Farzan Esfandiar Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin SANTRI Ponpes Alkhoirot Karangsuko Malang

Apabila setiap muslim diharuskan untuk menjadi pemimpin, yang cakupan kepemimpinannya sesuai dengan wawasan keilmuan dan kapasitas kepribadian, maka dalam konteks muslim Indonesia santri-lah yang paling berhak menyandang gelar sebagai pemimpin dan pelopor baik dalam lingkup masyarakat lokal maupun pada level nasional.

Ada empat faktor yang mendasari hal ini: pertama, wawasan spiritual (QS At Taubah 9:123). Santri adalah kalangan yang paling banyak mempelajari ilmu agama. Seorang pemimpin ideal hendaknya tidak diragukan wawasan keagamaannya. Sebab wawasan spiritual akan sangat membantu dalam menyeimbangkan kepribadian seorang pemimpin dalam berperilaku dan mengambil keputusan yang benar (QS Al Ankabut 29:13).

Kedua, mandiri. Seorang pemimpin harus mandiri yakni memiliki kepribadian yang independen yang memiliki ketergantungan hanya pada Sang Pencipta (QS Yunus 10:62). Pemimpin adalah sosok panutan banyak orang. Tidak ada satupun individu yang rela menjadi pengikut dari sosok pribadi yang tidak mandiri. Tentu saja pribadi mandiri bukan berarti pribadi yang tidak butuh pada orang lain sama sekali. Akan tetapi kebutuhan itu tidak pada tahap ketergantungan. Ia lebih bersifat mutual (saling memerlukan) seperti butuhnya penjual pada pembeli, bukan seperti butuhnya bayi pada ibu yang menyusuinya.

Apabila karakter kemandirian seseorang sebagian besar dibentuk oleh lingkungan, maka lingkungan pesantren dapat dikatakan memiliki pengaruh paling kuat dibanding lingkungan pendidikan lain dalam membentuk karakter mandiri seseorang.

Di pesantren, seorang santri dididik selama 24 jam tidak hanya dalam keilmuan “formal” seperti ilmu fiqh, Hadith, tafsir, dan lain-lain, tetapi juga dalam keilmuan “non formal” seperti kesabaran, percaya diri dan kerja keras; tiga sifat minimal yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin.

Hal lain yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan nonformal di pesantren adalah santri dilatih sebagai “pemimpin-pemimpin kecil” yang memiliki tugas-tugas rutin dalam mengkoordinir kegiatan harian pesantren. Kebiasaan ini pada gilirannya nanti menjadi modal yang kuat bagi seorang santri untuk melatih insting kepemimpinannnya saat terjun di masyakarat.

Ketiga, akhlakul karimah (QS Al Qolam 68:4). Masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki perilaku akhlakul karimah. Pribadi akhlakul karimah akan selalu mendasarkan setiap tindakan pribadinya pada etika tertinggi baik menurut tinjauan agama maupun pandangan sosial. Sebaliknya, ia akan bersikap bijak dan “agak longgar” dalam menilai dan memberi “fatwa” pada kalangan yang dipimpinnya. Karena berwawasan luas dan berkepribadian tasamuh (bijaksana), ia disenangi kawan dan disegani lawan.

Keempat, sederhana dan jujur. Lingkungan pesantren adalah lingkungan pendidikan yang sangat mendorong santri untuk hidup sederhana. Kesederhanaan adalah salah satu moralitas tertinggi di samping kejujuran. Sederhana dan jujur adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sulit untuk hidup dalam kejujuran, apabila kita meninggalkan kesederhanaan.

Keempat faktor di atas menempatkan santri menjadi seorang calon pemimpin yang ideal untuk memimpin masyarakat dan bangsa Indonesia di masa depan. Kenyataan ini hendaknya tidak menjadikan kita berbangga hati, sebaliknya harus kita jadikan bahan introspeksi diri; sudahkan para santri selaras dengan keempat kriteria di atas?[]

Artikel islami terkait:
Buletin EL-UKHUWAH

  • Hidup Sederhana Sebagai Pilihan
  • Wanita Dewasa
  • Wanita Berkepribadian
  • Wanita Kota dan Wanita Desa
  • Wanita Agamis
  • Wanita Berjilbab
  • Wanita Idaman
  • Wanita Karir
  • Wanita Pintar
  • Wanita Modern
  • Wanita Trendy
  • Self Esteem Wanita Muslimah
  • Hidup Bahagia
  • Zina dan AIDS
  • Kebebasan Memilih
  • Syukur
  • Tawakkal
  • Kerja Keras
  • Buletin SANTRI

