Oleh www.fatihsyuhud.com
Di Indonesia korupsi itu halal, malah terkadang membanggakan. Lihat saja, para koruptor yang diperiksa kejaksaan atau yang sudah resmi masuk penjara (lapas), tidak ada dari mereka yang menutup wajahnya di depan kamera wartawan media cetak atau televisi. Mereka malah menebar senyum. Sebagian dari mereka yang muslim malah memakai baju koko ala jamaah shalat Jum’at (mestinya pake kaos panjang loreng hitam putih seperti maling di kartun-kartun). Dengan baju putih itu, mungkin mereka ingin mengatakan bahwa korupsi yang mereka lakukan itu halal, toh masyarakat tidak ribut dan semua kebagian. Bandingkan misalnya dengan maling ayam, jambret, pencopet, PSK (saya lebih suka menyebutnya WTS) dan perampok yang selalu menutup wajah kala menghadap kamera wartawan.
Mengapa koruptor itu tidak malu? Apa penyebab utamanya? Betulkah mereka dan keluarga koruptor bangga dengan sikap maling bapaknya? Setidaknya ada dua faktor (a) sikap masyarakat yang tidak kritis pada kalangan birokrat (pns) plus sikap masyarakat yang terlalu mengagung-agungkan kekayaan dan kemewahan, tak peduli dari mana harta itu berasal; dan sebagai akibatnya (b) standar harga diri, martabat dan kesuksesan itu terletak pada seberapa kaya seseorang dan seberapa mewah rumah dan mobilnya. Kejujuran dan integritas pribadi tidak lagi menjadi tolok ukur kebanggaan; apa gunanya jujur kalau kere, begitu sebagian orang berpikir.
Masyarakat Konsumerisme
Dengan derasnya program TV yang tidak mendidik–yang pengaruhnya sampai ke pelosok desa– di mana kalangan selebritis (yang kebanyakan bodoh ) tampil di TV dengan pamer kemewahan dan opini naif, masyarakat menjadi terbiasa pada suatu nilai artifisial dan kebanggaan semu; kebanggaan konsumtif: bahwa untuk dihargai oleh lingkungan sekitar kita harus keren; gonta-ganti baju dan perkakas rumah model terbaru dengan merek terkenal dan pada level tertinggi gonta-ganti mobil dan sering jalan-jalan shopping ke luar negeri.
Dengan tertanamnya mindset semacam itu di dalam otak kita, langkah berikutnya adalah cita-cita untuk menjadi cepat-kaya akan secara natural menjadi obsesi. Sikap ingin kaya tentu saja baik kalau diimbangi dengan prinsip etika nilai positif universal: kerja keras. jujur dan bermartabat. Akan tetapi kalau obsesi jadi jutawan itu dimiliki oleh kalangan pemalas, maka skenarionya menjadi lain. Bagi yang kebetulan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), birokrat dan pejabat di Indonesia yang umumnya bergaji kecil, maka obsesi itu tidak mungkin terlaksana dengan cepat tanpa nyolong dan KKN. Bagi yang masih pengangguran, obsesi cepat kaya akan termanifestasi dalam wujud bermacam-macam kejahatan sosial: mulai dari maling ayam, mencopet, merampok, menculik, menjual diri, berjudi sampai jadi bandar togel.
Berubahnya Standar Etika Sosial
Puncak dari masyarakat konsumtif di atas adalah berubahnya standar etika sosial yang sudah menjadi etika universal. Kejujuran, pengabdian dan dedikasi tidak lagi menjadi standar yang membikin orang merasa bermartabat dan memiliki harga diri. Perasaan bermartabat dan memiliki harga diri baru terasa dimiliki ketika mereka sudah merasa mampu memiliki gadgets atau “mainan” yang menjadi simbol modernitas masyarakat konsumtif. Soal apakah untuk mencapai itu dilalui dengan cara kerja keras atau jadi maling itu tidak lagi menjadi isu penting.
