Belajar ber-DemokrasiBangsa Indonesia sedang belajar berdemokrasi. Dikatakan belajar karena baru sejak turunnya Suharto dan ambruknya Orba pada 1998, kita baru mulai berdemokrasi. Kalau 1998 dianggap sebagai lahirnya demokrasi, berarti ia baru berusia sepuluh tahun. Masih baru kelas 4 SD. Karena itu, kita jadi sedang mengeja kata perkata; dan tersendat memaknainya. Termasuk dalam hal ini kita-kita yang pelajar, mahasiswa maupun yang sudah sarjana.

Dan karena itu pula kita sering salah kaprah dalam mengamalkan spirit demokrasi.

Inti dari demokrasi adalah (1) pemerintahan oleh rakyat (via pemilu); dan karena itu (2)penguasa terpilih tidak boleh lepas dari dan harus terbuka terhadap kritik pihak yg memilihnya (yaitu rakyat); dalam hal ini kritik rakyat (via media, blog, milis atau sms) dianggap sebagai pilar utama ke-empat demokrasi (the fourth estate of democracy)–di samping eksekutif, legislatif dan yudikatif;(3) freedom of speech/expression yg bermakna rakyat bebas mengatakan / mengutarakan apapun yg mereka mau, selagi hal itu tidak merusak/mengganggu keamanan rakyat yg lain.

Oleh karena itu, spirit demokrasi menuntut penguasa untuk berusaha keras berlapang dada menerima kritik dalam bentuk apapun: konstruktif maupun destruktif; halus maupun kasar; langsung atau “tembak-samping” (minjam istilah Sorimonang).

Itulah konsekuensi seorang pemimpin demokratis: merelakan dan membiasakan perasaan anda menerima apapun yg dikatakan rakyat; membiasakan membuka kuping lebar-lebar terhadap pujian dan makian. bila anda lulus, anda akan jadi pemimpin besar dan seorang demokrat sejati. bila anda tidak kuat dan anda melakukan pelarangan/pemboikotan sana sini, maka anda akan jadi pemimpin kecil dan kerdil yg akan terbenam di kompetisi kepemimpinan nasional kelak.

Di sisi lain, rakyat juga musti tahu diri dalam mengutarakan kritiknya. harus bisa membedakan mana masalah besar dan masalah kecil. mana masalah yg menyangkut kepentingan umum/bersama dan yg pribadi. sebab, bila semua hal (kecil/besar; kepentingan umum/pribadi) kita kritik, kita akan dianggap orang yg cerewet; bukan kritis. bila ini terjadi, maka kredibilitas kitapun akan jadi korban.

Di samping itu, hal yg perlu diperhatikan adalah bahwa kritik umumnya diarahkan ke institusi/lembaga atau penguasa yg memimpin institusi/lembaga itu. kita mengeritik mereka dg alasan yg jelas: krn. mereka langsung atau tidak langsung adalah pengemban amanah rakyat; mereka menjadi manajer dari perusahaan (baca, negara) milik rakyat. dan karena itu, mereka harus mempertanggungjawabkan segala tindakan yg mereka lakukan.

Jadi, yg dikritik bukanlah sesama rakyat. mengeritik sesama rakyat saya kira bukanlah sikap kritis; tapi sikap yg cerewet dan lebih berat ke unsur gosipisme. apapun alasannya. suatu sikap yg selalu dijauhi oleh siapapun yg ingin menjadi intelektual pembawa aspirasi rakyat. karena itu, bila kita hendak mengeritik seorang individu (bukan penguasa) hendaknya langsung diarahkan secara pribadi ke yg bersangkutan tentu dg cara yg baik sesuai dg anjuran agama dan tatanan sosial kita masing2. Kita sering menderngan para dai mengutip sejumlah ayat2 Quran bagaimana cara “menasihati yg baik” antar sesama individu.[]


  1. Rindu sekali rasanya dengan kepemimpinan Para Sahabat Rasulullah, seperti Sayyidina Umar dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz…

  2. Pemimpin yang kita cari haruslah pemimpin yang amanah, jujur, bela rakyat, anti korupsi dan mendukung demokrasi.

  3. Salam PDP (Partai Demokrasi Pembaruan). Tulisan Mas Fatih membawa nama tengah partai baru kita “Demokrasi”, dan sangat setuju dengan ulasan yang sangat bagus mengenai arti ber demokrasi. Tambahan nya sudah waktu nya bangsa ini keluar dari segala multi dimensi persoalan bangsa dengan mencari pemimpin yang mengerti dalam menjalan kan “Managemen” di negara Indonesia. Jangan salah pilih pemimpin asal-asal saja, kaji lagi dan bersikap kritis dgn pilihan anda di th 2009. Pemimpin bangsa ini seperti pilot yang membawa pesawat, apabila pilot lengah/ tidak capable semua penumpang pesawat (rakyat Indonesia) akan ikut jatuh dibawah arahan nya. Sebagai partai baru yang berpisah dari partai lama (yang dulunya berkuasa di th 1999), PDP pun ingin mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap partai politik & jg meminta rekan2 blogger memantau mana partai yang pantas mencalonkan pemimpin nya di Pemilu th 2009. Silahkan kunjungi kami PDP Nasional : http://www.pdp.or.id , DKI : http://www.pkp-pdp-dki-jakarta.blogspot.com

  4. wakaka

    Wakakakaka!
    Jangan bawa2 partai deh!

  5. Kalau menurut saya islam itu demokrasi, demokrasi itu islam.Islam diturunkan oleh sang pencipta Allah swt untuk memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarat secara lebih baik.Memperbaharui atau repormasi menurut kata2 mahasiswa hal-hal yang tidak baik menjadi lebih baik.Sampai sekarang sebetulnya kita belum berdemokrasi secara baik.Kalau ingin lebih baik harus ada “KEMAUAN POLITIK” semua unsur, kalau kita membicarakan politik kita serba susah karena disitu selalu ada kepentingan pribadi dan segolongan atau segelintir orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan kelompoknya dan MASYARAKAT HANYA dijadikan KOMODITAS POLITIK oleh orang-orang yang hanya mementingkan kekuasaan.Akhirnya demokrasi selalu dipasung dan tiap yang mengkritik orang/kelompok yang bersangkutan selalu terancam karena dengan alasan atas nama menjaga nama baik ORANG YANG MEMILIKI KEKUASAAN.Akhirnya serba susah ………………………..

  6. hmcahyo

    tapi ada yang anti demokrasi tetapi eksistensinya sangat diuntungkan dengan adanya demokrasi :)




Leave a Comment