Refleksi & Blog Tutorial

Refleksi dan tutorial blog A. Fatih Syuhud dalam bahasa Indonesia

Pendidikan dan Tradisi Membaca Umat Islam

pendidikan Islam dan tradisi membacaMenuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Tradisi Membaca
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Alkhoirot Edisi Agustus 2010
Pondok Pesantren AlKhoirot Malang, Jatim

Suatu hari ada seorang alumni Al Khoirot bertanya pada saya, mungkinkah Islam mencapai masa keemasan (Islamic Golden Age) seperti dulu? Yang dimaksud dengan masa keemasan Islam adalah masa antara pertengahan abad ke-8 sampai ke-14 masehi atau abad ke-2 sampai ke-8 hijriah.

Era keemasan Islam adalah periode aktivitas keilmuan yang tak tertandingi di segala bidang: sains, teknologi, dan literatur, khususnya biografi, sejarah, dan linguistic. Sebagai contoh, para sarjana dan intelektual, dalam mengumpulkan dan menguji hadits Nabi, telah mengoleksi sejumlah besar informasi terkait dengan pribadi Nabi dan informasi lain seputar sejaah dan bahasa pada masa Nabi.  Dari riset luar biasa itu maka muncullah karya-karya monumental seperti Sirah Rasulillah, ”Kehidupan Nabi,” oleh Ibnu Ishaq, yang kemudian direvisi oleh Ibnu Hisham. Buku ini adalah salah satu karya sejarah Arab, Islam dan kehidupan Nabi paling awal yang menjadi rujukan utama karya-karya setelahnya.

Pada masa inilah para seniman, insinyur, sarjana, filsuf, geografer dan pengusaha memainkan peran penting di bidang pertanian, seni, ekonomi, industri, hukum, sastra, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, teknologi, baik dengan cara memelihara tradisi-tradisi lama maupun dengan menambahkan inovasi dan penemuan-penemuan mereka sendiri.

Islam Saat Ini
Kejayaan Islam di segala bidang itu menjadi kenangan masa lalu. Umat Islam dalam abad-abad terakhir berada dalam posisi yang tidak beruntung. Mereka menjadi mayoritas di negara-negara berkembang yang menjadi negara-negara jajahan bangsa-bangsa Eropa dan baru merdeka sebagai negara berdaulat pada 1940-an ke atas.

Kenyataan  bahwa negara-negara Islam baru merdeka beberapa dekade ini sangat berdampak buruk pada banyak hal, dua yang terpenting dan relevan dengan tulisan ini adalah:

Pertama, kemiskinan. Hampir semua negara yang baru bebas dari penjajahan, baik negara mayoritas Islam atau Kristen,  mendapat predikat sebagai negara berkembang (developing), terbelakang (under-developed) atau negara ketiga (third world). Artinya, negara miskin.  Kemiskinan suatu negara berdampak pada kemiskinan rakyatnya.

Kedua, pendidikan. Negara dan bangsa yang miskin memiliki prioritas yang berbeda dibanding negara maju (developed). Pendidikan yang setinggi-tingginya bukanlah prioritas orang tua di negara miskin. Bagaimana mungkin pendidikan menjadi prioritas, kalau hal yang paling fundamental dalam hidup, yaitu sandang, pangan dan papan masih belum atau sulit terpenuhi?

Rendahnya dan tidak meratanya pendidikan berdampak pada banyak hal-hal negatif lain seperti minimnya minat dan kebiasaan membaca, lemahnya wawasan, tidak adanya spirit penelitian, kurangnya kedewasaan berfikir dan toleransi antar kelompok, lemahnya disiplin, meningkatnya pengangguran, dan lain-lain.

Level Pendidikan dan Kesejahteraan

Seperti disinggung di muka, kondisi kaya-miskin berpengaruh erat pada pendidikan dan level pendidikan yang dicapai. Sekedar ilustrasi, di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), 85 persen penduduknya sudah menyelesaikan SLTA dan 27 persen tamat sarjana S1 atau lebih. Bandingkan dengan Indonesia di mana menurut data tahun 2007 terdapat 20,63 persen lulusan SLTA dan hanya 6,58 persen lulusan perguruan tinggi.  Data untuk Indonesia sebenarnya mewakili realitas yang ada di negara-negara berkembang lain yang penduduknya beragama Islam.