Pada waktu yang sama, masyarakat secara kolektif menjadi permisif dan tidak kritis pada perilaku kalangan birokrat/pejabat dan anak istri mereka yang hidup serba mewah. Kekaguman masyarakat atas berbagai kemewahan yang dimiliki pejabat/birokrat korup itu menenggelamkan sifat kritis masyarakat dan menyusup tanpa sadar dalam sebagian besar masyarakat suatu ajaran sesat yang baru: jadilah PNS/birokrat kalau ingin hidup mewah. Berapa pun harga yang mesti dibayar. Di sisi lain, saya tidak menutup mata akan adanya kalangan PNS, birokrat, pejabat yang bersih. Tapi, percayalah mereka sedikit dan yang lebih parah mereka termarjinalkan dan dialienasi serta susah dapat promosi jabatan.
Dengan kata lain, seakan masyarakat dan para koruptor seakan tanpa sadar secara kolektif ingin sama-sama meneriakkan slogan: ”Korupsi itu halal, bung!”
Sumber: www.fatihsyuhud.com
Tulisan terkait:
- Korupsi dan Peluang Pendidikan
- Semua Pejabat Korup Sampai Terbukti Sebaliknya
- SBY, TRANSPARANSI dan KKN-isme
- Korupsi KBRI dan alasan gaji kecil PNS
- Hidup Sederhana Sebagai Pilihan
- Hutang RI dan Hidup Sederhana
- Mental Kuli
-
1
Ping balik on Okt 22nd, 2007 at 7:33 pm
[...] ——- Katarsis gara-gara baca korupsi itu halal, bung! [...]
-
2
Ping balik on Jun 1st, 2009 at 6:56 pm
[...] Lihat contohnya di sini. [...]














18 Oktober 2007 at 4:29 am
Jelaslah halal, korupsi itu hasil didikan sekolah dan agama.
18 Oktober 2007 at 5:36 am
semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin tinggi tuntutan akan gaya hidup, makin menipisnya moral… semakin menjadi-jadi para koruptor
18 Oktober 2007 at 5:45 am
halal or haram, bukan lagi standard perbuatan, makanya para koruptor tidak meresa bersalah ( dosa).Lucunya lagi,kalo dipenjara mereka merasa seperti pejuang yang terdzolimi.
Mungkin faktor lain penyebab maraknya korupsi adalah cara pandang mereka terhadap jabatan, koruptor tidak memandang jabatan sebagai amanah tapi sebagai sarana utk memperkaya diri.
18 Oktober 2007 at 6:50 am
Astagfirullah….
Kita juga miris dengan pesan & budaya yang dibawa televisi, makanya klo bs tontonlah acara yg bermanfaat,cari program yang mengedukasi.
18 Oktober 2007 at 9:36 am
yang namanya dajjal akan menunjukkan yang haram jadi halal dan yang namanya halal jadi haram
18 Oktober 2007 at 1:28 pm
Saya sering resah karena kere.
Membaca tulisan Mas Fatih membuat saya merasa tidak resah menjadi kere tanpa mengurangi semangat untuk menjadi kaya.
Hidup kere… hehehe
18 Oktober 2007 at 1:57 pm
Orang melakukan dosa krn tahu jalan tobatnya. Begitu juga dengan dosa korupsi, mereka korupsi krn tahu jalan tobatnya. Maling duit rakyat, sebagian hasil ‘malingannya’ dibuat mendirikan panti asuhan, buat bikin masjid. Mumpung belum akan mati… korupsi terus… ntar kalo udah sekarat, tinggal tobat… bikin deh masjid. Lha kan semua dosa bakal diampuni, kecuali Musyrik. (pemahaman para maling memang aneh dan cenderung menyederhanakan persoalan).
Gw harap para ormas Islam (ulama) bisa membuka pintu ijtihad untuk meng-evaluasi dosa korupsi.. agar orang yg mau melakukan tdk menyederhanakan persoalan dan takut melakukannya. Lha wong mau buka pintu ijtihad gimana tho?? Lha wong departemen agama itu departemen terkorup kok… padahal isinya orang2 ‘alim agama’??? Jadi gak sabar nunggu FPI mencak-mencak-barbar-sadis mukulin orang2 korupsi ketimbang mukulin penjual yg buka pas puasa
atau nunggu ada yg berani mengeluarkan fatwa Korupsi = Kafir. Daripada mengkafirkan orang yg merokok
18 Oktober 2007 at 2:08 pm
menyedihkan….
