Refleksi & Blog Tutorial

Refleksi dan tutorial blog A. Fatih Syuhud dalam bahasa Indonesia

Pesantren dan Pendidikan Anti Teror

Pesantren dan Pendidikan Anti Teror tulisan ini bagian dari seri Pendidikan Islam untuk anak muslim
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Pesantren Al Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Karangsuko, Malang

Abu Bakar Baasyir (ABB) ditangkap untuk kedua kalinya pada 9 Agustus 2010 dengan kapasitas sebagai ketua Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang anggotanya konon terlibat dengan aktifitas perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan terorisme Aceh. Penangkapan itu sebenarnya biasa saja. Karena, memang pemerintah sedang giat-giatnya menumpas gerakan teror di Indonesia.

Namun, fakta bahwa ABB juga seorang pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Jawa Tengah patut menjadi kekuatiran kita bersama, para santri dan pengasuh pesantren. Apalagi, ada beberapa alumni ponpes Ngruki yang terbukti terlibat tindakan terorisme, seperti Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan alias Mubarok dan Joni Achmad Fauzan yang dijatuhi hukuman 6 tahun penjara pada April 2006.

Dengan fakta-fakta itu, kalangan luar pesantren mulai beranggapan bahwa pesantren itu identik dengan terorisme. Atau setidaknya simpati pada para teroris. Walaupun citra buruk ini belum begitu meluas, namun ini patut menjadi perhatian kita bersama dan mengambil langkah antisipatif yang diperlukan untuk membersihkan nama pesantren dari segala anggapan yang keliru. Kita tidak ingin

Diversifikasi Pesantren dan Ideologi

Jamhari dan Jajat Burhanudin membagi pesantren menjadi tiga kelompok. Yaitu, pesantren berbasis NU (Nahdlatul Ulama), pesantren modern dan pesantren independen. Dua pesantren jenis pertama adalah pesantren yang sudah umum diketahui. Pesantren berbasis NU adalah pesantren tradisional yang memiliki hubungan organisasional atau kultural dengan NU. Begitu juga dengan pesantren Muhammadiyah yaitu pesantren yang berafiliasi langsung atau tidak langsung dengan ormas Muhammadiyah. Sedang pesantren independen adalah jenis pesantren model baru di Indonesia. Ia adalah pesantren yang didirikan oleh mereka yang langsung atau tidak langsung berafiliasi dengan ajaran Wahabi atau Salafi.

Pesantren berbasis NU adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang jauh dari hingar bingar aktifitas ideologi ekstrim. Secara empiris pesantren-pesantren tipe ini lebih memfokuskan diri pada program pendidikan. Baik program pengajian kitab kuning klasik, madrasah diniyah maupun pendidikan formal. Materi kurikulum keagamaannya pun tidak jauh dari fiqh, nahwu/sharaf, tauhid, tasawwuf dan Quran hadits.

Pesantren berbasis Muhammadiyah (MD) juga tidak jauh berbeda dengan pesantren NU. Walapun pendirian organisasi Muhammadiyah itu sendiri terinspirasi oleh ajaran pembaharuannya Ibnu Abdul Wahhab, namun Muhammadiyah boleh dikatakan sebagai “Wahabi versi lunak.” Yang tema utama dalam berkonfrontasi dengan orang NU hanya seputar tahlil, talqin, ziarah kubur dan jumlah rakaat tarawih.

Hal ini berbeda dengan pesantren tipe ketiga yang berada di bawah kendali kalangan Salafi. Salafi adalah gerakan paling ektrim di antara gerakan-gerakan Islam yang terinspirasi ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792), yang dikenal juga dengan gerakan Wahabisme.

Ideologi Takfir Salafi

Salah satu doktrin yang menyesatkan dari Salafi atau Wahabisme adalah ideologi takfir.Yakni, keyakinan yang menganggap bahwa orang muslim yang tidak seide dengan dirinya dianggap kafir dan halal untuk dibunuh. Doktrin ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Ibnu Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi untuk menyerang dan membunuh suku-suku lain untuk tujuan mendirikan negara Arab Saudi. Ideologi takfir ini menjadi pemicu masih hidup dan bertahannya terorisme di Indonesia.

