Mengapa Fatih Syuhud Tidak Pakai Gelar AkademisItu pertanyaan seorang teman waktu bertamu ke rumah. Saya memang tidak pernah menempelkan gelar-gelar kesarjanaan saya baik di kartu nama, surat-surat resmi maupun di KTP. Padahal kalau saya mau memasang semua gelar akademis sebelum dan sesudah nama saya akan cukup menyulitkan tukang ketik KTP dan kartu nama. Sekali lagi, mengapa? Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini logis. Saya lihat bahkan teman-teman yang tak bergelar pun terkadang memakai gelar di kartu namanya. Akan tetapi apabila kita mencoba berada dalam posisi netral, berusaha untuk tidak dipengaruhi suatu tren di sekitar kita, pertanyaan itu sendiri terdengar tidak wajar. Pertanyaan yang wajar justru sebaliknya: “Mengapa gelar-gelar akademis mesti dipakai?”

Mengapa musti ditempelkan di nama kita di setiap waktu? Bukankah gelar akademis hanyalah tanda bahwa kita sudah menyelesaikan suatu studi tertentu? Mengapa kita mesti memakainya dalam suatu aktifitias di mana gelar itu tidak diperlukan?

Seorang sarjana hukum yang menjadi pengacara, hakim atau jaksa atau dosen tentu perlu memakai gelar SH atau Mhum-nya saat dia bertugas di bidang hukum. Tetapi, jelas gelar itu tak perlu dipakai ketika dia sedang menyanyi karaoke di suatu klab malam; atau sedang menduduki jabatan yang tak ada kaitannya dengan bidang hukum. Seorang Camat, Bupati atau Gubernur tak perlu memasang gelarnya, baik gelar asli apalagi siluman, karena yang diperlukan seorang Camat, Bupati dan Gubernur bukan deretan gelar tapi kebijakan yang jelas, pro rakyat dan ketegasan dalam bertindak termasuk dalam menanggulangi korupsi.

Seorang insinyur konstruksi tentu perlu memakai gelarnya saat melamar kerja di bidang tersebut. Tetapi apa relevansinya gelar ST apabila dia sedang melangsungkan resepsi pernikahan? Kita sering membaca / melihat di kartu undangan seperti ini:

Kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr pada pernikahan putra/putri kami
 Drs Sentoloyo, MA, Mhum, St

dengan

Dra Kuntilanakwati SE,

Di sisi lain, saya lebih suka kalau orang mengambil kesimpulan dari hasil karya saya bahwa saya berhak menyandang suatu gelar tertentu daripada saya memakai suatu gelar tapi dipertanyakan banyak orang. Untuk apa gelar akademis kalau kita bukan dari golongan akademisi kredibel?

Kepakaran tidak identik dengan gelar. Gelar bisa menjadi jalan menuju expertise di suatu bidang walaupun itu bukan jaminan. Artinya, tanpa sekolah formal pun orang bisa menjadi pakar di bidang yang ditekuninya. Gus Dur, Emha Ainun Najib, Goenawan Mohamad, untuk menyebut beberapa.

Jadi, mengapa kita mesti tergila-gila memasang gelar-gelar kita kalau kita tidak pakar? Malu, kan? Dan bagi seorang pakar, mengapa perlu menempelkan gelar yang umumnya dipakai oleh kalangan sarjana yang tidak pede akan kemampuannya?

Bagi saya kredibilitas kepribadian dan akademis saya terletak bukan pada apakah saya memasang deretan gelar di belakang dan depan nama saya; tapi pada apa yang sedang dan sudah saya lakukan pada orang lain di satu sisi dan pada sejauh apa karya (tulis) saya dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat yang membacanya.

Teman saya yang sedang bertamu tersebut cuma melongo mendengar “khotbah” saya yang menderu-deru. Mungkin itu hal baru bagi dia. Tapi saya yakin logika dan sikap saya bukan hal baru bagi Anda.

Artikel terkait:


  1. Pertamax….
    Bisa komen pertama…

    Emang dah bawaan DNA orang Indonesia kali Mas Fatih yg cenderung mau di kata “anu” gitu, di banding membuktikan atau melakukan sesuatu yg bermanfaat..senang di buai perkataan, makanya dulu katanya mudah di adu domba penjajah..
    tapi misalnya pengusaha WC umum apa di kartu namanya di tulis Direktur WC atau Diektur Tinja ya….wehehehe

    Salam ngeblog!