18 Oktober 2007 at 2:14 pm
Mungkin karena adanya ajaran/doktrin “menyucikan harta” yang menyesatkan?
18 Oktober 2007 at 2:34 pm
Hem…
(** mengangguk-angguk membaca komen Guh #9 **)
18 Oktober 2007 at 2:34 pm
@gimbal: very good point.
18 Oktober 2007 at 3:23 pm
Trus gimana ?? apa yang bisa kita perbuat ? punten yeu….
19 Oktober 2007 at 12:51 am
gantung aja para koruptor yang terhormat itu…
19 Oktober 2007 at 3:22 am
Tandanya Agama sudah tidak dapat menjawab kecanggihan evolusi perkembangan manusia, awal peradaban manusia mitologi, budaya, kemudian agama, sebenarnya semua sama tergantung kebutuhan, ada beberapa daerah yang masyarakatnya masih banyak menggunakan mitos, itu masih bagus..! mereka bisa melestarikan alam yang kita diami, tapi meraka yang mengaku beragama sebaliknya merusak (mengexplotasi) alam seenak udele, itulah meraka yang beragama tidak menggunakan “akal” tapi menggunakan “perut”
19 Oktober 2007 at 3:45 am
Kalau FPI yang mencak2, ntar pd bilang main hakim sendiri. susah deh.
Calon koruptor yang paling jelas tuh ya CPNS tuh (sori ya).
Tau sendiri kan kalau PNS itu gaji kecil. Tapi kok mash byk yang mau daftar?
Saya yakin kalau mereka ditanya pasti salah satu alasannya ya… SIAPA TAU DAPAT TEMPAT YANG BASAH.
Nah lho…
19 Oktober 2007 at 4:23 am
halal dan thoyib
bagi setan
karena selalu dekat dengan yang mengaku beragama
ngaku beragama belum tentu mengerti dan faham agama
sholat saja tidak cukup
namun yang lebih penting mengamalkan sholat itu dalam kehidupan sehari-hari dari nafas sampai kentut.
kalau koruptor atau maling berdasi memakai koko itu hanya karena setan tak jauh dari dirinya. yang pakai koko itu kan Rokhmin Dahuri mantan menteri DKP.
jangan di contoh dan jangan sekali-kali dijadikan sampel bahwa Islam indentik dengan koko. Rokhmin hanya menyembunyikan kemunafikannya dibalik baju koko, bagi Rokhmin pakaian merupakan kepalsuan. Saya kebetulan kenal Rokhmin yang selalu ceramah Islam kemana-mana, namun ternyata dibalik semua yang dilakukannya itu hany tipu daya setan yang bersemayam dalam diri Rokhmin. Audzubillah mindzalik !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
19 Oktober 2007 at 4:23 am
Aduh memalukan buanget!!!!! yg namanya uang haram hasil korupsi itu ibaratnya seperti air laut yg asin bila makin diminum maka akan semakin haus lha kita, kita harus berusaha tidak meningkatkan pos pengeluaran krn bila sudah meningkat, ya ampun nuruninnya susah buanget, maka perlu tambahan dari sana sini, repot jadinya.
Alhamdullilah dengan pendapatan yg selama ini diterima dan insya Allah, halal, kehidupan kita akan aman, anak anak sehat, sekolahnya lancar dan tidak melakukan hal yang tidak diridhoi oleh agama. Demikian sedikit sumbang saran.
Wassalam
19 Oktober 2007 at 4:32 am
kaliiii nee yah…kaliiii…..gara2 ajaran pak uztad yg bilang ambillah yg baik tinggalkan yg buruk, maka korupsi meraja lela….
gini neee…..pak pejabat rumahnya jelek, maka ditinggalkannya dan diambilnya uang rakyat buat dapetin rumah baru yg mewahhh…
pak pejabat istrinya buruk..makaaaaa diambilnya uang rakyat untuk beli istri yg kinyis2…eh salah yah?
maap…maap lahir bathin yah
19 Oktober 2007 at 6:36 am
Iklan anti korupsi saja seakan membela koruptor lihat di http://fajarbuana.blogspot.com/2007/09/iklan-lebih-sengsara.html.
