Refleksi & Blog Tutorial

Refleksi dan tutorial blog A. Fatih Syuhud dalam bahasa Indonesia

Kredibilitas Rezim Baru Iraq

Kompas, Jumat, 02 Juli 2004

Oleh A. Fatih Syuhud

Dewan Keamanan PBB (DK PBB), dalam Resolusi 1546, menggambarkan dispensasi baru yang akan mengambil alih Iraq pada 30 Juni, sebagai “pemerintah interim Iraq yang berdaulat”. Dengan adanya AS yang mencari strategi mundur dari Iraq dan tidak lagi menolak untuk memberi “peran” PBB, setelah terjadi konflik pahit yang sama-sama kita saksikan akhir 2002-2003, DK PBB mencoba “melegitimasi” penjajahan AS dan sekutunya atas Iraq.

Utusan Sekjen PBB Lakhdar Brahimi mendapat kehormatan “memilih” Iyad Allawi sebagai perdana menteri (PM) baru. Allawi adalah tokoh yang memiliki kontak luas dengan kalangan Central Intelligence Agency (CIA).
Menurut sebuah laporan New York Times yang dimuat di harian International Herald Tribune pada 10 Juni, mantan pejabat CIA mengatakan bahwa organisasi Allawi, Iraqi National Accord, telah menanam sejumlah bom di Iraq pada 1990-an. CIA merekrut Allawi 1992.

“Kelompok Allawi É menggunakan bom-bom mobil dan bahan-bahan peledak yang lain untuk diselundupkan ke Baghdad dari Iraq utara,” kata pejabat CIA itu. Allawi juga didukung AS karena dia berfungsi sebagai counter point Ahmad Chalabi, tokoh Iraq lain yang didukung AS, yang saat ini dituduh menyuplai informasi intelijen pada Iraq.

Yang menarik, PM baru tersebut konon telah melakukan kampanye public relation (PR) mahal di Washington untuk mendapatkan dukungan. Sebuah laporan di situs USA Today pada 2 Juni mengatakan bahwa Allawi dalam kampanye itu telah membelanjakan USD 340.000 untuk membayar kalangan pakar hukum dan pelobi di Washington serta agen-agen PR di New York. Semuanya dibayar seorang ekspatriat kaya Iraq.

Menurut USA Today, lobi itu dikoordinasi konsultan bisnis Patrick Theros, mantan duta besar AS untuk Qatar, yang kenal baik dengan Allawi. Lobi tersebut mengangkat usaha hukum Preston Gates Ellis & Rouvelas Meeds dan perusahaan PR New York Brown James. Theros merujuk perwakilan PR di Teluk Persia untuk menjawab berbagai pertanyaan yang tidak dapat dihubungi.

Rekor kegiatan pelobi itu menunjukkan bahwa usaha hukum yang terlibat dalam berbagai kontak atas nama Allawi bermula pada akhir Oktober 2003. Kebanyakan dimaksudkan mengadakan berbagai pertemuan dengan anggota berpengaruh Kongres AS dan stafnya, pejabat pemerintah AS, kelompok think tank, dan para jurnalis.

Selain mengadakan kontak dengan kalangan Senator dan Kongres AS, kalangan pelobi tersebut menghubungi para pejabat di Dewan Keamanan Nasional (DKN), Wakil Presiden Dick Cheney, Departemen Pertahanan, CIA, dan tiga think tank berpengaruh Washington, yaitu American Enterprise Institute, Heritage Foundation, dan Brookings Institution.

Dengan latar belakang tersebut, ada pertanyaan patut dikemukakan. Apakah Allawi kredibel membawa Iraq keluar dari sebuah situasi keamanan dan politik yang sangat sulit.

Dalam sebuah situasi di mana kalangan awam Iraq menginginkan berakhirnya penjajahan negara mereka, PM baru itu harus bisa membuktikan bahwa dia mampu melakukan tugas berat dalam membentuk pemerintahan yang kredibel. Rakyat Iraq tentunya menginginkan pemerintahan sendiri yang sah, kredibel, dan terpilih Ðbukan pemerintah yang dijalankan secara remote control oleh Amerika.

Adalah tidak mustahil, Allawi tidak mempunyai pilihan yang lain kecuali secara publik mengikuti keinginan dan aspirasi rakyat Iraq demi tetap bertahan dalam jabatannya. Pemerintah Indonesia juga hendaknya memperhatikan “peralihan kekuasaan” tersebut dengan hati-hati. Sebab, pemerintahan baru masih menghadapi tugas sangat berat. Selain itu, kredibilitasnya akan sangat bergantung pada bagaimana rakyat Iraq merespons situasi tersebut.