  2. Hahahaha…Baca postingan ini jd inget kasus selebritis yg +/- 2 tahun lalu rame2 beli gelar dokor (Ph.D) dan Professor. Kasian euy sama Prof. Satrio Sumantri Brodjonegoro..:D

    Back to topic, Setuju banget mas. Saya pikir juga orang indonesia harus mulai dewasa menilai orang dri kapasitas dan kemampuannya drpd gelarnya. Supaya gak terjadi lagi borongan gelar (yg katanya siluman). Apalagi mau deket2 pemilu nih.. :D

    Keep writing mas :)

  3. Emang dari dulu orang indo paling seneng kalo pasang gelar. Bahkan banyak orang (maaf) pergi haji biar dia punya gelar Haji/Hajjah. Biar nanti kalau di pertemuan, saat memperkenalkan diri dia bisa menyebut “Perkenalkan nama saya Haji/ Hajjah Sopowae ….”.
    Kalo menurut saya amal dan perbuatan seseorang itu lebih berharga dari pada sekedar gelar…

  4. Dee

    Setuju MAs, gelar harus dipakai sesuai dengan konteksnya. Kalau memang relevan, tak ada salahnya dipakai. Tapi kalau nggak ada hubungannya, malah mengindikasikan kadar kesombongan kita. Indonesia memang aneh. Bahkan sudah pensiun, malahan sudah almarhum pun, masih tetap bergelar Profesor :)

  5. Bagus mas,saya setuju sekaligus salut pada mas fatih, seseorang sebaiknya dinilai bukan dari gelarnya tapi apa yang telah ia lakukan atau kerjakan untuk orang lain,seperti mas fatih.saya bukan menjilat
    tapi memang apa yang mas tulis diblog ini menjadikan inspirasi dan semangat buat orang lain ,sekali lagi salut buat mas fatih.
    oh ya mas saya mo minta tolong mas kalau mas punya tips tentang seo
    tolong dibahas ya mas .Terima kasih

  6. salut, mas. kesimpulannya, gelar dituliskan pada tempat dan waktu yang tepat.. heheh.. karena ada saatnya juga itu ditulis.. ada saatnya tidak..

  7. saya baca blog ini pas lagi nongkrong di cafe, jadi sedikit komen oke
    kalo saya juga tidak suka dengan menyertakan gelar ” ini itu semua semua dapat di sertakan dapat di tempelkan pada kantong ajaib aku sayang sekali gelar gelarku” kutipan dari doraemon, ya kalo doraemon dengan kantongnya bisa dapatkan apa yang dia mau nah kita apa dengan gelar kita bisa dapatkan apa yang kita mau juga?
    dari satatistik kebanyakan orang bekerja bukan pada dasar pendidikan gelar kesarjanaan mereka. lulusan teknik jadi tukang jualan, lulus ekonomi jadi tukang kebun, lulusan doter gigi jadi tukang ekspor impor hehehe apa pula neh …, lulusan bahasa jadi guru olah raga. mau pake gelar? silahkan- jadi pake gelar harus lihat sikon itu lah kebanyakan orang kita mau beli gelar sekian puluh juta, mau beli pangkat, mau beli apa lah banyak tapi mutu ora ono ya podo waeeeeeeee ngapusiiiiiiii

  8. Biasanya sih orang indonesia selalu ingin menampilkan gelar dinamanya… Krn mereka menganggap hal tsb dpt menaikan citra atau prestise mereka apabila dilihat org lain..tp ternyata ada juga yg gak suka make gelar namanya… :)

  9. Ane kagak begitu demen pake gelar di belakang nama… Bingung, kalo gelar lulus dari SMU apaan ya? :shock:

    Ane pan masih kuliah… :mrgreen:
    Oh ya… Kalo buat ane, bagus-bagus aja pasang gelar lengkep di belakang nama. Buat ngingetin diri sendiri kalo dirinya kaum -semoga- intelektual, yang kalobertindak, bicara kudu intelek juga. Selebihnya, gelar itu lumayan buat narsis…
    *diulek*

  10. Jangan sampai nama asli kita sendiri hilang dan tersudut
    Diantara berjubel atribut dunia yang memberatkan :)

  11. Ha ha … bagus. Saya setuju. Hanya saja, sebagai tenaga edukatif, untuk hal resmi nampaknya kampus ‘wajib’ tu mencantumkan gelar. Sudahlah, kita memang sebaiknya bergerak ke kompetensi. Gelar itu kan hanya tanda, sekadar penanda.