19 Oktober 2007 at 7:56 am
ya..begitulah mental orang orang di Indonesia , di Indonesia ini sekarang rasanya sangat ZULIT……untuk membedakan barang haram dan halal, liat aja para kader pemimpin bangsa ini yang notabenenya para mahasiswa kalau mau urus sesuatu pingin sukses juga pinginnya instan maka jlan yang dipakai juga instan, dan ketika berkoar koar di jalanan mereka juga pakai jalan instan,maunya menang sendiri. Sauadara-saudaraku maru kita bangun negeri kita tercinta ini bersihkan diri dari dalam diri kita .merdeka dari http://www.apriok.wordpress.com
19 Oktober 2007 at 1:45 pm
ah ya, degradasi moral karena budaya superfisial…ngga heran
19 Oktober 2007 at 2:13 pm
kayanya memang Korupsi itu mati hati.. jadi yaa mati fikir mati rasa mati jiwa mati orientasi… lagian menurut saya, koruptor yang menghalalkan korupsi itu yaa sebenarnya gak cinta indonesia…
bicara korupsi gak usah bicara agama… karena bukan agama yagn menyelesaikan korupsi tapi hukum… di negara tak beragama spt komunis korupsi bisa diselesaikan sedikit dengan hukum2 itu…
19 Oktober 2007 at 5:26 pm
jadi pengen jadi koruptor…
20 Oktober 2007 at 1:15 pm
mm..
gara gara korupsi membawa banyak sengsara dan dilakukan banyak orang yang kelihatan suci, orang2 yang jelas2 beroccupation gak suci merasa lebih suci dari koruptor.
bitches, assasinator, perokok, ramai ramai teriak yang kami kerjakan lebih baik daripada korupsi.
apakah itu benar?
saya sendiri tadinya anti banget sama korupsi, sampai salah satu orang yang saya kagumi ketahuan korupsi, dan duit korupsinya pernah saya dan teman2 nikmati untuk kegiatan2 kampus,
saya shock.
proses pembelajaran saya alami ketika saya menuliskan shock saya itu dalam postingan ini http://mulia.nurhasan.net/2007/09/08/the-story-of-robin-hood-fpik/
some one told me, korupsi pegawai negri yang gajinya gak cukup untuk makan sendiri selama seminggu itu, secara hukum salah, secara agama, mubah. karena sistemnya salah dan si pegawai negri terpaksa memberontak sistem demi sesuap nasi.
saya masih mikir sih, bener kah?
20 Oktober 2007 at 1:38 pm
namanya juga “Gaya Hidup” zaman sekarang mas……
para koruptor itu gak ada yang sportif dan berani bertanggungjawab akan hidup, hidup tapi g berani hidup. berani korupsi tidak berani menerima konsekuensi. kalo dunia ini diisi oleh orang2 seperti ini kehancuran dunia akan lebih cepat disebabkan korupsi d1banding oleh pemenasan global.
kalo ada koruptor yang sportif, kayaknya layak tuh diberi acungan jempol sebelum menjalani hukumannya
20 Oktober 2007 at 1:49 pm
@mba aprina:
pak rokhmin koruptor yang sportif!
20 Oktober 2007 at 2:27 pm
@mulia #24 itu salah satu alasan klasik. mungkin bisa baca artikel ini -> http://afatih.wordpress.com/2005/12/09/korupsi-kbri-dan-alasan-gaji-kecil-pns/
21 Oktober 2007 at 1:09 pm
Pesan dari masa depan :
Duh neriku…gemah ripah loh jinawi. pemimpin adil, rakyat sejahtera. kekayaan negara dikelola dengan amanah. fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. toto titi tentrem kertaraharja. (awas jangan bilang: PREK !)
http://rolays.blogspot.com
21 Oktober 2007 at 6:04 pm
@mulia
kalau udah bosan denger makian terhadap korupsi yang tak kunjung selesai , mungkin lebih baik kita berkolaborasi dengan koruptor cuman sayangnya koruptor sendiri gak suka dengan koruptor lainnya. Sama dengan pencuri yang gak suka ada pencuri mencuri hasil curiannya.