Dalam konteks kredibilitas pemerintahan baru Iraq, resolusi 1546 DK PBB merujuk kepada pasukan “multinasional”. Mereka juga mengakui realitas bahwa AS menjadi governing spirit di balik pasukan “multinasional” itu. Klausul 31 dalam resolusi tersebut “menghendaki” agar AS, “atas nama pasukan multinasional”, melapor kepada DK PBB dalam tiga bulan dari tanggal ditetapkannya resolusi dalam berbagai usaha yang dilakukan dan kemajuan yang dibuat pasukan koalisi tersebut, dan melapor setiap empat bulan setelah itu.

Hingga 31 Desember 2005, ketika pemerintah Iraq yang terpilih secara konstitusional mendapat mandat dari resolusi DK PBB untuk menggantikan pemerintah yang sekarang, AS akan tetap “memiliki otoritas penuh” atas pasukan multinasional. Isu terpenting sebenarnya adalah akhir dari pendudukan Ðdan itu hanya bisa terjadi jika Amerika dan pasukan pendudukan yang lain meninggalkan Iraq. Jika hal tersebut terjadi, itulah babak baru kembalinya kedaulatan penuh rakyat Iraq, bukan model “kedaulatan” artifisial seperti yang terjadi saat ini.

* A. Fatih Syuhud, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India

Filed under: Artikel Opini,

Saddam dan Pilihan Dilematik Bush

Kompas, Jumat, 26 Desember 2003

Oleh A Fatih Syuhud

Tempat paling aman, dan tentunya lebih nyaman dibandingkan dengan “lubang tikus” buat Saddam setelah kekalahannya adalah di penjara. Kuburan juga aman, tetapi tidak nyaman. Sebaliknya, George W Bush dan Tony Blair mungkin akan merasa jauh lebih nyaman seandainya Saddam berada dalam kuburan daripada dalam tahanan mereka.

Seperti yang diindikasikan dari laporan interogasi awal, Saddam saat ini tak lebih dari sosok yang kesepian. Ide bahwa dia berada dalam markas alternatif dan sedang mengomandoi perlawanan, ternyata hanyalah mitos yang dikeluarkan sebagai alasan atas tingginya korban jiwa yang diderita Amerika sejak George W Bush mengira bahwa misinya telah rampung dengan jatuhnya patung Saddam pada 9 April. Pasukan Fedayeen (berani mati) adalah semacam tentara bayangan yang eksis dalam setiap perlawanan melawan kolonialisme, baik yang aktual maupun artifisial. Ia merupakan sebuah jaringan sel yang disatukan oleh keyakinan. Mereka yang mengorbankan hidupnya dalam misi bunuh diri berbuat demikian adalah demi motif yang jauh lebih substantif daripada sekadar seorang Saddam Hussein.

Kendati Saddam Hussein ditangkap pada hari Sabtu 13 Desember, kisah itu tidak masuk dalam berita hari Minggu karena Washington menahan beritanya. Bahwa kisah tertangkapnya Saddam justru berawal dari kantor berita Iran, IRNA, mengindikasikan Teheran tahu betul perkembangan yang terjadi di Bagdad.

Saddam tidak membayangkan akan selamat dari penangkapan, khususnya setelah Uday dan Qusay terbunuh pada bulan Juli. Sedikitnya Saddam membayangkan bahwa Amerika akan memperlakukannya sama dengan dia memperlakukan lawannya. Keamanan sebuah sel pasti tampak seperti keajaiban. Sebagai tahanan perang, Saddam hanya dapat dicemarkan, tetapi tidak dapat dieliminasi. Ia aman tidak hanya dari pasukan Amerika, tetapi juga ribuan warga Irak, khususnya Syiah, yang punya alasan personal untuk membalas dendam.

Sejumlah suara di Washington berharap bahwa dia dibunuh di penjara oleh seseorang yang ingin membalas dendam, tetapi itu cara amatiran seandainya sungguh-sungguh terjadi. Saddam bukan seorang tahanan konvensional.
Saddam juga tidak dapat dikirim ke Guantanamo Bay. Ia akan menjadi tahanan paling populer di dunia selama dia hidup, dan ia saat ini akan hidup lebih lama dibandingkan yang ia bayangkan pada 9 April. Ia akan diadili di Irak; hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Pengadilannya akan menjadi kisah terbesar pada tahun depan–dengan asumsi apabila pengadilan itu dimulai tahun depan.

