Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri Karangsuko Malang.
Seorang pria yang hendak menikahi seorang wanita, kata Rasulullah, tidak lepas dari tiga pertimbangan: kecantikan (jamaliha), kekayaan (maliha) dan agama (diniha). Dari ketiga faktor tersebut, kata Rasululullah lagi, pertimbangan berdasarkan kualitas spiritual seorang wanita (li diniha) adalah yang paling tepat dan menguntungkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat — menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah. Dalam Quran Surat Annur 24:3 Allah membuat larangan tegas kepada seorang muslim yang salih agar tidak menikahi wanita pezina (kecuali setelah bertobat nasuha).
Tentu saja konsep yang sama (li diniha) hendaknya juga dijadikan prioritas utama bagi wanita dalam menentukan calon pendamping hidupnya; bukan berdasarkan ketampanan dan kekayaannya.
EQ dan SQ
Manusia dikaruniai kecerdasan yang jauh melebihi hewan. Sebagian ahli psikososial membagi kecerdasan yang ada pada diri manusia dalam beberapa macam, yang terpenting dan relevan dengan pembahasan saat ini ada dua yaitu kecerdasan emosional atau EQ (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual atau SQ (spiritual quotient).
EQ atau kecerdasan emosional yang ada pada diri manusia berfungsi untuk mengontrol perilaku agar sesuai dengan tatanan sosial yang ada. Untuk memahami mana perilaku yang ditabukan, dibolehkan atau dianjurkan dalam suatu masyarakat tertentu. Ia juga berfungsi untuk memahami mana sikap yang akan melukai, menyinggung perasaan atau menyenangkan orang lain. Semakin tinggi kadar EQ seseorang, maka akan semakin diterima orang tersebut di lingkungannya. Kebalikannya, semakin lemah kadar EQ-nya, akan semakin terasing dan tak disenangi seseorang di mana pun dia berada.
Tanda paling menyolok dari individu yang lemah EQ-nya adalah sikap egois, kikir, pemarah dan tidak hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain dan lingkungannya.
Dalam pandangan Islam, memiliki EQ tinggi saja tidak cukup. Seorang Muslim harus juga memiliki kecerdasan spiritual atau SQ yang tinggi yakni ketundukan pada Allah, Sang Pencipta (QS Adz Dzariyat 51:56). Ketundukan dengan ikhlas untuk melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya menjadi prasyarat yang tak kalah pentingnya dalam rangka usaha manusia untuk menuju kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat (Al Baqarah 2:201).
Dengan demikian, yang disebut wanita agamis bukanlah mereka yang “cuma” memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi yang ditandai dengan ketundukan pada prinsip-prinsip Islam dan menguasai keilmuan agama yang mumpuni. Juga bukanlah wanita yang cuma memiliki kecerdasan perilaku (EQ); apalagi kecerdasan intelektual (IQ).
Wanita agamis adalah mereka yang memiliki baik kecerdasan SQ maupun EQ. Semakin tinggi kadar SQ dan EQ-nya, semakin tinggi ke-agamis-annya.
Berbeda dengan IQ atau kecerdasan intelektual, SQ dan EQ bukanlah “bawaan lahir.” Ia harus diusahakan dengan kerja keras (Al Balad 90:10-18). Dengan perjuangan terus menerus. Rasulullah menyebutnya sebagai “jihad besar.” Karena memang tiada perjuangan yang lebih berat selain perjuangan untuk mereformasi diri; meningkatkan kadar kualitas EQ dan SQ. Karena ia merupakan perjuangan terus menerus dan berkelanjutan dari lahir sampai akhir hayat.[]
Artikel terkait:














31 Oktober 2008 at 1:25 am
perempuan beginian saya mauh oom
31 Oktober 2008 at 3:54 am
gabungan keduanya akan menjadikan kita orang yang hebat. postingan yang hebat
31 Oktober 2008 at 6:37 am
Memang lengkap sudah petunjuk-petunjuk Al Quran bagi manusia, even masalah mencari jodoh
Great posting ..