Seperti diketahui, tinggi-rendahnya level pendidikan terkait erat dengan tinggi-rendahnya penghasilan walaupun hal ini bukan satu-satunya parameter. Dari sini terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran setan (vicious cycle): pendidikan rendah karena orang tua miskin,  tercipta orang miskin baru, anak dari orang miskin yang baru tingkat pendidikannya rendah juga, dan seterusnya.

Meningkatkan Taraf Pendidikan Kaum Dhuafa

Untuk menyetop lingkaran setan kemiskinan dan meningkatkan level pendidikan kaum miskin di negara berkembang, maka diperlukan usaha pihak ketiga. Pihak ketiga ini dapat berupa negara atau pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, lembaga pendidikan dan para hartawan yang peduli dengan sesamanya.

Pemerintah dalam hal ini sudah melakukan perannya walaupun belum maksimal seperti diluncurkannya dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) pada 2005 bersamaan dengan wajib belajar 9 tahun. Artinya, dari SD sampai SMP didanai pemerintah. Dan sejak 1978 meningkatnya anggaran pendidikan menjadi 20 persen (yang asalnya 10 persen) dari dana APBN. Adalah sangat ideal  kalau program wajib belajar  tidak hanya 9 tahun, tapi 16 tahun atau sampai sarjana S1.

Perusahaan-peruhaan besar saat ini juga memainkan perannya dengan memberikan beasiswa pada kalangan pelajar dan mahasiswa yang kurang mampu dengan program yang dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Lembaga-lembaga pendidikan juga memiliki program beasiswa bagi siswa tidak mampu agar mereka tetap memiliki harapan, peluang dan masa depan yang sama .

Tradisi memberikan beasiswa atau membiayai sekolah anak miskin tampaknya belum terbiasa dilakukan kalangan individu hartawan di Indonesia. Kelompok hartawan kelas menengah ke bawah cukup banyak di Indonesia. Kalau seandainya setiap individu dari kelompok ini berkemauan untuk membiayai satu anak miskin saja sampai tingkat S1, tentu ini berdampak luar biasa bagi yang anak yang dibantu dan bagi masa depan bangsa ini dalam jangka panjang.

Tradisi Membaca

Apabila pendidikan meningkat, maka tradisi membaca juga meningkat. Sebuah penelitian yang diadakan oleh Naitonal Center for Education Statistics (CES), Amerika,  menyatakan bahwa kebiasaan membaca itu identik dengan pancapaian pendidikan: semakin tinggi level pendidikan seseorang, semakin senang ia membaca koran, majalah, buku setiap hari.

Memang, ciri khas dari negara dan bangsa maju adalah tradisi membaca rakyat yang tinggi. Gemar membaca, hobi membeli dan mengoleksi buku adalah suatu fenomena yang mudah dilihat di negara-negara maju. Tradisi membaca bisa dilihat dari kalangan turis bule yang datang ke Indonesia di mana mereka umumnya menggunakan waktu luangnya dengan membaca, baik saat berada dalam bus, kereta api, atau sedang antri.

Menurut CES, 57 persen warga Amerika dengan taraf pendidikan SLTA dan S1 membaca buku setiap hari.  Tradisi membaca buku yang tinggi di AS dan negara-negara maju yang lain seperti Inggris, Jepang,  persis dengan yang terjadi pada zaman keemasan Islam.

Tradisi membaca buku di Indonesia bisa dilihat dari data jumlah buku yang diterbitkan setiap tahunnya yang ternyata paling rendah di Asia yaitu hanya sekitar 8.000 judul buku per tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul/tahun, Vietnam 45.000 judul/tahun, sedangkan Inggris menerbitkan 100.000 judul/tahun.

Minimnya tradisi membaca di Indonesia bisa juga dilihat dari seberapa banyak kalangan terdidik, seperti para guru dan dosen, yang berlangganan koran, majalah dan memiliki koleksi buku. Begitu juga, kalangan hartawan di perkotaan, apalagi di pedesaan, lebih suka mengoleksi barang-barang antik mahal dan barang pecah belah di lemari ruang tamunya daripada memamerkan buku. Buku belum menjadi koleksi kebanggaan di Indonesia termasuk di kalangan yang cukup terdidik.

Padahal banyaknya informasi yang dibaca akan berdampak positif langsung pada sikap toleransi dan kearifan setiap individu pada kelompok lain yang tidak sepaham. Banyak konflik terjadi karena minimnya informasi dan keilmuan dari masih-masing pihak sehingga cuma mengandalkan informasi dari patron (tokoh yang dihormati).

