Seputar Blogger Anonim blogger indonesiaApakah Anda setuju dengan blogger anonim yakni blogger tanpa nama (anonym) atau pakai nama samaran (pseudonym)? Kalau Anda ingin memberi jawaban secara umum silahkan langsung berkomentar. Tapi kalau ingin berkomentar secara komprehensif, jangan komentar dulu sebelum membaca serial tulisan seputar blogger anonim di link-link di bawah biar komentarnya tidak ngaco dan asbun. Selamat membaca.

  • Why Ghost Blogger
  • Why Ghost / Pseudonymous Blogger (2)
  • Anonymity and Credibility
  • Scientific and Credible Blogger
  • Why They Blog Anonymously and We Do Not
  • Being Critical within and without

    1. saya setuju dengan nama samaran ……
      karena biasanya kita lebih pede saja dengan nama samaran

    2. dari dulu kala saya paling sebel ama anonim, termasuk foto ato identitas lain yg gak jelas, apalagi kalo orang itu publikasi pendapat – apapun pendapatnya, baik nyontek atau asli pendapatnya sendiri.

      Namun saat ini saya berpendapat rasa sebel itu tak bagus, makanya saya sedang melatih diri turut merasakan bagaimana rasanya menjadi makhluk anonim (yg mungkin disebelin banyak orang) yg tak terlalu menyebalkan

    3. welgedewelbeh
      This issue has been discussed on my blog since last month. I even used some references from your blog. What I am not agree with you is that you tend to use western point of view to justify the credibility, the critical thinking and so on. I have criticized these matters in the same article on my blog.
      http://mulut.wordpress.com/2008/01/08/ternyata-niat-baik-saja-dianggap-tidak-cukup/

      #it seems you haven’t read all articles i’ve written in this regard. read it all carefully, and write another articles calmly and profesionally afterwards without intending to be self-defense. a pseudonymous blogger defended the pseudonymity is lack in credibility. it’d be read by others as simply apologetic reaction.

    4. You wrote 7 articles and you still can’t find the right answer? *joke*

    5. Asal bermanfaat dan berbagi kebaikan, tiada hal sia-sia didalamnya

    6. yes i really hate the anonymous .. in the normal condition like now.. i think the person who used anonym is irresponsible ( ehmmm he doesnt want responsible to what he said / wrote.. very bad :(

    7. Yang suka anonim ama pseudonym, biasanya cuman nyari nyaman aja, atau boleh jadi karena takut ketauan belangnya. Sungguh tidak baek kalau orang nyembunyiin identitasnya, sama kaya copet yang kalau nyopet kagak pernah ngenalin dirinya, apalagi alamat sama nomor hape.

      Menurut ane, yang suka anonim cenderung pengecut! Yang pseudonym gak punya harga diri! Kagak punya nyali gitu…! :mrgreen:

      Untung ane anonym juga… :mrgreen:
      *dilempar bakiak*

    8. Kalo buat saya sih, lbh baik pake nama asli.., knp nggak mau nunjukin identitas asli? Mungkin org2 yg pake nama samaran itu pada malu krn namax jelek atau kyk wong ndeso gitu…hehehe… :p

    9. Katanya dengan nama samaran lebih banyak yang tertarik untuk ngeklik. bener ngga ya..hehe..

    10. setuju ma komen no 5. “Jangan lihat tekonya lihat apa isinya”

      #Anda mungkin perlu baca ini dulu -> http://fatihsyuhud.com/2007/08/29/scientific-and-credible-blogger/ apa yg anda katakan benar tapi setengahnya. :)

    11. welgedewelbeh
      Your answer reflects perfectly my point.

      a pseudonymous blogger defended the pseudonymity is lack in credibility. it’d be read by others as simply apologetic reaction.

      . Your understanding about credibility is so simple and even intellectually arrogant. Simply judging my opinion about pseudonymity as a self defense just because i, in the same time, hide my real identity is the common current western pattern of judging that i object to. For me, that’s one of the current common western intellectual pitfalls although it is not for they who are logically consistent. This pitfall is one of the most misleading logical fallacy (Argumentum ad Verecundiam) that we should avoid of. This tendency doesn’t cover a noble wisdom of accepting the truth wherever it comes from, which is embedded naturally in the traditional eastern scholars culture and disciplines.