mengenai pernyataan anda
“some one told me, korupsi pegawai negri yang gajinya gak cukup untuk makan sendiri selama seminggu itu, secara hukum salah, secara agama, mubah. karena sistemnya salah dan si pegawai negri terpaksa memberontak sistem demi sesuap nasi”
Anda bisa bayangkan akibat dari pernyataan anda ? 40 juta orang miskin termasuk pegawai miskin di Indonesia, sah untuk melakukan pencurian dan korupsi ramai-ramai dengan alasan demi sesuap nasi!!!!!,
22 Oktober 2007 at 12:02 am
ARUS GLOBAL SANGAT SULIT UNTUK DI BENDUNG, FILTER SERAPAT APAPUN SULIT MENYARINGNYA. HANYA DENGAN IMAN DAN KETEGUHAN HATI ARUS BURUK GLOBALISASI INSYA ALLAH DAPAT KITA HINDARKAN. YANG LEBIH SULIT MEMANG ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK REMAJA, APALAGI ORANG TUA YANG TIDAK MEMILIKI PEGANGAN ILMU YANG CUKUP.
SEKALI LAGI HANYA BERPEGANG KEPADA AL-QURAN DAN AS-SUNNAH INSYA ALLAH SELAMAT DUNIA DAN AKHIRAT.
22 Oktober 2007 at 3:49 am
Sekalian aja bikin acara “cek & ricek koruptor”,biar tambah terkenal para koruptornya..
22 Oktober 2007 at 6:13 am
hidupgantung koruptor22 Oktober 2007 at 6:15 am
gak ada habisnya bahas yang seperti ini.
harusnya kaya pelaku sodomi di malesa sana, dipajang mukanya di tempat umum dan internet.
22 Oktober 2007 at 7:29 am
Para penegak hukum kita juga terlibat dalam masalah ini. lalu dari mana harus dimulai.
Jawab untuk diri sendiri : Mulai dari diri sendiri.
22 Oktober 2007 at 8:45 am
mana ada korupsi yang hallal ada juga yang pura pura gak tau kalo korupsi itu haram
23 Oktober 2007 at 12:09 pm
SEHARUSNYA INDONESIA HARUS BERANI MENGHUKUM SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN TINDAKAN KORUPSI, SEPERTI DI NEGARA TETANGGA YANG MENGHUKUM PELAKU KORUPSI, BAIK ITU PENGUASA, MANTAN PENGUASA, PEJABAT, MANTAN PEJABAT, PENEGAK HUKUM, MANTAN PENEGAK HUKUM, KAYA, MISKIN….
PELAKUNYA HARUS DIHUKUM TANPA PANDANG BULU……
KALAU LOLOS YA… HUKUM AKHERAT LEBIH DAHSYAT !!
23 Oktober 2007 at 4:28 pm
emang bener ga ada abisnya kalo ngomongin hal seperti ini.yang terpenting para koruptor itu tahu kalo dia korupsi.
Dunia itu penuh tipuan…
orang sama bini aja sering nipu apalagi ma orang lain…
23 Oktober 2007 at 11:52 pm
sistem lama butuh digantikan dengan yang baru nih!
24 Oktober 2007 at 4:50 pm
@daeng limpo: weks…ok boz..
26 Oktober 2007 at 7:55 am
Kalau jadi anaknya koruptor, minggat aja dari rumah, jangan jadi senang dan menikmati naek mobil mewah hasil jarahan Bapak.
Kalau jadi istri, gugat cerai saja jangan malah senang pakai perhiasan emas berlian yang dibelikan Bapak.
Kalau jadi tetangganya, nggak usah dikasih senyum kalau lagi berpapasan. Bahkan secara komunitas, saya pernah mendengar (perlu verifikasi) bahwa ada ormas islam yang mengatakan “haram” hukumnya mensholatkan jenazah koruptor.