  12. Saya juga ga suka pake gelar di acara apapun. Tapi kompetensi di kampus harus pake gelar. Soalnya ada aturan kalau pengajar harus minimal setingkat di atas yang diajar. Kalau di pajak juga diminta tulis semua gelar. Walah. Padahal di KTP samasekali ga pake gelar. Ribet bin belibet bin ruwet deh. :-D

  13. Saya pikir ‘gila gelar’adalah warisan jaman feodal cmiiw. dulu yang punya gelar melambangkan ke-bangsawan-an. jaman ‘rikiplik’ dulu juga saya kira seorang ’sarjana’ juga dihormati karena ke-sarjana-an nya.
    Tapi, jaman berubah…dan makin terbuka..
    orang sekarang di ‘hormati’ kepakaran bukan hanya dari gelar yang disandangnya, tapi dari ‘manfaat’ kesarjanaannya itu.
    Saya pikir percuma saja agustiana,SH (contoh) kalau tidak punya kredibilitas dan ‘karya nyata’ di dunia hukum yang berguna buat masyarakat. tul ga?
    Jadi memakai Gelar di depan atau dibelakang nama ? Terserah saudara-saudara (dan saya setuju sesuai konteksnya). kalau yakin/sanggup (konsekuensinya) kita memakai gelar..ya silahkan.
    Engga? juga ga-pa-pa. toh nanti juga ketika ‘di-absen’ oleh malaikat tidak akan ditanya gelar….
    Thanks Mas Fatih.

  14. Yang penting bagaimana aplikasi ilmu di lapangan meski tak ada larangan untuk menyematkan gelar tersebut di belakang nama kita :D

  15. Ada beberapa tempat yang mengharuskan kita mencantumkan gelar. Selama itu masih ada hubungannya, kita tidak masalah nampilkan gelar itu. Apalagi di tempat kerja macam pegawai negeri, gelar = karir. Beda dengan di swasta, skil kita = karir kita. Skill tidak sama dengan gelar. Jadi klo yang punya gelar tinggi, bagusnya masuk PNS, dan yang punya skill tinggi baiknya di swasta. :D

  16. Saya punya gubernur bernama Dr. Ing H Fauzi Bowo. Gelar di depan namanya di peroleh dari Technische Universitat Brunschweig, Jerman dalam bidang Perencanaan Kota dan Wilayah.
    Nah saya dan semua warga Jakarta sedang menunggu kredibilitas dan karya nyata beliau. Mudah-mudahan Jakarta akan menjadi lebih baik. Hari ini baru 125 hari dia menjabat, so… wait and see…

  17. setuju bgtz mas,
    btw kalau mas tak gelari Prof. Blog bolehkan mas?
    kalau saya sekarang masih menempuh S.Blog (sarjana blog), sayangnya gak lulus2 … lha wong levelnya tetep saja gak naik2, dari dulu sampai sekarang masih level kopi paste saja, postingan masih one liner dan gak ada bobotnya.
    sekarang murid2 saya di smkn 4 malang sedang saya arahkan untuk belajar ke blognya mas fatih. saya pilih mas fatih bukan karena sama2 dari malangnya, tapi lebih karena semua tulisan mas fatih di blog ini yang saya baca cukup enak dan mudah dimengerti
    kalau ada waktu bikin dong mas tulisan tentang level Blogger, mulai dari level Blogger profesional (yang menjadikan pekerjaan mengisi weblog sebagai profesi) sampai level Blogkiddiest (yang hanya sekedar mencoba-coba saja tanpa pernah mengupdate kontennya)
    atau mas fatih bikin sekolah blog online, trus ada gambar yang bisa ditempelkan di blog masing2 untuk menunjukkan dia sedang kelas berapa, masing2 kelas memiliki persyaratan tertentu yang harus dikerjakan …

  18. setuju mas, gelar harus dipakai hanya dalam forum2 tertentu dimana kita mewakili gelar kita, misalnya dalam forum akademis, atau seminar. kalo kita ahli tentang teknik ya disematkan atuh gelarnya di seminar itu. kalo diluar itu ngapain juga pake gelar? tapi mungkin gelar bisa dipakai agar orang lebih melihat kita mas, biar orang lain ngerasa segen gitu . . . he3x

    a comment from varendy.wordpress.com

  19. saya setuju! tidak mencantumkan gelar2 kita untuk hal-hal yang tidak perlu :)

    gelar pendidikan saya hampir bisa saya katakan tidak pernah dipakai sama sekali. blas.. blas.. blas.. bahkan untuk pernikahan saya pun, saya tidak mencantumkan gelar apa apa.

    termasuk di blog saya, dari awal tidak pernah saya menuliskan saya gelarnya apa.
    tapi baru sekitar 1 bulan ini saya mencantumkan gelar saya, untuk yang pertama kalinya.

    kenapa?
    karena banyak orang yang mengira saya masih sma or masih kuliah!
    dan sampai saat ini pun beberapa teman kantor saya masih ada yang tidak tahu saya sudah lulus s1 … %^$%^$#%@#$
    bahkan saya pernah dikirain anak magang.. walah!