PEMBERITAAN proses pengadilan akan mencapai tahap yang mungkin tidak sesuai dengan visi Tony Blair tentang masa depan dunia Islam (baca: Arab). Kebanyakan stasiun televisi Arab tidak akan melaporkan pengadilan Saddam sang tiran, tetapi sebagai simbol anti-Amerikanisme.

Saddam ketika berkuasa adalah tiran, tetapi Saddam di dalam penjara adalah korban. AS melakukan kesalahan tidak kecil ketika memamerkan video dan gambar Saddam yang sedang diperiksa giginya. Isyarat penghinaan sedikit saja akan selalu mengundang simpati, khususnya di dunia Arab. Kita telah belajar dari contoh dalam sejarah, perbedaan antara tiran dan pahlawan terkadang hanya masalah situasional.

Saddam akan memiliki cukup peluang untuk melakukan reposisi diri selama dalam pengadilan, kapan pun dimulai. Sejumlah pakar hukum akan menikmati kesempatan menjadi pembelanya, dengan popularitas sebagai hadiah memadai atas usaha mereka. Saddam cukup cerdas untuk memahami bagaimana caranya untuk juga mendapat sorotan media.

Selama ini, ia terpaksa berkomunikasi dengan dunia melalui audio atau video sederhana yang dikirim ke media. Ia layaknya seorang pengarang, yang telah menyusun fiksi buruk pada rakyat Irak ketika berkuasa. Dan dia dapat menjadi pengarang nonfiksi selama masa-masa panjang isolasinya.

Pengadilan akan menjadi peluang formalnya untuk membeberkan semua hal menurut versinya, sesuatu yang tidak terakses kita selama ini. Misteri besar tentang senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction/WMD) akhirnya akan berakhir karena tidak satu pun ilmuwan yang sekarang di Irak yang khawatir berkuasanya kembali Saddam. Saddam sendiri akan berbicara apabila mendapat kesempatan bahwa WMD yang dia miliki sudah habis setelah berakhirnya Perang Teluk pertama.

Ia tentunya akan dengan senang hati memberikan nama- nama perusahan Amerika dan Eropa yang membantunya membuat senjata tersebut ketika WMD itu dimaksudkan untuk menarget Iran. Ada sejumlah pertanyaan lagi. Di antaranya, adakah kesepakatan pada detik-detik terakhir yang dilakukan melalui pebisnis Lebanon yang dapat menghindari perang? Kita tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang jelas sejumlah beberan Saddam nantinya tentunya tidak akan membantu dalam tahun pemilu di Peoria, terutama setelah Howard Dean memanfaatkannya dalam debat terbuka dengan George Bush.

Tetapi, konsekuensi terpenting atas tertangkapnya Saddam adalah perubahan peta politik di Irak. Selama ini, kalangan Syiah lebih banyak diam dan cenderung netral dalam konflik antara AS dan kalangan perlawanan sambil menunggu letihnya kedua belah pihak yang sedang melakukan pertarungan ronde pertamanya.

Syiah membenci Saddam. Pemandangan sorak-sorai penduduk di Bagdad yang ditayangkan televisi saat tertangkapnya Saddam sama sekali tidak menyebutkan bahwa kebanyakan yang bergembira itu adalah kalangan Syiah. Dan itu tidak menunjukkan bahwa mereka sedang merayakan kehadiran Amerika.

GEORGE W Bush pernah mengatakan bahwa AS akan menyerahkan kekuasaan ke rakyat Irak pada 1 Juni dan pulang. Penahanan Saddam semestinya membuat proses ini lebih mudah karena ia sudah tidak punya peran apa pun. Tetapi, masyarakat Irak yang mana yang akan mewarisi dan bagaimana legitimasi mereka akan didefinisikan?

Apabila cara yang dipakai adalah kehendak populer rakyat, maka akhir skenario akan lebih sesuai dengan kehendak Teheran dibandingkan dengan kemauan Washington. Evolusi semacam itu akan menjadi dilema besar bagi Bush di tahun pemilihan. Apabila AS tetap tinggal di Irak, peti mati akan meningkat; sedang apabila mereka meninggalkan Irak, teriakan-teriakan dari jalanan Bagdad akan membuat heran rakyat AS tentang apa sebenarnya yang sudah dicapai George W Bush di Irak.

Apakah tertangkapnya Saddam terlalu dini bagi kenyamanan terpilihnya kembali Bush? Yang jelas, seandainya Saddam tertangkap pada bulan Agustus atau September tahun depan, niscaya hal itu akan memberikan Bush peningkatan sangat signifikan dalam jajak pendapat di AS.