Masalahnya siapa yang bisa men”cap” bahwa seorang itu koruptor atau bukan ? Saya kira bukannya pengadilan, karena belum tentu seseorang bisa dibawa ke pengadilan.
Mending dirinya sendiri yang buka ke publik tentang sejarah harta yang dia dapat. Laporlah ke RT atau RW dari mana hitungannya bisa beli mobil tiga buah, rumah mewah dan tanah berhektar.
26 Oktober 2007 at 12:49 pm
Asal mulanya korupsi itu sebenarnya dari hal yang baik, yaittu saling memberi hadiah. Budaya ini jadi bernama korupsi karena sudah merambah area publik, ini yang bikin masalah, dan lama kelamaan, ya budaya baik itu ilang bermetamorfosis jadi maling uang negara. Masa uang negara yang notabene uang rakyat di petak-petak kaya tanah. Si A yang anggota DPR dapat sekian M, si B ketua DPR dapat …M, dsb. Gitu kan ya kira-kira.
SALAM DUNIA KANG-OW
ANAS LEE
26 Oktober 2007 at 1:24 pm
Hi Mr Syuhud,
I came across your site when I was searching more bloggers who voice their opinions and views on corruption issues in Indonesia. I think it is very brave of you to write this post with analytical point of views. A lot of people can condemn but not many can provide with insights of why they behave the way they do. I have issues with corruptions too and the latest took toll just earlier today with the immigration department. If you have time, maybe you can write something on the mix couple immigration law which have troubled a lot of mix marriages around this country.
Thanks
2 November 2007 at 6:51 am
Astagfirullah….
Tahu dia korupsi terus telah ditangkap dan diadili pakaiannya di ganti percis seperti ustad(Maaf untuk para ustad jangan salah paham…),seolah-olah menutupi kesalahannya atas perbuatan dirinya dan saya katakan “KORUPTOR”macam ini telah memfitnah orang lain atau malah berlindung di bawah atas nama agama yang mayoritas Islam, akhirnya orang lain mencap agama islam tidak benar.Sungguh tidak tahu diri……….dan sangat biadab telah menyengsarakan orang lain.LO….tahu ngak sihhhhh kalau “KORUPSI” itu harammmmm jadahhhhhhh……..!!!?????
10 Desember 2007 at 7:17 pm
fantastic! brilliant thought. shada kush raho tum, dua i hamari. salam buat mr. rizqan and mr. qisai
11 Desember 2007 at 1:03 am
@andiesummerkiss #43
Could you email me, and telling me what happen with your case? im considering to write about it
4 Februari 2008 at 12:31 pm
wadu saya sudah lelah dan prihatin dengan bangsa Indonesia, kapan sih korupsi berhenti, saya sarankan bagi anda-anda yang pecandu korupsi anda pas udah mati akan diceburkan ke neraka yang paling dalaam
12 Februari 2008 at 5:06 pm
Kebayang ngak sih, repotnya seorang PNS disuatu departemen yang akan diaudit, misalnya sama BPK dan berdoa siang malam supaya korupsinya ngak ketahuan, malu ngak yang berhadapan dengan sang kholik, minta perlindungan-Nya.
Sedangkan kita yang kere ini minta dilancarkan usaha kecil kecilan kita, merasa kecil di hadapanya, karena ngak sebanding apa yang kita minta dengan perbuatan kita.
Kadang saya yang bodoh merasa bingung, kebanyakan yang korupsi orang terpelajar dan bukan sedikit waktu kuliah atau sekolah aktif dikegiatan keagamaan kampus atau sekolah.
Sudah habis kata kata saya tentang kekecewaan terhadap pemberatasan korupsi di negeri ini.
19 Juli 2008 at 3:14 am
Koruptor itu memang pengikut iblis. Tanpa perlindungan diri yang kuat mereka akan terayu bujukan iblis.
Merujuk Al’Quran surat Al Maaidah ayat 38, ada baiknya koruptor itu dipotong kedua tangannya.
Koruptor itu telah melanggar kewajiban asasi manusia dan sekaligus hak asasi manusia lainnya.
