Oleh A. Fatih Syuhud
Situs resmi: www.fatihsyuhud.com
Artikel ini ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri
Secara definisi wanita karir bermakna (a) seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius; (b) perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain).
Ekonomi merupakan kebutuhan dasar manusia dan itu diakui secara universal . Quran secara eksplisit memerintahkan kita untuk rajin bekerja sepanjang hari dalam seminggu tanpa mengenal hari libur, tentu saja dengan tanpa melupkan ibadah harian yang diwajibkan seperti shalat (QS Al Jum’ah 62 :9).
Pada masa Rasulullah sendiri, ada banyak wanita yang juga dikenal sebagai wanita karir. Siti Khadijah, istri Nabi, adalah satu di antaranya.
Namun demikian, kita semua tahu bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya tujuan kita hidup di dunia. Pada kenyataannya ekonomi hanyalah sarana untuk menopang sisi-sisi kehidupan yang lain.
Sisi-sisi kehidupan yang dimaksud antara lain adalah membentuk keluarga sakinah (QS Ar Rum 30:21). Keluarga adalah tiang utama kehidupan. Karena dari situ sebuah komunitas, peradaban dan budaya dibangun. Islam adalah agama yang menitikberatkan pada soliditas dan kekompakan kolektif masyarakat. Akan tetapi kekompakan kolektif tidak dapat terbangun tanpa adanya kekuatan individual pada anggota masyarakat; pada setiap keluarga; pada setiap orang dalam keluarga itu. Di sinilah peran pilar utama keluarga – ayah dan ibu—mutlak diperlukan.
Untuk membentuk keluarga sakinah, sebagai unsur pokok dari masyarakat yang progresif dan Islami, setidaknya dua faktor berikut perlu diperhatikan:
Pertama, pendidikan anak secara berkesinambungan. Pendidikan yang utama tentu saja di rumah. Bukan di sekolah formal. Khususnya menyangkut pendidikan karakter. Di sini peran orang tua, terutama ibu, sangat dominan. Keluarga broken home (tidak sakinah) umumnya timbul dari minimnya peran ibu baik karena kesibukan bekerja atau minimnya pengetahuan dan wawasan.
Kedua, pengawasan terhadap perilaku sosial anak di luar rumah. Kurangnya pengawasan dengan siapa anak bergaul akan sangat berbahaya khususnya dewasa ini di mana berbagai bentuk ancaman kejahatan sibuk mencari kesempatan untuk merusak kehidupan kita.
***
Menjadi wanita karir konvensional dalam arti wanita yang bekerja di luar rumah dan meniti karir sampai puncak adalah “mudah.” Asal memiliki kecakapan yang cukup plus kemampuan “lobi” yang baik, tujuan itu akan tercapai. Tetapi menjadi wanita karir “non-konvensional”, yang menjalankan bisnis dari dan berkantor di rumah demi menjaga keseimbangan “ecosistem” keluarga dan pendidikan anak adalah sulit terutama bagi wanita yang punya kecenderungan exibitionist. Tapi mudah bagi kalangan wanita yang lebih mementingkan hasil kolektif dari pada penampakan ego pribadi.
Dalam Islam yang ditekankan bukanlah memamerkan siapa yang berperan paling banyak, tetapi peran maksimal apa yang dapat kita berikan. Bahwa peran kita kemudian diakui atau tidak, tidaklah begitu penting.[]
Artikel terkait:
-
1
Ping balik on Agu 12th, 2008 at 9:56 am
[...] Oleh A. Fatih Syuhud Situs resmi: http://www.fatihsyuhud.com Artikel ini ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri [...]
-
2
Ping balik on Mei 9th, 2009 at 2:13 pm
[...] Wanita Karir [...]
-
3
Ping balik on Mei 29th, 2009 at 1:50 am
[...] Wanita Karir [...]














31 Juli 2008 at 6:24 am
Mas Fatih istri saya seorang pegawai (sebelum menikah dia sudah menjadi PN ),dalam perjalanan bahtera rumah tangga ada sesuatu hal yg perlu disepakati (komitmen). Dan Alhamdulillah biduk rumah tangga sampai 16 th ini masih di percaya Yang Maha Kuasa.Alhamdulillah.
