Ada yang ingin tahu RUU Pornografi yang dulunya bernama RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi itu?
Berikut fase-fase perubahan draft RUU Pornografi dari 2006, 2007 dan 2008 (download file pdf & doc)
- RUU APP (Anti Pornografi Pornoaksi) FEBRUARI 2006
- RUU APP 2006 persandingan DPR DPD
- RUU Pornografi Agustus 2007
- RUU Pornografi September 2008
Ngomong-ngomong, Anda setuju tidak sih RUU Pornografi ini? Dengan kata lain, setujukah pornografi dilarang? Atau kalau tidak setuju, di mana ketidaksetujuan Anda? Pada isi RUU-nya yang kurang jelas atau pada dilarangnya pornografi itu sendiri?
Tulisan terkait: Pornography Bill
-
1
Ping balik on Okt 16th, 2008 at 5:34 am
[...] RUU Pornografi [...]
-
2
Ping balik on Okt 16th, 2008 at 7:30 am
[...] Oktober, 2008 oleh Herianto Pro Kontra, pro Kontra, pro [...]
-
3
Ping balik on Okt 30th, 2008 at 3:21 pm
[...] 30, 2008 in Blog IndonesiaTags: ruu pornografi, uu pornografi Akhirnya RUU Pornografi disahkan hari ini Kamis, 30 Oktober 2009 menjadi undang-undang. Kompas [...]














31 Oktober 2008 at 2:32 pm
gak setuju banget!
kok malah jadi ngatur tata cara berpakaian rakyatnya sendiri.
Indonesia kan negara beragam agama, suku dan adat istiadat.
harusnya minta pendapat dari seluruh rakyat donk.
kalu perlu voting.
kenapa pemerintah jadi ambil keputusan sendiri?
lagipula, apa jaminan kalau UU itu akan membuat kaum perempuan dan anak akan terlindungi??
toh selama ini yang sering mengalami pelecehan seksual bukan orang yang suka berpakaian seksi.
lihat aja berita-berita.
gak ada pemberitahuan kalau yang jadi korban, berpakaian minim.
Harusnya UU itu di tinjau kembali.
jangan malah semakin menyengsarakan rakyat.
31 Oktober 2008 at 2:55 pm
setuju, soalnya kalo terlampau dibebasin bisa berbahaya, skrang aja udah banyak yg berpakaian kurang sopan di tempat umum, takutnya generasi mendatang makin parah. jgn sampe anak cucu kita berpakaian seperti orang2 di amerika & eropa.
Tapi saya rasa juga harus ada pengecualian, umpamanya daerah wisata seperti bali saya rasa gak perlu di berlakukan UU Pornografi.
31 Oktober 2008 at 3:11 pm
INDONESIA AKAN TERPECAH BELAH LIAT SAJAH . . . . . . SATU PERSATU PROFINSI AKAN MEMISAHKAN DIRI . . . PANCASILA UDAH GAK ADA ARITINYA LAGI . . . . BAGI SAYA PANCASILA ADALAH HARGA MATI UNTUK BANGSA INI. . . . . LEBIH BAIK DIAJARIN PORNI DARI PADA DI AJARIN BUAT BOM, KORUPSI, MBAKAR ORANG, MBUNUH ORANG YANG MENGATAS NAMAKAN AGAMA . . . . .
31 Oktober 2008 at 4:42 pm
sangat tidak setuju.
apa hak negara melarang orang dengan kebebasan berekspresi masing-masing.
yang mesti ditegakkan itu perlindungan hak asasi, bukan penyerangan kepada pembatasan hak pribadi.
daripada pemerintah ngurusin hal yang ga jelas kaya gini, kenapa si ga ngurus hal-hal yg lebih penting, kaya memberantas kemiskinan, dan meratakan pendidikan.
kalau semua bentuk ketelanjangan harus ditutupi, apa semua gambar di borobudur harus ditutupin satu2?
kecewa saya. dipikirnya masyarakat indonesia tidak bisa berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri. diktein aja semua yg boleh ama ga boleh.