Jadi tidak perlu mereka dibela oleh pengacara, karena koruptor itu telah melanggar hak asasi manusia lainnya. Dana yang seharusnya bisa untuk kepentingan negara dan rakyat dimanfaatkan oleh koruptor. Mungkin mereka sudah tidak punya rasa malu lagi, padahal malu adalah sebagian dari iman.
Kalau kita lihat setelah koruptor itu meninggal, dia tidak membawa hasil korupsinya.
Untuk apa menumpuk menumpuk harta. Kayaknya koruptor tidak percaya kepada Tuhan Allah SWT.
Kalau begitu sama donk dengan komunis.
20 Juli 2008 at 2:08 am
Ada ngga ..ya …???… tutorial Korupsi,
habis uadah kerja halal bertaun-taun ngga juga kaya….eh malah banyak utang.
kalo korupsi kan cepat kaya , kalo udah kaya bisa nyumbang kesana kemari ,dan kalo ketahuan paling dihukumnya ngga lama……..
dan setelah keluar …..uang yang dibank udah berlipat lipat…..
uuuenak tenan .didunia ………..
diakherat ……………….????????? sapa nyang tahu ????
20 Juli 2008 at 2:44 pm
Kalau kita pelajari isi Al-Qur’an , maka kesimpulannya Koruptor itu tidak percaya kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Coba kita renungkan surat 42 AsySyura ayat 47 yang bunyinya sebagai berikut:
“ Patuhilah Seruan Tuhanmu untuk beriman dan beramal salih, sebelum tiba hari yang tidak dapat dielakkan lagi karena kepastian dari Allah. Pada hari itu, kamu tidak memperoleh tempat berlindung dan tidak pula dapat memungkiri dosa-dosamu “
Dan kepada mereka yang gemar menumpuk-numpuk harta dan bermegah-megahan telah diingatkan pula oleh Allah dalam surat 102 At Takatsur.
Dengan demikian, koruptor, kapitalis dan sejenisnya yang gemar menumpuk-menumpuk harta sudah jelas termasuk mereka yang tidak percaya kepada Tuhannya.
Dulu kita anti kepada komunis karena mereka tidak percaya kepada Tuhan, dan kita hancurkan bersama, dan ketika itu ada aksi dari pemerintah tentang “Bersih diri dan lingkungan dari komunisme”
Apakah koruptor dan kapitalis tersebut diatas yang jelas-jelas tidak percaya kepada Tuhannya, bisa digolongkan sama dengan komunis ?
Cobalah renungkan dan berpikir secara realistis ! Kita diciptakan oleh Tuhan dan diberi tempat berupa Alam Semesta untuk kita berkreasi dan beraktivitas.
Lalu kita tidak percaya kepadaNya yang artinya kita tidak tahu balas-guna.
Tanda-tanda dari hari yang tidak dapat dielakkan lagi itu (hari pembalasan) sudah terlihat dengan semakin banyaknya orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Banyak orang yang berfalsafah “EGP” (Emang Gue Pikirin).
Fenomena alampun sudah terlihat berupa pemanasan global, bencana alam yang dahsyat dan penyakit aneh dimana-mana.
Kalau manusia tidak berkiblat kepada hukum Tuhan, maka hasilnya Dunia ini akan hancur. Siapa yang akan menang hukum Tuhan atau hukum yang dibuat manusia ?
Teknologi siapa yang hebat ? Teknologi yang diciptakan Tuhan atau yang diciptakan manusia ?
Hasil akhir dari ulah kita tidak percaya kepada Tuhan adalah kehancuran. Ini sudah merupakan rumus universal.
13 November 2008 at 4:53 pm
yang kasi komentar jangan sok suci lah…. introspeksi aja diri masing-masing apa kita udah bener atau belom? soal orang mau pake baju koko, biar itu maling ayam sekalipun, copet atau malah ustad, itu semua hak mereka. Emang cuma kita aja yang berhak pake baju koko? apa kita udah yakin bahwa kita bersih dan sempurna? hanya pengadilan Tuhan yang adil…bukan pengadilan oleh manusia….
3 Januari 2009 at 5:01 pm
Artikel diatas sangat bagus sekali Mas. Boleh nda artikelnya saya reply (posting ulang) ke Blog Kawanua Law Crime.