Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El Ekhuwah PP Alkhoirot Putri Karangsuko, Pagelaran, Malang
Di dunia ini, kata Calvin Coolidge, tidak ada yang dapat mengganti posisi sikap Persisten (dalam menentukan sukses dan gagalnya suatu usaha). Bukan bakat; banyak orang gagal yang sebenarnya berbakat. Bukan kecerdasan, tidak sedikit orang yang sangat cerdas tidak mencapai apa-apa dalam hidupnya. Tidak juga pendidikan; saat ini kita lihat banyak pengangguran berpendidikan tinggi. Persisten adalah salah satu kunci sukses utama.
Apa itu persisten? Persisten berasal dari bahasa Inggris persistence yang bermakna kualitas kepribadian yang memiliki kemauan kuat (determinasi) untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu sampai berhasil. Seorang yang persisten tidak segan untuk terus mencoba seberapa berat pun tantangan yang dihadapi.
Dengan kata lain, sikap persisten adalah gabungan dari sikap sabar, gigih, teguh dan pantang menyerah atas apa yang diusahakan. Seorang yang persisten selalu ngotot untuk mencapai apa yang diinginkannya kendati menghadapi kesulitan dan tantangan.
Dalam Al Quran, sikap persisten disebut shabr (QS Al Baqarah 2:153). Shabr dalam Al Quran sedikit berbeda dengan padanan kata “sabar” dalam bahasa Indonesia. Karena yang terakhir lebih berkonotasi negatif dan identik dengan kepasrahan membuta.
Namun demikian, sikap persisten harus dibarengi dengan sedikitnya empat faktor berikut untuk menuju kesuksesan yang diinginkan.
Pertama, tujuan atau visi. Sebelum melangkah, miliki tujuan apa yang diinginkan. Visi atau tujuan sangatlah penting. Hanya dengan memiliki tujuan, start kita akan mencapai finish line.
Kedua, perencanaan. Perencanaan yang matang atas apa yang hendak dilakukan itu penting agar jelas langkah detail apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan. Di samping itu, fleksibilitas dalam teknik pelaksanaan juga diperlukan. Sebagai contoh, apabila Rencana A tidak atau sangat sulit berhasil, maka tak perlu ragu untuk ganti ke Rencana B, Rencana C, dan seterusnya.
Teknis perencanaan boleh berubah, tapi tujuan tetap sama. Thomas Edison, penemu energi listrik, persisten atas tujuannya menemukan energi listrik. Akan tetapi dia fleksibel dalam teknik dan percobaan yang dilakukan. Thomas Edison telah melakukan 10.000 kali percobaan dengan metode yang berbeda sebelum akhirnya berhasil.
Ketiga, evaluasi. Dalam manajemen hidup maupun organisasi modern, evaluasi identik dengan maju mundurnya seseorang atau suatu organisasi. Kesalahan dan kelemahan akan menjadi catatan yang tak akan terulang atau minimal dikurangi. Sementara kelebihan dan pencapaian akan menjadi motivasi untuk langkah berikutnya yang lebih baik.