31 Oktober 2008 at 9:18 am
makasih infonya beguna banget nih….oh… ada contohnya ngak mas wanita nya di indonesia yang memiliki kelengkapan itu…ehehe
31 Oktober 2008 at 10:13 am
waniata yang berkualitas secara agama akan menjadikan bangsa kita lebih baik dan kokoh
31 Oktober 2008 at 6:46 pm
Wanita li diniha akan terbentuk dari orangtua dan lingkungan yang agamis pula. Adalah tugas kita para mujahid untuk bisa menciptakan kondisi ini. Melindungi anak2 putri kita, adik2 kita dari cengkraman dunia yg menipu, serta mendidiknya untuk dapat memahami dirinya dan untuk apa kehidupannya ini.
Semoga kita bisa istiqomah memegang tanggungjawab ini, ya.
1 November 2008 at 9:38 am
Lucu ya… laki-laki… apapun sifatnya (dari yang *maaf* brengsek abis sampai yang sangat beriman) milihnya wanita agamis untuk masa depan.. alias sebagai calon istri… tapi.. sering mereka tidak melihat apalagi mau melakoni… untuk mempunyai istri yang sholehah… mereka harus “belajar” dan “berjuang” jadi sholeh.
Yah… gitu deh… cita-cita.. setiiiiiinnnnngggggiiii langit… sedangkan tangga bambu untuk meraih aja gak punya… sedih kan???? (hik hik hik)
1 November 2008 at 11:42 am
patut bersyukur saat dapat wanita yang cantik, kaya dan paham tentang agama…
1 November 2008 at 3:21 pm
membuat dia jadi begini … mungkin lebih bahagia yah…
1 November 2008 at 6:28 pm
Mumpung bertema “agamis”, alangkah baik sekiranya mengulas secara lugas tapi luas tentang “Trio Bomber Bali I” sebagai sosok muslim, teroris, syuhada’, dan segala labelitas-stigma tentang mereka. Termasuk kaitannya dengan Australia-Amerika yang pasti merasa puas. Ingin tahu pendapat teman2, karena di sini tidak pernah sepi dari ‘komentator’. Terima kasih..
2 November 2008 at 3:10 am
mas fatih, aq mau nanya ketentuan copay-paste gambar di internet gimana biar gak disebut plagiat ?
2 November 2008 at 4:20 am
tanks atas artikelnya mas patih
salam blogger
2 November 2008 at 6:21 pm
Wah sy sudah terlanjur punya istri, nanti kalo dah dapat adsense yang banyak, bisa nyari lagi
3 November 2008 at 3:45 am
Wanita seperti ini yang dicari hampir semua laki-laki
tapi semua itu sudah sunnatullah
bahwa wanita mukmin untuk laki-laki mukmin
begitu pula sebaliknya
thank’s mas fatih artikel yang bagus
3 November 2008 at 4:14 am
wah sip nih. tapi nyari yg kayak gini di kota besar udah langkah om
3 November 2008 at 2:29 pm
Assalamualikum Wr,Wb
Patuh buat saya menjadi beberapa macam/bagian
Patuh karena takut kepada Allah SWT
Patuh karena taat kepada Allah SWT
Patuh karena cinta dan sayang kepada Allah SWT
tergantung dari masing2 diri ingin memilih yang mana?
Dalam berjihad wanita dan pria tidak lah harus berbeda, jihad wanita dan pria adalah sama
Mengapa harus sama? karena Pria dan Wanita di cipta dalam keadaan fitrah, yaitu dalam soal ke Imanan dan Keyakinan menuju Taqwa tidak ada perbedaan. hanya tergantung dari pada mereka siapa yang paling bertaqwa kepada Allah dialah yang paling mulia di sisi Allah. Apakah dia Pria maupun Wanita.