  • Kredibilitas Santri
  • Santri Progresif
  • Santri Pemimpin
  • Buletin SISWA

  • Apa itu Kredibilitas
  • Santri Dinamis
  • Jujur

    1. Pertamaaaaaaxxxzzzz.. apa jadinya jika manusia memimpin diri sendiri saja tidak berhasil.. FITRAH DIRI.. JIWA TENANG.. itulah manusia seutuhnya
      Salam Sayang

    2. $alam……….wah foto nya lucu lucu…

    3. SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

    4. hem beratt bgt topiknya ya deh numpang mampir aja ya,g berani koment lebih

    5. Santri memang pemimpin yang luar biasa.

    6. Assalamulaykum,

      Saya orang Islam yang sangat tidak setuju jika santri menjadi pemimpin bangsa masa depan. Lha wong Gusdur yang biangnya santri aja gagal total dan malah bikin Indonesia kacau balau.

      Lantas bukan berarti saya anti pesantren atau anti Islam. Lha wong anak saya aja saya sekolahin di pondok pesantren.

      Soal kepemimpinan, nanti dulu kalo cuma kriteria seperti antum jabarkan diatas.

      Karena kriteria pemimpin yang antum jabarkan sangat umum, general, dan terlalu sederhana dan klasik. Ndeso dan tidak sangat jauh dari kriteria pemimpin abad modern. Sebagai basic atau dasar memang iya. Tapi kriteria tersebut baru 5% dari kebutuhan yang seharusnya dipenuhi.

      Pemimpin yang benar adalah memiliki sifat Imagineering. Futuristik. Punya quantum leave (pola berfikir jauh kedepan) dan mengerti teknologi.

      Sebagai pertimbangan:
      Orang Islam itu jelas paling mulia, tidak diragukan lagi. Ibadah sholat paling banyak dibanding agama lain, zikir, sholawat, doa, istighfar, jelas paling banyak.

      Nah, giliran hidup nyata, dihidup dimasyarakat, hidup dimasa persaingan global dan modern, hampir 99% pada keok, dan menjadi orang miskin.

      Kita telah salah mengartikan sejarah Islam. Kurang jeli dan teliti dalam menelaah sejarah. Apakah kemenangan Khalid bin Walid karena dia lebih banyak berdoa dibandingkan musuhnya? jelas bukan. Khalid bin Walid lebih cerdas dalam hal teknik perang (strategi perang), teknik penggunaan senjata lebih effektif. dan seterusnya. Nah karena itu semua terpenuhi, barulah Allah memenangkan beliau. Bukankan sunatullah itu harus ada sebab akibat. Orang bodoh namun pingin pinter ya harus belajar, orang beriman pingin menang yang harus hebat teknologinya. dst..dst,

      Zaman Nabi Musa, jika ingin dibilang hebat maka harus bisa sihir, Zaman sekarang adalah abad teknologi maka harus bisa teknologi.
      *** ingat teknologi bukan berarti jago komputer atau IT, karena ga mungkin segala sesuatu hanya dilakukan dengan remote atau keyboard tanpa ada teknologi perangkat keras yang mendukungnya. Teknoligi itu ya dari teknologi permesinan, pertanian, konstrksi, bahkan hingga teknologi antariksa.dst,dst.

      Antum boleh baca tulisan ana, judulnya “detik-detik keruntuhan benteng cordoba”. kunjungi blog ayat-ayat sang insinyur. Mudah-mudahan antum bisa mengerti makna betapa pentingnya menguasai teknologi, moga antum bener-bener jadi pemimpin yang sempurna kelak.

      Salam.
      ayatayatsanginsinyur

    7. Ass.Wb, semoga kita bisa memiliki jiwa pemimpin yang adil dan bijaksana, dengan membawa amanah yang dapat memberikan kehidupan lebih baik bagi setiap insan yang tawakal,amin

    8. wach mantap pembelajaran buat si AQ makasih soob fostingannaya

    9. apa masih ada yach pemimpin yang nyantri di neneri inih boss

    10. sukses and mantap lanjutkan postingan yang sangat berguna boss

    11. artikel yg keren …lanjutkan utuk terus berkarya…

    12. harahap

      saya sedikit setuju namun tetap mo berargumentasi…sedikit tentang ketidak setujuan saya bahwa santri yang layak menjadi pemimpin di lingkup yang sangat besar dalam artikel diatas….dua hal kesalahan dalam konteks kajian artikel diatas adalah, generalisasi yang dillakukan sangat mengesankan kecerobohan sang penulis, sehingga ia terjebak dalam pemahaman yang sempit, karena sedikit contoh para santri yang menjadi pengguna narkoba…kedua pendidikan didapat saat menjadi seorang santri tidak menjamin akhlak yang baik, hanya saja ilmu mungkin diatas rata…
      sebaiknya juga saya menyarankan kepada yang menulis artikel diatas adalah cobalah mengkaji secara yuridis, historis dan empiris…ok…




    Leave a Comment