    ketika kemarin saya sibuk nyari artikel untuk tesis saya di perpustakaan kantor, beberapa teman menanyakan… “lagi skripsi ya?” *glek

    nggak tahu darimananya orang-orang itu jadi menyimpulkan begitu.. apa karena fisik saya? apa karena gaya dan sikap saya??

    bahkan di kampus saya pun, saya masih perlu ditanyai “s1 apa s2 mbak?”
    (garuk-garuk kepala) haduh… bukannya saya datang ke BAA s2?
    kok masih ditanyai saya s1 apa s2? :(
    memang sih di 1 gedung itu ada kelas s1 dan s2nya…
    tapi … haduh… mbuh wes lah.. :D
    disyukuri aja.. yg penting kan performansinya

    itulah sebabnya di blog saya saya cantumkan gelar pendidikan saya, setidaknya biar saya tidak dikira anak kecil lagi…

    dikira anak kecil.. gpp lah… kalo diluar pekerjaan…
    tapi kalo soal pekerjaan.. dianggap anak kecil… berat deh.. makan ati!
    jadi inget iklan a mild “yang muda tidak boleh bicara” :D

    *don’t judge the book from the cover memang bener bangeet :)
    *kok jadi rada curhat gini ya? hehehe cheers deh Pak :)

  20. tomyzero

    setuju bang, tanpa gelar dicantumkan klo kita selalu menjadi yg terbaik pasti orang akan mengakuinya…..

  21. dedi hamdani

    Assalamua’laikum warahmatullah wabarakatuh,
    ikut nimbrung mesti telaaat . . .
    aku setujuuuu dengan pendapat kang mas Fatih, kenapa?
    karena saya juga gak pernah mau pake gelar apapun, baik didepan maupun dibelakang namaku. Ada sih saya pake gelar, itupun karena saya diberi amanah kawan-kawan di kampus jadi Ketum Alumni, juga hanya saya gunakan atau di pake untuk surat menyurat dalam lingkungan gelarku, diluar itu mohon maap gak saya gunakan, bukan tidak pede, bukan tidak menghargai, bukan tidak laku, bukan tidak keren dan lain sebagainya, tapi sungguh-sungguh hanya karena gak perlu aja.
    Kang mas Fatih yang terhormat dan juga sohib-sohib yang ikutan nge-blog disini, saya sangat ingin make gelar Haji, tapi sampe sekarang belum dapet surat undangan ke tanah suci . . . doa’in yaaa? kalau saya dapat kesempatan ketanah suci, saya mau pake gelar Haji itu kemanapun, dimanapun, kapanpun. Saya sangat banggaaaaa sekali kalau punya gelar haji . . . insya Allah. Karena kalau saya punya gelar haji dan saya pake kemana-mana pasti bermanfaat untuk terus sadar dalam kebaikan . . . ya kan kang mas?
    kang mas . . . saya ikut prihatin dengan Zakiatul Hidayati, saya ikut terharu dengan curhatnya . . . saya hanya bisa mendoakan semoga tidak mungil lagi . . . boleh saran kan? banyaklah minum susu, berolah raga (basket, renang, voli, fitnes) insya Allah berhasil.

  22. memang gelar sekarang tuh ga penting yang penting kemampuanya, iya kan mas???

  23. silahkan jalan2 di daerah jawa tengah saat ini… banyak tuh gelar2 berjejer di tempel di depan dan dibelakang nama calon gubernur jawa tengah :D

    mungkin fungsinya agar si pemilih melihat bahwa calonnya sudah bergelar walau sekedar gelar dari Mekah :D

  24. indiecalista

    tergantung konteksnya sih. kadang juga ada situasi dimana mencantumkan gelar itu justru adalah sebuah sikap yang lebih bermanfaat…
    emang kebanyakan kita terlalu berbangga hati dengan gelar kita. yah… tergantunglah sama niatnya

  25. setuju, mas Fatih…kok pas saya baru posting ttg ’sarjana pengangguran’ yg ternyata ada banyak banget di Indo.
    Saya sendiri malah ngga tau gelarku apa…:D

  26. hari gini mikirin gelar..*****mimpi kali yeeeeee!
    Banyak sarjana yang nganggur – karena mengandalkan gelarnya bertahun-tahun lunthang-lanthung tidak karuan.
    Bahkan banyak profesi yang tidak sesuai dengan gelarnya. Di daerah saya banyak yang sukses tidak memakai gelarnya. Masak sarjana hukum jadi pengusaha pembibitan ikan yang sukses. Memang Ikan ngerti dengan pasal dan KUHP. Insiyur pertanian malah menjadi pengusaha peternak tambak udang.. Kalau sudah seperti salah siapa?
    *****HANYOOO TANYA KENAPaaaA?