Soal Berjihad itu berarti berperan aktif dalam Amar’ Ma’ruf Nahi dan Munkar. yaitu Membela Kebenaran karena Allah dan Mencegah kemungkaran karena Allah. Tidak ada istilah apa kah ia harus seorang laki2 saja. akan tetapi semua Orang Mukmin dan Mukminat wajib melaksanakan Perintah Allah berupa Amar Ma’ruf Nahi dan Munkar.
Akan tetapi jika jihad yang dimaksud adalah peperangan. Maka seorang wanita yang bersuami haruslah mendapatkan ridho dari pada suaminya. Jika Suami tidak meridhoi maka tidak di perkenankan baginya untuk berjihad dalam peperangan.
3 November 2008 at 5:26 pm
maaf, bukankah da empat kang? gini kalo gak salah bunyi hadistnya :tunkahu al mar’atu (wanita itu dinikahi) li arbain (karena empat perkara), limaliha (karena hartanya), wajamaliha (karena cantiknya), wanasabiha (karena keturunannya), wa diiniha (dan karena agamanya), fadhfar didzatiddini wa ilaa taribat yadak (maka hendaklah kamu lebih memilih agamanya, agar tidak rusak engkau), atau ada yang pake struktur kata taribat yadak, tanpa kata wa ilaa. ehm yah cuma bergbagi saja kang, soale itu yang saya tahu. salam damai!
6 November 2008 at 2:48 am
Betapa bahagianya punya istri yg sesuai kualifikasi diatas. .
7 November 2008 at 12:15 am
betul itu betul ad 4 bukan 3
7 November 2008 at 12:22 am
soal trio bomber bali lebih baek baca buku ttg “bom bali” karya wartawan republika ( sy lupa judul lengkap n nm pengarang’y)
lebih asoy geboy dr pd dengerin di tv yg sumber nya dr amrik sono n kroni2′y LSM
12 November 2008 at 3:30 am
sounds too good to be true to me. there’s hardly any living woman like that on Earth nowadays…but it serves a good guidance for everyone who wants a better world.women are not only supplementary to men, they mean more than just a partner.I couldnt agree more that Moslem men are supposed to marry such women,but it is the huge homework for the moslem men to make themselves deserve marrying those pious women…in other words,it is a shame for men to demand more and more to women but at the same time leaving themselves unimproved.because only good men deserve good women.that wraps up my comment.CU mrFatih.enchanting blog and articles….teach
13 November 2008 at 2:11 pm
benar mbak, wanita memiliki keistimewaan dapat masuk pintu syurga dari pintu mana saja.. hanya dengan 4 syarat.. atau ketentuan.
14 November 2008 at 7:19 am
tanpa wanita,,,dunia kaya apa ya??? tanya kenapa..
19 November 2008 at 2:20 am
Betul kalau yang paham agama akan membuat hidup kita lebih sakinah karena mereak akan qana’ah dan istiqomah dalam menjalani bahtera hidup…
28 November 2008 at 7:06 pm
bagus seklai tulisan ini…
4 Desember 2008 at 8:03 pm
wanita agamis tu enaknya di jamahin tubuh nya aja , kan biasanya pake jilbab fuuuul , jd tubuhnya pasti mulllllluusssss bgt , wah jadi horny nie
4 Desember 2008 at 8:23 pm
kepada para wanita yang agamis calll me ya
14 Desember 2008 at 10:24 am
wah kren banget postingan anda. saya iri sih, gmana agar bisa kayak anda. hehehhehe
10 Februari 2009 at 3:21 am
Ok dech
2 Maret 2009 at 10:40 am
A-ku titipkan
S-alam lewat
S-emilir
A-ngin dan
L-antunan
A-sma
A-llah yang
M-asih melekat pada
U-mmatNya
A-ndai
L-angit mendengar
A-ku
I-ngin
K-irimkan
U-capan
M-et pagi….
nice blog!