      Most of our people used to be a paternalistic society. They used to see who said a thing instead of what they said. In so many cases, it would be much easier for a writer to get an attention and earn acknowledgment if they said they were a doctor, a professor, a famous university lecturer, or undertaking a PHD in an overseas university. For me, as i write in my disclaimer, I’d like to teach my self and our society to not fall in this fallacy.

      For me, blog is a place to share a personal opinion publicly. Any response to an article is a public consumption as it is intended to. If there’s some reader wanting to have a personal correspondence with me because one or some reasons i would love to respond; They can access me via my email address. If i found some shared interest which is beneficial for both of us, i would not reluctantly reveal my real identity as well as if some one fell being insulted and had my article to a court.

      #it seems you haven’t read all articles i’ve written in this regard. read it all carefully, and write another articles calmly and profesionally afterwards

      I had read all of those articles even before i wrote my article. It seems that this statement is another proof of misjudged assessment by Argumentum ad Verecundiam, isn’t it?.

      #hehe your arguments are unchanged. the points expressed are quite similar. so it cannot go further. just like america’s presidential debates, let our brilliant readers decide with their repective conscience wether they will go hiding inside their cave or “basking in the sun”. :)

    12. Sory mas, saya gak bisa bahasa ingris jadi gak ngerti dech maksud tulisannya mas fatih.
      Jadi no komen dah, dari pada komennya ngawur

    13. Mas Fatih,

      Sdr Mulut ini memang kelihatannya punya masalah pada pemahaman. Dia jelas sudah baca semua tapi tetap tidak paham.

      Dari contoh yang dia beri :

      They used to see who said a thing instead of what they said. In so many cases, it would be much easier for a writer to get an attention and earn acknowledgment if they said they were a doctor, a professor, a famous university lecturer, or undertaking a PHD in an overseas university

      Itu semua bukanlah identitas tapi hanya status. Dia tak bisa membedakan status dan identitas. Dan dia punya konsep sendiri tentang tanggung jawab yaitu asal bisa dihubungi lewat email…. hahahaha tanggung jawab model apaan tuh….

      Nanti akan banyak sekali para provokator dan pelempar fitnah yang merasa sudah bertanggung jawab hanya dengan menyediakan sebuah email.

      Konsep pikir yang kontradiktif karena dia minta diapresiasi selayaknya sebuah pribadi tapi untuk menyebut dirinya saja dia bahkan tak menggunakan nama samaran tapi menggunakan kata Mulut yang tak mewakili pribadi.

      Memang benar diskusi tidak bisa berkembang lebih jauh lagi karena dia terjerembab disitu.

    14. hmmm saya pribadi lebih suka pakai nama asli karena tujuannya untuk menjaga saya sendiri supaya nggak ngomong sembarangan. Masalahnya saya kadang suka ngomong sak enake dhewe sih, bikin reseh, suka protes, provokator, wis pokoke gak main. Kalo pake nama asli saya bisa kontrol diri. Mungkin kalo sudah jadi orang baik baik, saya akan pake nama samaran. Sorry bukan berarti yang pake nama asli itu bukan orang baik baik lho…Ini hanya untuk saya sendiri…

    15. bagaimanapun anonim atau tidak merupakan pilihan tersendiri… dua-duanya patut dihargai.

    16. idem ma adem aja mo pake anonym apa pseudonym.
      hak mereka seh…

    17. untungnya shino ga bisa bahasa inggris eheheheh tapi masalahnya komplek juga ya… anonim… pseudonim… berminat??? ^ ^

    18. kalopun pake nama samaran atau anonim sebaiknya fotonya dikasih yg asli deh. Ada alasan pake nama samaran biar kereeen….