  27. agreee.. saya suka bete ngeliat orang yang nyantumin gelar.. berderet-2… lagian tau orangnya kayak apa…
    trus bete lagi sekarang ini banyak anak-anak muda suka dikasih gelar Ustadz.. udah gitu namanya diganti-2 lagi.. biar kayak orang arab — padahal nama endonesianya udah bagus… pengalama pas kuliah – ada temen yang kalo diluar itu dipanggil ustad.. X … dan cukup kesohor…eh.. nggak taunya temen- sekelas yang biasa maen ke kos-kosan… apalagi neh.. ada mantan roker yang suka pake gelar KH.. dan dibelakangnya ditulisin mantan artis.. :)
    nggak papa ding.. kan hak orang..
    lho kok jadi nyepam di sini :)
    maap-maap.. delete aja kalo nyumpekin :)

  28. kw

    aduh mas, saya suka minder krn ga punya gelar :)

  29. umrahmurah

    menjadikan hidup lebih baik dengan tanpa gelar tentu akan lebih baik.seringkali gelar dimaksukan untuk mnandakan kredibilitas seseorang -dengan melupakan — gerakan utk berkarya.so gelar itu penting tapi bukan segala-galanya.selamat berjuang..

  30. Dari buku yang saya baca “Serpihan Budaya Feodal” karya Suhartono W Pranoto, menjelaskan bahwa status kepriyayian masih sangat berpengaruh cuma simbolnya mengalami pergeseran.

    Kalau dulu dari gelar kebangsawanan maka sekarang dalam gelar akademik. Bahkan ada sebuah universitas gurem di Amerika Serikat yang menjual gelar gelar akademik Doktor kepada sebagian Selebriti Indonesia.

    Ini yang akhirnya membuat pemerintah menertibkan gelar gelar tersebut. Peran budaya memang masih kuat sekali dimasyarakat kita. Padahal dilingkungan akademik pada kelas pascasarjana nama mahasiswa ditulis tanpa gelar S1 mereka. ya iyalah… :-)

  31. dilot

    ehm..jadi malu sendiri,he4..gw sendiri mencantumkan titel2 gw di kartu nama..abisnya gw kan pengusaha muda yang sering dianggap kurang pengalaman (walau sudah di direksi 2 tahun :/)..so biasanya hampir setiap gw ketemu rekan baru diberikan lah dulu kartu nama gw. Maksudnya sih 1. Supaya isi pembicaraan to the point- lengkap,padat dan ringkas dan berimbang-tanpa asumsi2 negatif yang buat diskusi menjadi buang2 waktu.2. Terus terang aja, karena gw orangnya haus akan hal2 yang baru maka dengan memberikan info titel itu pada rekan pengusaha maka bisa tercipta kerjasama baru yang buat wawasan gw makin luas..( s1 g teknik industri tp ambil master desain produk dengan keahlian ‘dramaturgi dan desain produk’ dan lumayan tahu rubber chemical karena kebetulan produk2 yang ak desain materialnya banyak yang karet2 gitu lah)

    Tapi teguran mas Fatih “kena” juga ke gw karena sempat mau cantumkan titel di kartu undangan-konformatif norma-..betul mas..kalau yang itu motivasinya kesombongan memang atau yang dinamakan mas wibisono diatas simbol2 kepriyayian jaman pos-modern…

    Iya nih kesian amat orang yang bangganya sama status2 gituan dan bukan sama prestasinya..kesian karena nanti bilang apa sama Tuhan di surga kalau sudah koit. Jangan2 bilang begini; Tuhan tahu gak aku s3 loh, s1nya di US ( kampus gurem, tukang nyontek, skripsinya aspal) s2nya di Swedia ( copy paste, modifikasi paper orang lain, ngebaein dosen cowo) s3nya di negara antah berantah ( beli murah cuma 80 juta!)….dan malu amat ya kalau misalnya Tuhan jawab begini; Soooo????? sumbangsih apa yang kamu sudah berikan pd masyarakat??

  32. Untung saya ga nyantumin gelar… ga malu deh jadinya… hahahahaha… :D

  33. Sebagai orang ladang, saya gak PD ngelengkapi nama dengan gelar, saya “minder” dengan gelar orang-orang yang nempel puanjang kayak kereta api itu, entah itu “gelar benar” atau “gelar beli”, atau gelar yang diperoleh dengan kedok kuliah malam, kuliah karyawan, kuliah eksekutif, kuliah ekstensif.