Ideologi takfir dari Muhammad Ibnu Abdul Wahhab tertuang jelas dalam salah satu karyanya Kasyfu asy-Sybubuha.t. Kitab ini sarat dengan doktrin pengafiran atas kaum muslimin selain kelompok Wahhabi (yang tunduk menerima ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb). Ia telah mengkategorikan banyak hal yang bukan syirik ke dalam daftar kesyirikan. Dan atas dasar itu ia mengafirkann dan menvonis musyrik selain kelompoknya.

Dalam buku kecil itu, Ibnu Abdil Wahhâb telah menyebut umat Islam, seluruh umat Islam, baik awam maupun ulamanya dari berbagai madzhab dan golongan selain kelompoknya dengan sebutan musyrikin, kafir, syaitan, penyembah berhala, munafikun, dan lain-lain. Konsekuensi dari doktrin ini dipakai oleh kalarangan teroris yang membunuh sesama muslim dengan tanpa merasa berdosa.

Ideologi intoleransi dan sangat mengancam kerukunan antar umat Islam ini semakin berbahaya karena ajaran Salafi ini ditunjang oleh dana besar dari pemerintah Arab Saudi untuk disebarkan ke berbagai negara Islam di seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Penyebaran ajaran Wahabi ini umumnya melalui lulusan universitas-universitas Arab Saudi seperti Jamiah Ummul Quro, Universitas Islam Madinah, Universitas King Saud, atau perguruan tinggi luar Arab Saudi yang mendapat subsidi dari pemerintah Arab Saudi seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta.

Penyebaran doktrin Wahabi selain melalui pesantren mereka, juga melalui khotbah Jum’at, dan ceramah di masjid dan musholla yang sudah mereka “kuasai.”

Respons Pesantren NU

Walaupun sudah jelas bahwa doktrin terorisme dan ajaran Islam garis keras bukan berasal dari pesantren NU dan bahwa pesantren NU selalu menganut ajaran Islam yang moderat (wasath), akan tetapi adalah kurang tepat apabila santri dan kyai pesantren NU tinggal diam terhadap fenomena radikalisasi ini. Pesantren harus memberi respons antisipatif guna mengkonter laju gerakan mereka, memelihara keharmonisan antar-golongan umat Islam dan menjaga nama baik pesantren.

Pertama, tidak membolehkan apalagi mengundang mubalig atau khatib Jum’at kalangan yang dicurigai terpengaruh doktrin Wahabi. Dan menolak tokoh atau organisasi yang menganjurkan kekerasan antar umat Islam.

Kedua, tidak membiarkan kalangan ini menguasai  masjid dan mushola milik NU.

Ketiga, membuat pernyataan yang jelas dan tegas baik secara lisan maupun tulisan bahwa pesantren kita adalah penganut ahlussunnah wal jama’ah yang sangat menghormati perbedaan pendapat, mengakui adanya variasi golongan dalam internal umat; dan karena itu sangat tidak setuju pada kelompok gerakan Islam yang tidak toleran apalagi yang menyerukan kekerasan dan terorisme sebagai jihad.

Keempat, menjadikan sikap toleransli dan anti-teror sebagai kurikulum wajib di madrasah diniyah atau sekolah formal (apabila ada).

Kelima, tidak melindungi mereka yang diduga terlibat dalam gerakan terorisme. Bukan hanya itu, kalau perlu melaporkan mereka apabila diketahui bersembunyi dari pengejaran aparat atau diketahui melakukan perilaku yang mengarah ke tindakan terorisme.

Saya percaya bahwa ideologi kekerasan tidak memiliki banyak pengikut dan bertahan lama. Akan tetapi, dengan aliran dana yang besar membuat golongan yang kecil itu memiliki semangat besar untuk memperjuangkan ideologinya. Apalagi, satu tindakan terorisme sudah cukup untuk menghancurkan nama baik Islam secara keseluruhan.