1 Agustus 2008 at 3:36 am
Kakak saya seorang guru PN.
Ibu saya juga wanita karir jika tidak saya tidak bisa kuliah, tapi ada juga kurang bagusnya, kami jarang berkumpul siang hari, rumah selalu kosong jika siang hingga petang..
3 Agustus 2008 at 10:24 am
Mas Fatih kita semua sama-sama mengerti, wanta karir sudah tidak dipisahkan dari kehidupan dunia ini. Pada masa sekarang ini dimana materi menjadi pilihan utama mengriing banyak juga wanita untuk juga bekerja di luar. Pada satu sisi ada seorang direktur yang sudah berkecukupan dan mempunyai perusahaan. Rumahnya tersebar di seantero Jakarta. Kekayaannya untuk tujuh turunan tidak bakal habis namun di sisi lain istrinya adalah sebuah manajer di sebuah bank terkenal. Tentu Sang istri ini akan mendapat tambahan dari penghasilan ini. Namun pada sisi lain terjadi ketimpangan di mana suatu keluarga tidak mempunyai orang yang mencari nafkah. Baik suami dan istri sama-sama tidak bekerja.
Seorang wanita berkarier tentu akan merugikan ia maupun keluarganya sendiri
Model-model kehidupan ini tentu tidak terlepas dari budaya liberalisme. Setiap orang dapat mengejar kekayaanya selama itu legal. Kalau perasaaan atau toleransi itu nomor dua ajeh. Yang penting kita bisa makan. Lebih baik luh yang mati dari pada gw yang kelaparan (itulah pikiran-pikiran liberal yang telah merasuk ke hati orang Indonesia).
4 Agustus 2008 at 9:13 am
terlalu sukar mncari wanita wang solehah sekarang ini ramai yang sudah terikut-ikut budaya barat yang kian menghakis jati diri wanita islam,moga wanita islam lebih matang dalam membuat keputusan agar tidak terpesong dari landasan kebenaran……
5 Agustus 2008 at 2:50 pm
Menjadi wanita karier ternyata salah satu pilihan sulit..
Membagi waktu untuk Pekerjaan dan keluarga ternyata tidaklah mudah. Sekarang saya sedang mencoba bisnis internet marketing yang bisa dikerjakan di rumah, agar lebih dapat menjaga dan berkumpul bersama keluarga..
Saya PNS (bidan)
#bidan bisa dikerjakan dirumah dg buka praktek.
6 September 2008 at 6:15 am
Benar. Dalam Islam Wanita sebaiknya beraktivitas di rumah dan lebih memprioritaskan dirinya untuk keluarganya (suami dan anak”nya).
Bagaimana jika wanita tersebut belum berkeluarga… Sedangkan orangtuanya telah menyekolahkan dia sesuai dengan yang diinginkan. Tentunya wanita tersebut mempunyai tanggungjawab untuk membalas budi kepada ortunya. MEskipun tidak akan terbalas budi orangtua sampaikapanpun. Wanita tersebut tentunya tidak mungkin lagi untuk tetap “meminta” ke ortunya. Karena sudah saatnyalah wanita tersebut yang “memberi” ke ortunya. Harapan ortu dan semua orang pada umumnya adalah mengaplikasikan bidang ilmu yang telah dipelajari dan di dapat pada bangku pendidikan. Selanjutnya meskipun wanita, tentunya juga mempunyai keinginan untuk menabung buat kebutuhan masa depannya yang juga bisa membantu suami dan keluarganya nantinya.karena tidak ada yang tahu seseorang itu akan mempunyai calon suami yang matang penghasilannya dan lain sebagainya.
Jika ternyata seorang wanita bertemu dengan jodohnya tetapi demi untukmencukupi kebutuhan keluarga mengharuskan wanita tersebut untuk bekerja membantu suaminya demi keluarganya…………
Atau jika ternyata keberlangsungan keluarganya dengan suaminya tidak berjalan lama atau suaminya tidak mungkin untuk mencari nafkah untuk keluarganya (sakit, meninggal atau berpisah)…….. Tentunya wanita tersebut harus mempunyai bekal pekerjaan yang bisa menopang kehidupannya. anak-anak dan keluarganya……
25 September 2008 at 12:55 pm
Apakah wanita karier itu harus menikah? bagaimana dengan mereka yang tidak menikah dan terpaksa memilih karier dengan berbagai alasan?