Sikap persisten yang benar disebut dalam Al Quran sebagai mujahadah. Dengan sikap mujahadah ini kemungkinan berhasil sangat tinggi. (QS Al Ankabut 29:65)
***
Walaupun persisten adalah sikap pantang menyerah, namun ada juga saat di mana menyerah atau meninggalkan tujuan itu dapat bahkan perlu dilakukan. Yakni, apabila (a) tujuan yang hendak dicapai sudah dianggap tidak lagi relevan; (b) tujuan yang hendak dicapai mengalami kegagalan dengan berbagai macam cara dan teknis yang dilakukan. Pada titik inilah, perilaku tawakkal diperlukan (Hud 11:56).[]
Artikel islami terkait:
Buletin EL-UKHUWAH
- Hidup Sederhana Sebagai Pilihan
- Wanita Dewasa
- Wanita Berkepribadian
- Wanita Kota dan Wanita Desa
- Wanita Agamis
- Wanita Berjilbab
- Wanita Idaman
- Wanita Karir
- Wanita Pintar
- Wanita Modern
- Wanita Trendy
- Self Esteem Wanita Muslimah
- Hidup Bahagia
- Zina dan AIDS
- Kebebasan Memilih
- Syukur
- Tawakkal
- Kerja Keras
- Kredibilitas Santri
- Santri Progresif
- Santri Pemimpin
- Apa itu Kredibilitas
- Santri Dinamis
- Jujur
Buletin SANTRI
Buletin SISWA














3 Agustus 2009 at 3:15 pm
Memang kita harus bisa menempatkan besaran waktu pada posisi yang tepat…….kapan harus persisten, kapan harus tawakkal…………..
3 Agustus 2009 at 3:19 pm
Sepertinya makna tulisan di atas juga layak dikaitkan dengan manifestasi jihad di kalangan umat Islam. Masih relevankah jihad yang banyak dikaitkan dengan aksi terorisme saat ini? Saya juga muslim. Tapi mari kita kembali merenungkan hakikat jihad yang sesungguhnya.
3 Agustus 2009 at 5:10 pm
ulasan dalam tulisan ini sungguh luar biasa…. saya mendapat pelajaran yang begitu berharga… trim’s
3 Agustus 2009 at 6:31 pm
waduh, baru denger tuh kata persisten????jadi tau deh setelah baca artikel ini…makacih
4 Agustus 2009 at 12:27 pm
“Persisten” kata ini baru saja saya temukan di blog seputar DBS. Wah ! Luar biasa mas, jadi nyambung nih. Ternyata Al-Qur’an bisa jadi referensi kesuksesan kita. Terimakasih
5 Agustus 2009 at 1:14 pm
Persiten itu motivasi ya mas Fatih… tapi kayanya ini lebih kuat.
Oya… mas Fatih.. saya mau tanya kenapa saya kalo komentar di blog sudah PRnya tinggi dibalasnya via email. Padahal blog pemula rasanya senang kalo dikunjungi blogger senior.. itu juga merupakan “Persiten” juga. Lihat blogger YANG INI PRnya sudah 5 tapi baik sekali dan tidak sombong… Semoga Mas Fatih juga begitu…
16 Agustus 2009 at 11:26 pm
ya persisten memang haruslah dimiliki oleh kita dalam menjalankan sebuah rencana bisnis agar kita mampu mencapai apa yang kita tuju…
31 Agustus 2009 at 9:32 am
I love watching Korean dramas, particularly “Jewel in the Palace” and I learned the value of persistence after that. The protagonist-Seo Jang Geum- wanted to be the chief lady chef in the royal kitchen to restore her parents’ defamed reputation. But the antagonist -Lady Choi- managed to make her exiled in Jeju island. While being treated badly as a slave there, Jang Geum tried to devise a new plan to get her way back to the Palace in Seoul by studying hard to be a lady physician. It’s very aspiring drama
31 Agustus 2009 at 1:25 pm
agar berhasil emang harus berusaha ya itu tadi persisten bagus tulisannya
23 September 2009 at 4:54 pm
ulasan dalam tulisan ini sungguh luar biasa…. saya mendapat pelajaran yang begitu berharga, selamat hari raya idul fitri Mas
23 September 2009 at 4:57 pm
ulasan dalam tulisan ini sungguh luar biasa…. saya mendapat pelajaran yang begitu berharga, selamat hari raya idul fitri Mas
mohon maaf lahir dan bathin
10 Oktober 2009 at 8:01 pm
dari tulisan ini saya dapat lebih memahami apa dan bagaimana itu “Persistence”. Trimakasih
13 Oktober 2009 at 11:46 am
artikel yg keren dlama membahas tentang persisitent…