Kesimpulan

Dari ulasan singkat ini dapat disimpulkan bahwa kebangkitan Islam dapat dicapai dengan meningkatnya kualitas pendidikan setiap individu muslim. Semakin tinggi dan merata level pendidikan, semakin terbuka pintu menuju era kebangkitan Islam.  Kebangkitan Islam yang berkelanjutan tidak dapat dicapai dengan senjata, perilaku intoleransi dan kebanggaan kelompok (eksklusivisme) yang sempit.  Sikap intoleransi membuat umat Islam mudah dipecahbelah provokator selama ratusan tahun. Umat yang ingin maju harus belajar dari kesalahan sejarahnya sendiri. Bukan mengulanginya berkali-kali.

Bibliografi:

  1. Barro, RJ and JW Lee (1993), “International Comparisons of Educational Attainment”, Journal of Monetary Economics, 32:363-394.
  2. Biro Pusat Statistik, 2009.
  3. Howard R. Turner (1997), Science in Medieval Islam, hlm. 270,  University of Texas Press.
  4. Personal income and educational attainment, US Census Bureau, 2006.
  5. Jean Bird (1993) Young Teenage Reading Habits: A Study of the Bookmaster Scheme, Longwood Pr Ltd.

Artikel Islami terkait:

Buletin Alkhoirot Periode 2010/2011

  1. Filsafat Pendidikan Islam
  2. Sejarah Sistem Pendidikan Islam
  3. Ulama Ahli Hadits Perempuan
  4. Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca

Buletin EL-UKHUWAH Periode 2010/2011

  1. Memilih Pasangan Secara Islami
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 6 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 8 Tahun
  5. Pendidikan Islam Anak Usia 11 Tahun
  6. Mencegah Perilaku Feodal Sejak Dini

Buletin SANTRI Periode 2010/2011

  1. Pendidikan Islam Pranatal (Dalam Kandungan)
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 2 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 5 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 9 Tahun
  5. Pendidikan Islam Anak usia 12 Tahun

Buletin SISWA Periode 2010/2011

  1. Pendidikan Islam Anak Usia 1 Tahun
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 3 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 7 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 10 Tahun
  5. Mendidik Anak Gemar Membaca

Arsip Buletin Volume 2009/2010

Filed under: Blog Indonesia, ,

12 Responses

  1. Blog aBBe mengatakan:

    Mampir sore sambil cari informasi

  2. Sharing informasi mengatakan:

    Kunjungan sore sob

  3. OHA mengatakan:

    Makasih banyak informasinya boss

  4. Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca [...]..." permalink="http://afatih.wordpress.com/2010/08/17/pendidikan-dan-tradisi-membaca-umat-islam/#comment-53776"]

    [...] Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca [...]

  5. imam choirul roziqin mengatakan:

    bismillah.

    pernah mendengar aktifis sekuler HMI ahmad wahib?
    dalam catatan hariannya yang sekarang sudah tidak terbit, beliau berkata “Bacalah, apapun itu, majalah, koran, apappun itu, dengan begitu ku sajikan tubuhku secara telanjang di hadapan ilmu pengetahuan, dan mampu terbombardemen oleh pemikiran-pemikiran baru”.

    sebelum renaissance (1300 M) atau lebih tepatnya islam setelah Khalifaturrasyidin, islam benar-benar mencapai titik kulminasi dalam tradisi menulis dan penterjemahan.
    ilmu-ilmu yang dulu berasal dari yunani ia terjemahkan ke bahasa arab, dan di pelajari.

    setelah ia pelajari ia menciptakan buku-buku versi islam. yang tidak menutup kemungkinan menutup pemikira-pemikiran yunani kuno jauh sebelum mereka,

    contoh, kanun kedokteran (ibnu sina). tahaffut al falasifah (al-ghazali) keraguan terhadap galenus, (kedokteran), keraguan terhadap ptomelus( astronomi) dll..

    subhanallah.
    mudah-mudah ini bisa kembali kita ulang.