  34. 100% setuju denagn opini jenengan.

  35. Terus terang, sebenarnya saya malu mencantumkan gelar kesarjaan pada undangan pernikahan saya beberapa tahun silam. Tapi orang tua di kampung menginginkan gelar itu ada. Saya dan calon istri saat itu hanya ingin menyenangkan hati orang tua, sebab kami pikir mereka telah dengan susah payah mencarikan uang untuk kami sekolah hingga sarjana.

    Lain waktu setelahnya, saya membuat KTP yang formulirnya saya isi sendiri namun yang menyerahkan ke Ketua RT adalah Bapak saya. Lagi-lagi gelar saya dicantumkan di sana. Risi rasanya, sebab KTP itu selalu diperlukan untuk berurusan dengan birokrasi dimana-mana di Indonesia.

    Mungkin sudah nasib saya, gelar itu merembet kemana-mana. Sekarang saya menunggu, masih 2 tahun lagi, KTP saya akan habis masa berlaku. Setelah itu, sungguh, saya ingin menghindari penulisan gelar itu.

    Saya setuju sekali, menilai orang bukan dari gelarnya, namun kapasitas orang masing-masing.

  36. saya juga ngga pernah nyantumin gelar, sebab memang yang bukan gelarnya tapi sumbangsih/prestasi apa yang udah kita perbuat dari gelar tersebut

  37. pmd

    great.
    ai setuju banget dengan postingan ini.
    isu ini merupakan trend ‘NEO Feodalisme” di bangsa kita.
    Yah…, tapi kata mereka sih, “WAJAR dong, wong susah-susah dan mahal tuk meraihnya KOK”.

    atau mungkin dan kadang dibikin susah biar terasa SAH dan Layak memakainya…, hahahahahah

    yang wajar-wajar ajalah. sesuai tempat dan situasinya, misalnya seperti Anda sebut: di dunia akademis dan prosesi yg relevan.

  38. Termasuk gelar Haji. Nabi Muhammad aja ngga pernah pake gelarnya.
    Gelar yang pantas dicantumkan bagi semua orang hanyalah .alm
    Gelar yang kredibel dan valid tentunya.

  39. heheh..mas saya suka ditanya hal yang sama dan menjawab sama, again i share the same opinion with u. tapi kayaknya saya lebih empati..kalo saya nikah nanti, mungkin bapak ibu saya yang lulus smp dan stm itu pingin saya nulis pake gelar sebagai manifestasi kebanggaan mereka bisa nyekolahin anak walau mereka gak sekolah tinggi.

    secara pribadi saya nggak pernah nulis snama endiri terus ditambah gelar. i think, it’s just ridicule. so far sih, semoga gak berubah nantinya.

  40. wong sukoharjo

    oya…aku lupa kalo punya gelar yang lucu…Amd..Ahlimadya(bukan ABRI masuk desa lho)bukan melecehkan sih… tapi
    ga tau siapa yang awal mula menciptakan gelar ini,tapi yang pasti ,itu gelar ga ada gunanya, yang pasti ga go internasional…biar saya sekarang lagi kerja di LN tapi ga pakai gelar itu.
    Kalau tentang Haji/Hajjah…kalau di negara2 arab..orang sudah berkali2 naik haji tapi juga ga dipanggil Haji/Hajjah…orang kita aj yang latah..Budaya cari muka…

  41. @ wong sukoharjo: di pakistan iran juga dipanggil haji kok. saya rasa itu mentalitas third world country people aja. we are not used to achievements and when we have it, we want to be recognized.

  42. Tegar Perwiro Wibisono

    saya juga setuju dengan pendapat tidak menempatkan gelar akedemis tergantung situasi kondisi dan manfaat pada kehidupan kita tapi ada , maaf ni mas, ada juga yg gelarnya lucu ” Drs Sentoloyo, MA, Mhum, St . Com ” ….:)

  43. londoner

    Gelar ini sangat ampuh… mau bukti?????

