karena gengsi, juga jangan sama karena asal)
D E A L ???

23. KSATRYA - Oktober 21, 2007

(asal jangan beda karena gengsi, juga jangan sama karena asal)

http://rolays.blogspot.com