29 September 2008 at 8:57 pm
Banyak loh….wanita-wanita yang berkarir lupa pada kodratnya sebagai wanita, bahkan ingin mensejajarkan diri mereka dengan pria.
Saya kurang setuju dengan semua itu , menurut saya wanita boleh saja berkarir/berkarya asalkan mereka tak lupa pada Qodratnya sebagai wanita .
Wanita adalah wanita tidak bisa menyamakan dirinya sejajar pada pria karena ini sudah hukum alam.
Dan seorang wanita harus patuh kepada pria,dengan catatan patuh kepada pria yang menghormati wanita apa nya karena pria adalah raja di dunia.
Para pria selalu ingin dihormati, sedangkan wanita selalu ingin di mengerti . buat saya ini adalah sesuatu hal yang serasai dan untuk bisa saling mengisi, saling menghormati satu dengan yang lain.
Jangan sampai karena karir kita melupakan segalanya, karena hidup di dunia ini hanya sementara, dan semuanya akan binasa, mendingan kita berkarir di jalan Allah SWT.
29 September 2008 at 9:17 pm
Untuk urusan mendidik anak saya akan mendidik mereka secara baik menurut kemampuan saya, dan selebihnya saya serahkan kepada Allah SWT.
Bukankah apa-apa yang ada di dunia adalah milik Allah, termasuk soal anak, anak pun milik Allah SWT, dan saya tau Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk anak kita, sebaik-baik yang mengetahui segala urusan adalah Dia (Allah SWT).
13 November 2008 at 2:35 pm
ke pondok pesantren, banyak wanita solehah yang cantik-cantik, pinter nurut dan siap menyenagkan dunia dan akhirat.
25 November 2008 at 3:58 am
Wanita berkarir itu menurut saya baik, asal tujuannya jelas.
Saya katakan baik umpamanya dia berkarir/kerja untuk membantu ekonomi keluarganya. Dengan dua sumber pemasukan akan sangat membantu perekonomian keluarga, apalagi dalam kondisi sekarang ini.
23 Januari 2009 at 9:21 am
assalamualaikum, hai nama aku adrianto
memang betul wania itu memang harus berpern aktif dalam berbagai hal, karena wanita itu adalah modal untuk pembangunan
wasalm.
19 Mei 2009 at 8:41 pm
wanita karir memang boleh2 saja tapi harus ingat kodrat wanita. jangan sampai lupa akan tanggung jawabnya
salam sukses
monster
26 Juni 2009 at 9:46 pm
aku ingin istriku menjadi ibu rumah tangga yang baik hati, pinter dan gemar menabung,,
19 Juli 2009 at 6:39 pm
calll my 02183412803 bagi wanita carier
22 Juli 2009 at 9:50 am
Semoga ada keseimbangan sehingga tidak ada masalah dikemudian hari
18 November 2009 at 2:43 pm
salut ma yg bisa imbang dua2nya tapi kata temenku yg mantan wanita karier enakan bekerja dari pada ngurus anak ,harus super sabar agar tidak mjadi anak yg error n da juga temanku yg karier anaknya sukses katanya ia selalu mbacakan doa d kuping anaknya hingga ia remaja tapi tentu pendekatan yg menghargai anak,blm swami n masalah rumah tu lah warna hidup.
25 November 2009 at 2:12 pm
berikan wanita ruang untuk dapat mencari jati diri dan mengaktualisasikan dirinya,, krn tidak menjamin keberadaan wanita dirumah terlepas telah menikah atau belum tidak menjamin kebahagiaan dan kepuasan batinnya… maka dari itu para wanita yg ingin menikah harus ada komitmen dan nego yg kuat dg pasangan agar nantinya tidak merusak hubungan yg sudah terbina,,, dan bagi para pria jika kalian dapat ruang lebih di ranah publik tolong berikan bagianmu pada wanita yg pada hakikatnya tercipta dari salah satu tulang rusukmu itu… wallahu’alam bissowaf…