    1. Temen2 saya pada ngumpul di DAGO Bandung beberapa waktu lalu yang banyak anak2 ngebut jam 12 malam, POLISI datang dengat tiba tiba… yang ngebut kocar kacir… sementara anak2 LULUSAN HUKUM ini tetep aja nongkrong.. kemudian polisi menghampiri, minta tunjukkan KTP…. asli!!!!!! polisi cuma mesem2 aja gak brani nangkep yang ternyata di KTP ini ada “SH”nya, sementara yang lain di gelandang ke kantor POLISI.
    2. Saya di hentikan polisi di Denpasar Bali saat berkendara karena salah jalan, dihentikan dan minta ditunjukkan KTP dan SIM, karena di KTP dan di SIM saya ada gelar SH nya, polisi mengurungkan niat untuk malak saya. Saya disuruh pergi dengan nasihat agar lain kali berhati hati….
    3. Ada urusan apapun yang berhubungan dengan masalah pemerintahan saya cendrung di hormati dan dipercepat.
    4. Berhubungan dengan bank juga cepat sekali urusannya, sewaku ada masalah dengan produk perbankan saya bicara dengan CSO sangat beda sewaktu saya belum mendapat gelar, mereka sangat santun dan perduli, sememtara pada waktu belum mendapatkan , SH mereka sangat cuek, bahkan terkesan acuh.
    4. Yang jelas di jalan raya tambah PEDE karena gelar ini. Polisi takut!

    Sekali lagi… ini pendapat yang relatif, silahkan yang lain punya pandangan sendiri.

    Namun sejak saya tinggal di London, gela ini gak ada apa apanya, bahkan di Paspor pun tida di pakai, disini orang cuek gak kenal gelar kita (cian deh).

  44. Kapten CZI (Purn.) Drs. Wardono, MBA

    Saya selalu pakai gelar akademis (dan militer)!

    Salam kenal,
    Kapten CZI (Purn.) Drs. Wardono, MBA.

  45. lila

    Setuju mas fatih……, ya maklumlah kt ini, apalagi yang bisa dibanggakan kcuali gelar? kalau kemampuan ya pasti ga punya….,jd ya mamfaatin yg ada aja dulu buat nakut nakutin orang ama gelarnya….,soalnya kl adu kemampuan bisa bisa dia yang takut…hehehe

  46. Hari gini ngomongin gelar :D
    Orang-orang terkaya di dunia dari 1-10 gak ada yang punya gelar tuh :D :D :D

    Muhammad juga gak punya gelar, tapi banyak sekali orang yang mempelajari kehidupan beliau, sama juga dengan Aristoteles, dll.

    So…

  47. Di Indonesia semakin bertambah saja “Gelandangan Pendidikan” ( kata Robert T Kiyosaki loh)..artinya orang-orang bertitle tapi gak punya pekerjaan..

  48. Wah gua gelar tiker aja.. sambil mbaca comment2 diatas..

  49. Budhi H. Guawijaya

    Perlukah kita membahas ini, sedangkan nama kita adalah gelar (atribut) juga, sedangkan essensinya kita hanyalah khalifah yg dalam bahasa indonesia biasanya kita sebut manusia. Bahkan adakalanya namanya, ini hanya contoh, Budi, ternyata tidak ber Budi, trus apakah si Budi ini tidak patut menandai/mengatributi sosok manusia dengan nama Budi sebagai pembeda atau sebagai penghargaan terhadap orang tuanya yang sudah bersusah payah memberikan nama manusia yg lahir kedunia tersebut dengan Budi???
    Apakah pada konteks berbuat baik dia berhak memakai Budi tetapi ketika bermaksiat dia harus ganti nama???
    Sebenarnya, tidak ada yg perlu dibahas dan diperdebatkan. Silahkan saja, yang mau pake gelar dengan tujuan apapun dan yg tidak mau memakai gelar dengan tujuan apapun, silahkan pilih saja. Karena semua itu pemberian Allah, dan semuanya terpulang dari niat kita.
    Korelasi nama, gelar, tiltle atau apapun dengan perilaku ataupun penghasilan ataupun pekerjaan tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Kalo masih gamang, baca ilustrasi Budi diatas.
    Saya hanya coba menempatkan masalah ini pada essensinya sedangkan penyudutan atau penajaman pada satu sisi sudut pandang akan membuat kita terjerumus pada persepsi yang salah.

  50. Saya tertarik sekali membaca judul posting ini. Karena saya juga tidak suka “pamer” gelar yang tidak pada tempatnya. Kalau Anda pernah mendapat kartu nama orang Jepang, jangan harap bisa menemukan kata “Sarjana/Master Ini Itu”. Mungkin karena di Jepang Sarjana S1 sudah wajar… Yang menuliskan gelar di kartu nama hanyalah yang mempunyai gelar DOKTOR, dan itu saya baru bertemu 1 orang Jepang. Dan ternyata sifatnya juga cocok dengan kartu namanya…sombongnya ampuuun deh. Saya curiga dia sudah menjadi orang Indonesia mungkin.

    Ada 2 orang Indonesia di sini yang juga mencantumkan gelar Doktornya, yang satu di kartu nama perusahaan, sehingga mungkin memang perlu. Nah kalau yang satu lagi memang saya salut. Bayangkan 4 gelar doktor disandangnya. Sehingga mungkin rasanya sayang kalau tidak dicantumkan (jangan tulis pamer deh, pamali).