2 November 2008 at 5:52 am
Mungkin pertanyannya jangan setuju ato gak setuju, karena toh sudah disyahkan juga jadi rasanya sudah nggak relevan lagi masalah setuju ato nggak setuju. Yang terpenting sekarang bagaimana UU tersebut dapat diberlakukan secara proporsional dan tidak menzalimi salah satu pihak, implementasi yang lebih tepat sasaran misal: ke industri pornografi itu sendiri, pengedar DVD dan VCD pornografi (yang sebenarnya jg sdh melanggar UU Hak Cipta), para germo / mucikari dll. Soal hak-hak pribadi seharusnya tidak perlu dicampur tangani toh kita semua yang beragama pasti tahu betul mana yang boleh dan mana yang dilarang, jadi semoga masyarakat juga bisa lebih arif dalam memaknai UU tsb tidak sekedar “gebrah uyah” atau bahasa gampangnya asal tangkap. Gw berharap seperti itu karena gw kebetulan kerja di propinsi yang masyarakatnya mayoritas muslim (Kal-Sel), tapi masyarakanya biasa saja mandi di sungai dengan hanya mengenakan kemben, bahkan pondok pesantren yang memang karena fasilitasnya minim terpaksa harus mandi di sungai, tapi mereka biasa saja dan kita pun yang melihatnya tidak menganggap itu suatu pornografi.
Yang gw khawatirkan sekarang justru polemik UU tsb yang berkembang ke arah yag lebih ekstrim, yaitu keinginan untuk merdeka dari derah-daerah hanya karena UU ini, yang Pro UU ini akan mendirikan negara sendiri dan yang kontra akan mendirikan negara sendiri. Ini yang menurt gw harus disikapi secara bijaksana. Soalnya buat gw dan pekerja lainnya yang terbiasa berpindah dari satu propinsi ke propinsi yg lain karena pekerjaan nggak bisa membayangkan gimana jadinya klo setiap propinsi menjadi negara yang merdeka.
So marilah kita selesaikan masalah ini dengan “kepala yang dingin” baik yang kontra maupun pro. Kalaupun natinya UU ini terbukti mematikan hak-hak pribadi warga negara dan bertentangan dengan UUD 45 bisa diajukan ke Mahkamah Kostitusi untuk meninjau ulang UU ini. Ada jalur legal yang bisa ditempuh, jadi buat apa saling mengancam akan membentuk negara sendiri yang merdeka. Janganlah masalah UU ini disikapi dengan disintegrasi, apalagi kita sekarang sedang berada dalam situasi krisis global, jika malah pecah sendiri-sendiri bisa-bisa kita harus kembali ke masa krisis 1997. Jadi sekali lagi gw cuma bisa berharap agar UU ini bisa diskapi secara bijak baik bagi yang pro maupun yang kotra.
3 November 2008 at 3:51 pm
Mendingan sepak bola juga dilarang. Pasti Indonesia bisa jadi juara dunia. Kok bisa? Ya iyalah, di Indonesia ini, sesuatu yang dilarang, maka akan semakin majulah sesuatu yg dilarang itu. Contohnya aja neh, di aceh yang katanya serambi mekah dan jelas kg boleh narkoba, eh di situ malah paling jago ngembangin daun surga. gile kan tuh. Tp knp pd diem semua ya. hayooo, Jd jangan dibe lah tp dibe dong aja. Iya kan Tika?
3 November 2008 at 5:03 pm
Tukang buat RUU atw yang kagak setuju, sama2 punya latar belakang pemikiran baik, yang paling penting ni… bisa kagak mrk2 yang duduk di singga sana konsisten merealisasikan aturan mainnya. Kalau lihat mereka itu dari dulu memang jago bikin aturan. Nggak teritung deh……produk produk RUU…….tapi ujungnya sama aja PANAS2 TAI AYAM.
3 November 2008 at 10:19 pm
Ribut-ribut soal pornografi,orang ga ada yang sadar bahwa mereka dilahirkan ke dunia ini dari hasil tindakan porno,…
4 November 2008 at 9:19 am
Saya kurang setuju terhadap pengesahan UU ini…
Kalau dikatakn RUU ini untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa, rasa – rasanya juga kurang pas
Menurut saya banyak hal yang kurang terdefinisi secara jelas.
1. Membangkitkan Hasrat Seksual : setiap orang punya standar yang berbeda dalam hal pembangkitkan hasrat seksualnya.. Hal ini kembali kepada pribadi masing – masing.
2. Apakah setiap orang yang melihat gambar/ lukisan/ foto telanjang akan berpendapat bahwa itu hanya sekedar produk pornografi murahan, bagaimana dengan mereka yang menilai itu sebagai bentuk apresiasi seni ??
Adakah standarnya?