Last but not least, kejahatan timbul bukan hanya karena adanya orang yang jahat. Akan tetapi, terkadang disebabkan oleh diamnya orang yang baik.[]

Further reading

Barakat Jassem, Global Jihad: A History of the Jihadi Salafi Movement, I.B.Tauris, London, 2011

Jamal Ma’mur Asmani, “Salafi Radikal, Pesantren, dan Terorisme”, JIL 2003

Jamhari and Jajat Burhanudin, “A Brief Mapping of Islamic Education in Indonesia”, PPIM UIN Jakarta.

Roel Meijer (Editor), Global Salafism: Islam’s New Religious Movement, Columbia University Press, 2009.

Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, Arizona State University, 1999.

Artikel Islami terkait:

Buletin Alkhoirot Periode 2010/2011

  1. Filsafat Pendidikan Islam
  2. Sejarah Sistem Pendidikan Islam
  3. Ulama Ahli Hadits Perempuan
  4. Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca
  5. Pendidikan di Era Keemasan Islam
  6. Kemunduran Pendidikan Islam
  7. Pesantren dan Pendidikan Anti-Korupsi
  8. Pesantren dan Pendidikan Anti Teror

Buletin EL-UKHUWAH Periode 2010/2011

  1. Memilih Pasangan Secara Islami
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 6 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 8 Tahun
  5. Pendidikan Islam Anak Usia 11 Tahun
  6. Mencegah Perilaku Feodal Sejak Dini
  7. Kapan Anak Boleh Punya HP?
  8. Perlukan Penghargaan dan Sanksi bagi Anak?

Buletin SANTRI Periode 2010/2011

  1. Pendidikan Islam Pranatal (Dalam Kandungan)
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 2 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 5 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 9 Tahun
  5. Pendidikan Islam Anak usia 12 Tahun
  6. Metode Pendidikan Islam
  7. Membangun Karakter Kepemimpinan Anak
  8. Belajar Mendidik Anak dari China
  9. Penghargaan Pada Anak
  10. Keteladanan Lingkungan

Buletin SISWA Periode 2010/2011

  1. Pendidikan Islam Anak Usia 1 Tahun
  2. Pendidikan Islam Anak Usia 3 Tahun
  3. Pendidikan Islam Anak Usia 7 Tahun
  4. Pendidikan Islam Anak Usia 10 Tahun
  5. Mendidik Anak Gemar Membaca
  6. Pendidikan Islam bagi Remaja
  7. Membangung Kecerdasan Anak
  8. Kapan Anak Boleh Punya Motor?
  9. Pendisiplinan Anak
  10. Keteladanan Tontonan

Filed under: Blog Indonesia,

15 Responses

  1. pencari kebenaran mengatakan:

    Mohon dikutipkan salah satu contoh pengkafiran dalam buku kasfu syubhat yang sembarang mengkategorikan syirik dan mengkafirkan golongan islam yang lain, syukran..

  2. CROCS kw mengatakan:

    jagan sampai kita kena provokasi TERORIS…

  3. mirza amri mengatakan:

    Assalamu’alaikum.
    ajaran islam pada dasarnya adalah ajaran cinta damai, jadi tidak ada alasan dan korelasi yang mendasar untuk mengkaitkan islam dengan terorisme apalagi dengan dunia pesantren,
    wassalam.

  4. chocodol mengatakan:

    Tank’s ur artikel priend

  5. marketivaus mengatakan:

    memang benar yang menjadi keresahan umat islam di kalanga NU adalah ajaran wahabi yang terlalu bertumpu pada ibadah yang sifatnya luar/ lahiriyah, dan berbagai aspek-aspek yang menonjolkan dan terlalu menentang perbedaan. termasuk perbedaan idiologi. mereka terlalu bertumpu pada syariat, padalah di dalam islam dan bila kita telaah lebih dalam masih ada yang namanya hakekat, kemudian makrifat.
    bahwa perbedaan itu adalah takdir allah yang tidak mungkin dapat dibantah. beda pandangan, beda penafsiran, beda pemikiran itu menunjukkan kebesaran allah. ada besar ada kecil, ada baik ada buruk, dll.