  6. imam choirul roziqin mengatakan:

    bismillah.

    pernah mendengar aktifis sekuler HMI ahmad wahib?
    dalam catatan hariannya yang sekarang sudah tidak terbit, beliau berkata “Bacalah, apapun itu, majalah, koran, apappun itu, dengan begitu ku sajikan tubuhku secara telanjang di hadapan ilmu pengetahuan, dan mampu terbombardemen oleh pemikiran-pemikiran baru”.

    sebelum renaissance (1300 M) atau lebih tepatnya islam setelah Khalifaturrasyidin, islam benar-benar mencapai titik kulminasi dalam tradisi menulis dan penterjemahan.
    ilmu-ilmu yang dulu berasal dari yunani ia terjemahkan ke bahasa arab, dan di pelajari.

    setelah ia pelajari ia menciptakan buku-buku versi islam. yang tidak menutup kemungkinan menutup pemikira-pemikiran yunani kuno jauh sebelum mereka,

    contoh, kanun kedokteran (ibnu sina). tahaffut al falasifah (al-ghazali) keraguan terhadap galenus, (kedokteran), keraguan terhadap ptomelus( astronomi) dll..

    subhanallah.
    mudah-mudah ini bisa kembali kita ulang.

  7. Al Munawwar mengatakan:

    Mari bangkit dari keterpurukan.
    dan kembali berjaya…
    Al Munawwar

  8. The Weakness mengatakan:

    Tidak terbukti walau era keemasan Islam pada abad ke 8-14 tetapi hingga saat ini tidak ada yang tercatat penemuan-penemuan dari ilmuwan muslim

  9. Pendidikan dan Tradisi Membaca UmatIslam [...]..." permalink="http://afatih.wordpress.com/2010/08/17/pendidikan-dan-tradisi-membaca-umat-islam/#comment-51963"]

    [...] Pendidikan dan Tradisi Membaca Umat Islam [...]

  10. abdul majid mengatakan:

    Berbicara tentang kebangkitan Islam saat ini perlu merujuk pada sejarah emas masa lalu, yang konon Islam dipandang sebagai kiblatnya manusia berbudaya luhur. Kondisi sekarang ini tidak lepas juga dari tiadanya pemimpin umat islam yang efektif dan mendunia, bayangkan jika umat islam secara berkesinambungan sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW (sampaikan shalawat dan salam kepada Beliau dan keluarganya) memiliki pemimpin yang mulia yang kemuliaannya bersumber dari level ketakwaan yang terpuji dimata Allah SWT, dan kepadanya umat bertanya dan bersandar.

    Namun kini ketiadaan pemimpin (Imam) adalah fakta yang terpaksa harus kita terima.

    Konsekwensinya kita kaum muslim kini terpecah dalam berbagai kelompok dan Mazhab.

    Salah satu langkah menuju kebangkitan islam adalah dengan mengamalkan kembali secara konsisten dan konsekwen ajaran Alqur-an.

    Semoga kita bisa memulai dari lingkungan keluarga kita.

    Terima kasih, maaf komentarnya agak panjang.

  11. s2drin4 info Islam Leave a comment Pendidikan dan Tradisi Membaca UmatIslam [...]..." permalink="http://afatih.wordpress.com/2010/08/17/pendidikan-dan-tradisi-membaca-umat-islam/#comment-51870"]

    [...] s2drin4 info Islam Leave a comment Pendidikan dan Tradisi Membaca Umat Islam [...]

Silahkan berkomentar dengan santun

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blogger Indonesia

#1 Top Ten Blogger Indonesia versi Majalah Tempo

Copy code below, insert into your blog
<a href="http://www.fatihsyuhud.com/blogger-tips/" title="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-indonesia.gif" border="0" alt="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot"> </a>

Arsip

Blogger Indonesia FB Profile
Blogger Indonesia Fan Page

Sebarkan Budaya Ngeblog!


Copy kode di bawah, letakkan di Sidebar blog Anda :)
<a href="http://afatih.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-tutorial.gif" border="0" alt="Cara Membuat Blog"> </a>
Tidak tahu cara tukar link? Baca tutorialnya di sini!

Etika Copy Paste

Mengutip tulisan di sini dibolehkan asal menyebut nama penulis (A. Fatih Syuhud) dan link ke fatihsyuhud.net/
A. Fatih Syuhud Budaya ngeblog adalah budaya baca dan menulis dalam skala massal. Sebuah budaya yang dilakukan bangsa-bangsa maju dan civilized. Indonesia akan tetap berkutat dalam kemunduran kalau masih stagnan pada budaya lisan dan enggan mereformasi diri. Setiap Blogger Indonesia "berkewajiban" untuk mengajak rekan-rekannya ngeblog--dengan bahasa Inggris atau Indonesia -- untuk sama-sama menuju tradisi baru insan modern.
Email: fatihsyuhud-at-gmail-dot-com

Paling Populer

Find Us

Blogger Indonesia twitter

Blog Stats

  • 4,413,616 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 620 pengikut lainnya.