3. Saudara kita di papua juga mengenakan pakaian adat yang sangat minim.. apakah kita melarang mereka mengenakan pakaian adat bila mereka di luar papua..
Bukankah ini menjadikan kita menghilangkan penghormatan kita terhadap kemajemukan bangsa??
Mungkin perlu revisi lagi dengan pembatasan dan definisi yang jelas, yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia yang majemuk dengan berbagai macam AGAMA, BUDAYA, SUKU dan BAHASA di dalamnya.
Menurut saya pendidikan agama dan moral dalam lingkup terkecil (keluarga) lah yang harus kita galakkan untuk melindungi masa depan bangsa. Dengan memberikan pengertian2 terhadap hal bersifat seksual secara gamblang dan jelas.. dan bukan lagi sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan pada anak – cucu kita.
Ya gampangnya, kalau gak mau bangkit hasrat seksualnya ya jangan beli film porno, atau nonton sexy dancer…
Kalau ga suka dengan gambar / lukisan telanjang ya jangan dilihat / dibeli.
Takut gambar porno beredar di internat dan jaringan komputer dirumah anda, kan bisa di aktifkan adult site filternya..
Takut anak anda terpengaruh tontonan yang kurang bermanfaat di TV, dampingi anak anda ketika menonton televisi dan beri pengertian. Lagipula undang2 penyiaran juga ada kan dan mengatur tentang hal ini.. Ada juga lembaga sensor film, yang bertanggung jawab atas materi dalam film.
Menurut saya perang terhadap pengaruh buruk pornografi lebih efektif di awali dari rumah kita sendiri..
Tanggung jawab orang tua lah untuk membentuk filter2 dalam diri anak mereka untuk tidak terpengaruh.
Karena,kita tidak bisa menutup diri selamanya.. ketika kita menyatakan Indonesia siap dalam era globalisasi, seyogyanya kita siap atas sisi negatif globalisasi itu pula.
Ini mungkin solusi saya atas pembentukan dan penyelamatan moral generasi penerus bangsa.
HIDUP INDONESIA…
4 November 2008 at 9:27 am
dari jaman SD juga gue udah tau kalo porno itu dilarang…
yang kagak setuju emang dia suka ama yang porno….heran..urat malunya udah pada kagak ada kali yah orang jaman sekarang..
@srimarinten >> ini lagi satu bilang “kalo kita hasil dari tindakan porno”…WOI..baca dulu UUnya baru komen!!!..
itu juga para artis dan seniman…kagak baca dulu maen demo ajah…ngakunya berpendidikan tapi kelakukan Barbar…baca dulu baru Demo…!!! liat pasal 14 UU tersebut. siapa yang ngelarang elo mo telanjang…????
emang Ramalan Nabi Muhammad itu benar…”Ada disuatu zaman yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan”
udah jelas porno, masih dibela juga….
Siapa yang bilang pemerintah ngga berantas korupsi??? kalo gitu selama ini KPK ngapain dong???? baca berita maaaas…. negara ini besar…masalahnya banyak…atu-atu dong…
4 November 2008 at 9:40 am
@Felix >>> udah baca blom UUnya??? baca dulu mass….
1. Hasrat Seksual….>>> yang namanya ngeliat begituan mana ada yang bisa tahan bosssss….gila apa loe? kecuali kelainan seksual
2 & 3 >>>>> Baca dulu UUnya bos…lihat pasal 14
Pasal 14
Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk kepentingan dan memiliki nilai:
a.seni dan budaya;
b.adat istiadat; dan
c.ritual tradisional.
gue sih yakin bahwa saudara kita Dari Islam, Kristen, Budha,Hindu dll sangat jelas tentang aturan melarang pornografi…karena semua agama menentang hal tersebut.
mo jagain anak nonton TV??? tutup jaringan internet dari hal2 porno??? emang kerjaan loe jagain anak doang???
gue sih setuju bahwa semua dimulai dari keluarga..tapi kita juga harus ingat..bahayanya pengaruh dari luar keluarga juga banyak. Bila pornograpfi menyebar dimana2 apakah anda bisa menjaga anak anda kala ia diluar rumah?????
apakah anda bisa menjaga anak anda dari kekerasan seksual dari luar???? ingat peristiwa penelanjangan di SMA 26….apakah anda bisa mengontrol hal tersebut???