    19. tetap saja, hidup adalah pilihan. kita nyaris tidak memiliki kekuatan untuk memaksa lebih, hanya sekedar berupaya mengingatkan. jadi, biarlah. karena arti dan pandangan sebuah nama bagi tiap orang pun berbeda, jadi biarkan mengalir seperti halnya hidup. bukankah dengan nama asli, sama sekali tidak menghapuskan kemungkinan untuk menipu, seperti halnya dengan nama palsu, sama sekali tidak kehilangan kekuatan untuk menebarkan rahmah dan kebaikan.

      terima kasih telah berbagi, saya memilih seperti ini saja …

    20. gw sih ga ngerasa anonim atau pseudonim bermasalah… soalnya ngebocorin identitas di internet (apalagi di forum & blog yg bisa dibaca semua org) kurang aman menurut gw…

    21. eka fajariyah

      Nama : Eka Fajariyah
      NIM : 0701801
      Kelas : 2 G

      indonesia sangat banyak para perokok. sehingga mereka tidak memikirkan orang yang ada di sekitar mereka. para perokok pasif pun terkena dampak dari para perokok aktif. didaerah dilarang merokok pun mereka masih melanggar peraturan itu. para perokok itu tidak sadar telah memberikan contoh yang tidak baik untuk para anak kacil ataupun murid mereka yang berprofesi sebagai seorang guru. banyak para orang tua pun merokok didepan anak-anaknya, sehingga anak mereka pun mencontoh ayah nya sendiri.
      para pendidik yang seharus nya memberi contoh yang baik untuk murid ataupun mahasiswanya malah memberikan contoh dengan mereka merokok di tempat mereka mengajar. para hansip, bintara, dan TNI, mereka sebagai aparat mereka sering berkampanye tentang bahaya rokok, tetapi masih banyak para aparat yang melanggar peringatan tersebut.
      akibat contoh yang di berikan oleh pendidik atau perokok yang ada di sekitar, para murid sering sekali melanggar peraturan sekolah, yang melarang mereka untuk tidak merokok. mereka dengan mudah mendapatkan rokok tersebut. yang penting anak itu memiliki uang untuk membeli rokok tersebut. ditempat kasehatan pun mereka masih bisa merokok. mereka tidak pernah berpikir jika perbuatan mereka merokok itu menyebabkan banyak orang atau para perokok pasif, dengan mereka menghisap asap rokok itu akan terkena penyakit. dalam rokok terdapat 4000 zat kimia beracun. kita berdekatan dengan orang yang terkena penyakit HIV AIDS belum tentu kita tertular penyakit tersebut, tetapi dengan kita berdekatan dengan seorang yang sedang merokok kita akan tertular penyakit dari asap rokok yang kita hisap. seorang perokok pasif akan merasa sesak, jika mereka menghisap asap rokok.
      para olahragawan yang seharusnya tidak merokok, mereka pun merokok dengan alasan untuk menghilangkan rasa tegang atau stres dalam menghadapi pertandingan yang akan mereka lakukan. cabang olahraga sering sekali meminta perusahaan rokok untuk mensponsori tournament yang akan di laksanakan, sebut saja Sepak bola dan Bola Voli. mereka melakukan itu untuk kelancaran kagiatan tournament tersebut. tidak sedikit orang yang kehilangan nyawa karena sebuah nama rokok. padahal dalam bungkus rokok sendiri sudah ada peringata bahwa rokok menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin untuk wanita. tapi peringatan tersebut tidak di hiraukan sama sekali oleh perokok dan perusahaan yang memproduksi nya. bagi para perokok, rokok sudah menjadi dari sebagian hidup mereka, dan bagi mereka rokok adalah adalah teman sejati mereka, bahkan ada yang berbicara lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. seorang pemuka agama pun yang mengerti tentang hukum islam masih banyak yang merokok. mereka tidak mengindahkan peringatan ataupun aturan yang ada. ditempat atau ruangan yang jelas-jelas ada tulisan atau gambar yang menunjukan dilarang merokok mereka masih merokok.

    1. 1 Identitas seorang blogger. « Wayan Artana-Structural Engineer in Bali

      [...] dulu kala…..kesiangan nich! ..(ups, tunggu dulu ini juga ada posting tentang blog anonim, seperi tulisannya Master blog ini)..Tapi sekali lagi nggak apa khan? toh dari semua itu tidak ada kesimpulan yang mutlak dan [...]




    Leave a Comment