    Saya pernah menolak membaca gelar akademis dalam sebuah acara kebudayaan di Tokyo waktu menjadi MC. Karena apa? Di Jepang, selain Kaisar/Presiden/Duta Besar tidak usah memakai sapaan resmi. Cukup dengan “Para hadirin yang kami hormati”. Tidak perlu , yang terhormat Menteri Pendidikan Bapak Profesor Doktor Sontoloyo Ing. (gelar dari Jerman yang saya tidak tahu cara bacanya).dsb dsb…kalau di Jepang ya cukup Bapak Menteri saja. Masa saya baca gelar akademis pihak Indonesia padahal gelar akademis pihak Jepang tidak disebut (yang pasti punya juga tapi tapi tidak dipamerkan). Protokoler yang menyusahkan ….

    Salam kenal dari saya …Pak Fatih…

  51. Setuju … !!!!

  52. mantab….
    ini dia si jali-jali he he
    setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
    Sekarang mah kulaih di bisnisin kang.
    Masak ada STMIK bisa kualih sore eksekutif kapan pinternya ?
    U/ jadi ahli komputer n pegang gelar srjana Skom tapi kagak paham ilmu n gak pede ilmu yah ngapain nyantumin gelar.
    lagian ada lagi kok ya mau buang duit beli pc media,baca blog ini kan ilmu komputer bisa melek dewe tho kang ?

  53. kalau anda hadir dalam kuliah dari profesor dimana-mana pasti sangat membosankan,jadul, saya heran mengapa orang indonesia lebih menyukai profesor dan doktor yang bodoh daripada yang tidak bergelar tapi pintar.
    salam kenal

  54. akuherbs

    Yah, sah2 saja kalau gelar akademik mau ditenteng terus, cuman yang jadi pertanyaan saya nih, untuk gelar Haji apa perlu sih selalu dicantumkan…… Kalau gak salah ibadah haji tingkatannya mestinya sama dengan ibadah yang lain………? Maturnuwun

  55. nugienotes

    HAHAHAHA!!!…satu pemikiran!

  56. hari gini mikirin gelar..*****mimpi kali yeeeeee!
    Banyak sarjana yang nganggur – karena mengandalkan gelarnya bertahun-tahun lunthang-lanthung tidak karuan.
    Bahkan banyak profesi yang tidak sesuai dengan gelarnya. Di daerah saya banyak yang sukses tidak memakai gelarnya. Masak sarjana hukum jadi pengusaha pembibitan ikan yang sukses. Memang Ikan ngerti dengan pasal dan KUHP. Insiyur pertanian malah menjadi pengusaha peternak tambak udang..

  57. Emang dah bawaan DNA orang Indonesia kali Mas Fatih yg cenderung mau di kata “anu” gitu, di banding membuktikan atau melakukan sesuatu yg bermanfaat..senang di buai perkataan, makanya dulu katanya mudah di adu domba penjajah..
    tapi misalnya pengusaha WC umum apa di kartu namanya di tulis Direktur WC atau Diektur Tinja ya….wehehehe Mucing

  1. 1 Dilema sarjana .. « KU LETAK KAN KATA DISINI

    [...] terkait : 1. Kompas cetak : Makin tinggi pendidikan makin gampang menganggur. 2. Afatih : Mengapa saya tidak pakai gelar akademis 3. Rovicky : Indeks prestasi untuk apa 4. Wiyanto : Sarjana nganggur melonjak 5. Aku : Memilih [...]

  2. 2 Dilema sarjana .. « Manajemen Amal

    [...] terkait : 1. Kompas cetak : Makin tinggi pendidikan makin gampang menganggur. 2. Afatih : Mengapa saya tidak pakai gelar akademis 3. Rovicky : Indeks prestasi untuk apa 4. Wiyanto : Sarjana nganggur melonjak 5. Priandoyo : [...]

  3. 3 Saya Risih…………… « to live to love to leave legacy

    [...] Ah.. saya jadi ingat tulisan Gus Fatih, “Mengapa Saya Tidak Pakai Gelar Akademis”. [...]

  4. 4 Sekolah Penting, (nyantumin) Ijazah Nanti Dulu! « to live to love to leave legacy

    [...] Kompas cetak : Makin tinggi pendidikan makin gampang menganggur. 2. Afatih : Mengapa saya tidak pakai gelar akademis 3. Rovicky : Indeks prestasi untuk apa 4. Wiyanto : Sarjana nganggur melonjak 5. Priandoyo : [...]




Leave a Comment