4 November 2008 at 3:20 pm
Apa si enaknya pake baju yg terlalu buka2an. Mending bodynya bagus, kulit mulus. Aduuhh ampun deh, udah bentuknya gakaruan, kulit bopeng2.. ampun deh. Aku pernah ke pesta ada cewek pake baju kebuka bgt, padahalnya punggungnya itu loh.. kayak gaktau diri bgt. Eh.. gaknyambung ya? huahahaha…
4 November 2008 at 3:57 pm
Mendingan bos2 yang disono bikin aturan buat ngurangin kemiskinan, bikin rakyat pinter2 sekolah diperbanyak dan ditingkatkan mutunya,gratis.Bangun rumah rumah murah buat si miskin. Jangan bikin RUU yang bikin tambah runyam aja…. RUU pornografi belum wakunya deh…. bisa2 Papua, Bali misah jadi negara sendiri.
6 November 2008 at 6:06 pm
Guwe bingung, kok banyak yg anti porno,cuma bisanya bikin RUU aja. Gimana neh.., didepan mata kita ada pelaku pelakunya, syekh Puji dari semarang yg melanggar uu perkawinan th 74 dengan mengawini anak 12 thn dan yg lagi antri umur 7 lalu 9 thn, tkw tkw kita di arab ,banyak yg dianiaya dan diperkosa, pejabat yg bini nya 5 (gimana tolok ukur moralnya jadi pejabat RI ?). Dimensi moral begitu luas, gak bisa ditentukan oleh negara atau pejabat(yg moralnyapun masih diragukan) kecuali oleh Tuhan. Guwe himbau,yg buat RUU tsb jangan buat jadi UU sebelum melarang sambil memberi teladan bagi pelaku tsb diatas. Bisa gak hayoooo…!
12 November 2008 at 6:12 am
Alkisah di pendopo kabupaten KaliDowo, sedang berembug merancang Perda Anti Banjir. Perda gak pernah selesai2 sampai mendekati musim hujan kembali, para pamong berdebat mengenai definisi banjir, ada yang bilang setinggi mata kaki sudah disebut banjir, yang lain bilang selutut, lainnya lagi sedada, lainnya bila kecepatan alir 40 liter per detik, lainnya bila kadar lumpur 30 %, yang konyol, PemKab tak usah ngurusi banjir, ini wilayah privat masing2 warga. Ada yang menyoal adanya unsur kepentingan, juru sampan, tukang gerobak yang akan menangguk laba dari banjir berusaha dapat proyek dari Kabupaten, petani mengharapkan dibangun sistem irigasi untuk menyelamatkan sawah mereka, sampai bocah-bocahpun ikut2an menolak perda banjir ini karena mengharapkan tidak ada halangan untuk bermain-main air sepuas-puasnya. Wualah… pokoke suasana gaduh, hingar bingar oleh teriakan protes, demo mendukung dan menolak rancangan perda itu. Tapi itu cuma beberapa jam saja, karena yang ada sekarang adalah teriakan histeris, raung ketakutan…lalu hening seketika….. pendopo dan sekelilingnya kini tersapu, porak poranda oleh air bah dari Kalidowo yang terusik tidurnya………….
20 November 2008 at 9:28 am
Sebagian besar yg menolak ruu-pornografi berawal dari kebencian dari judulnya, sedangkan yang tau isinya dan menolak ruu-pornografi cuman sedikit.
Tapi kedua2nya punya persamaan, sama2 kreatif mencari-cari alasan penolakan. Hatinya sudah tertutup dari cahaya Illahi, Otaknya berputar mencari penyangkalan. Biarlah, “Hidayah Itu Mahal” kata mantan Rektor UKI Papua, mantan Pendeta, S3 Teologi.
10 Desember 2008 at 2:37 pm
Wew, yang ndak stuju alasannya apa? Apalagi kl yg ndak stuju tu wanita. Kan boleh dong, kami2 yg bujangan ini dilindungi dari godaan ciptaan Yang Maha Indah?
Klo kami tergoda dan melakukan perbuatan tercela karenanya, yang dihukum siapa? Yang tergoda juga kan?
Aneh. Bangsa AS aja bisa rakyatnya komplain ke pihak berwajib kl ada orang *naked* di muka umum (kl merasa terganggu) . Nah klo di Indonesia mangnya yg gituan bisa dikomplain?
30 Desember 2008 at 10:46 am
Kalau kita baca buku “Kenapa Berbikini Tak Langgar UU Pornografi” (ada di Gramedia) niscaya kita akan paham bahwa UU Pornografi sangat liberal, karena membolehkan perseorangan berpakaian minimalis, seperti bikini, di depan umum.