  6. mari kita saling menjaga menghormati keberagaman keyakinan

  7. kerajinan indonesia mengatakan:

    dengan membaca artikel diatas saya jadi lebih tahu tentang sisi lain dari islam

  8. wah kok beda banget dengan pemahaman saya tentang isi buku كشف الشبهات ya???
    Banyak kitab2 pengikut wahaby yang justru menegaskan bahwa terorisme (الإرهابية)itu haram.
    Kalau ada orang2 berbaju wahaby, tapi menghalalkan terorisme masih pantaskan disebut wahaby???
    Bahkan saya pernah membaca disuatu situs Yusuf Qardhaqy pernah mengecam ulama wahaby karena menfatwakan demonstrasi itu haram… Kalau demonstrasi haram apalagi teror…
    Ingat, dalam suatu sekolah pun tidak semua siswanya faham benar ajaran guru2nya… Demikian pula dari sekian orang yang belajar buku2nya wahaby, apakah mereka semuanya dapat memhamami keseluruhan pemikiran Ibnu Abdil Wahhab???
    و الله أعلم بالصواب!!!

  9. Arashi Kensho mengatakan:

    iya mas, biasanya para teroris tuh pd salah menafsirkan ayat qur’an.. Jd pd bikin aturan sendiri.. Atw gak sesuai dgn syariat islam.. Akibatny umat muslim lain yg rugi,

  10. sewa mobil mengatakan:

    artikel yang bagus

  11. carsstereo mengatakan:

    yah mdh2an image islam yg identik dgn kekerasan dan teror itu hilang …

  12. alamindawa mengatakan:

    judul yang unik. kenapa islam selalu identik dengan teror.

  13. fajar turtle mengatakan:

    semoga berjalan dengan baik tuh gan anti teror nya..

  14. obat pembesar penis mengatakan:

    Amazing artikel…. Semoga saya bisa praktekan tipsnya dan berhasil

  15. foredi palembang mengatakan:

    Info menarik dan boleh sekali dicoba, Makasih buat infonya dan sukses selalu.

Silahkan berkomentar dengan santun

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blogger Indonesia

#1 Top Ten Blogger Indonesia versi Majalah Tempo

Copy code below, insert into your blog
<a href="http://www.fatihsyuhud.com/blogger-tips/" title="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-indonesia.gif" border="0" alt="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot"> </a>

Arsip

Blogger Indonesia FB Profile
Blogger Indonesia Fan Page

Sebarkan Budaya Ngeblog!


Copy kode di bawah, letakkan di Sidebar blog Anda :)
<a href="http://afatih.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-tutorial.gif" border="0" alt="Cara Membuat Blog"> </a>
Tidak tahu cara tukar link? Baca tutorialnya di sini!

Etika Copy Paste

Mengutip tulisan di sini dibolehkan asal menyebut nama penulis (A. Fatih Syuhud) dan link ke fatihsyuhud.net/
A. Fatih Syuhud Budaya ngeblog adalah budaya baca dan menulis dalam skala massal. Sebuah budaya yang dilakukan bangsa-bangsa maju dan civilized. Indonesia akan tetap berkutat dalam kemunduran kalau masih stagnan pada budaya lisan dan enggan mereformasi diri. Setiap Blogger Indonesia "berkewajiban" untuk mengajak rekan-rekannya ngeblog--dengan bahasa Inggris atau Indonesia -- untuk sama-sama menuju tradisi baru insan modern.
Email: fatihsyuhud-at-gmail-dot-com

Paling Populer

Find Us

Blogger Indonesia twitter

Blog Stats

  • 4,293,749 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 563 pengikut lainnya.