Ada satu lagi buruan high-profile dalam daftar hitam Gedung Putih, yakni Osama bin Laden. Mungkin pesan diam- diam yang harus segera dikirim ke Kabul dan Islamabad adalah waktu terbaik untuk menangkapnya adalah pertengahan tahun depan. George W Bush pernah mengatakan dengan gaya Texas-nya bahwa ia menginginkan Osama mati atau hidup. Akankah dia saat ini lebih memilih untuk menghapus pilihan itu?***

A Fatih Syuhud Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India

Filed under: Artikel Opini,

Akankah Irak Menjadi Vietnam Kedua?

Kompas, Sabtu, 15 November 2003

Oleh A Fatih Syuhud

BERITA tentang helikopter Chinook yang ditembak jatuh oleh rudal, menewaskan 16 personel tentara AS (termasuk dua wanita), merupakan kabar buruk bagi AS. Kemudian, Black Hawk ditembak jatuh dekat Tikrit, pada Jumat, menewaskan enam pasukan AS. Berita itu cukup mengkhawatirkan Washington.

Pentagon segera mengerahkan artileri dan serangan udara di Tikrit, di mana kedua helikopter itu diserang. Ini merupakan, salah satu alasannya, kemarahan institusional; Chinooks ditembak jatuh di siang hari bolong, dan saat ini terdapat 25 sampai 30 serangan pada pasukan Amerika Serikat (AS) setiap harinya. Pada bulan Oktober, sebanyak 33 tentara Amerika terbunuh di Irak, lebih dua kali lipat korban pada bulan September; dan bulan November sudah dimulai dengan sangat tidak menyenangkan. Dalam masa tujuh hari bulan November, 35 personel pasukan AS tewas dalam perang gerilya yang efektif dan meluas. Korban kematian AS sudah mendekati angka 400. Artileri dan jet tempur F-16 kembali beroperasi, untuk pertama kalinya sejak George W Bush mengumumkan “Mission Accomplished” pada 1 Mei. Siapa saja yang membaca sejarah mulai melihat kemiripan dengan dua kisah masa lalu.

Pertama dari Vietnam, di mana Pentagon, dengan konsisten dan terkadang brutal, membalas dendam pada warga sipil atas hukuman yang menimpa pasukan militer AS. Di Irak, AS tidak menghadapi tentara kasatmata, dan karena itu menyimpulkan bahwa seluruh Kota Tikrit menjadi target mereka. Apabila tujuan mereka adalah “shock and awe”, AS sama sekali tidak belajar di Irak. Pentagon mengubah warga sipil menjadi musuh mereka.

Sebuah think tank Amerika, Project on Defence Alternatives, telah melakukan survei ekstensif guna memberikan estimasi jumlah rakyat Irak yang terbunuh sejak dimulainya perang Irak dan jatuhnya Baghdad, hasilnya: antara 10.800 dan 15.100 tentara, dan antara 3.200 dan 4.300 warga sipil. Hitungan jumlah korban tahap kedua sekarang sudah dimulai.

Kedua, dari Eropa. Pendudukan Eropa yang pertama atas Irak terjadi pada Perang Dunia I ketika Inggris mengalahkan Turki dan mencapai Baghdad via Basrah. Warga Arab lokal saat itu percaya bahwa mereka sedang dibebaskan dari Turki.

Ketika Inggris menolak pemerintahan independen Arab, seluruh Irak pun bangkit menentang imperialisme Inggris. Senjata dan organisasi kalangan perlawanan waktu itu sama sekali tidak canggih, tetapi Inggris harus mengerahkan Royal Air Force (RAF) dan gas kimiawi sebelum mereka berhasil “menstabilkan” kawasan dan kemudian menyerahkan kekuasaan pada seorang keturunan keluarga Bani Hasyim, Faisal.

Karena itu, hendaknya kita tidak kaget apabila muncul sejumlah kemiripan di kemudian hari. Sudah ada beberapa bisik-bisik yang hendak menjadikan keturunan Bani Hasyim, Pangeran Hasan, yang tidak berhasil menggantikan saudaranya, Raja Hussein di Jordan, menjadi raja Irak yang dapat “diandalkan”. Kita lihat nanti.
SAAT ini kita melihat apa yang tidak pernah terpikirkan menjadi realitas yang berkembang di Irak. Salah satu alasan mengapa hal ini tidak terprediksi adalah karena kalangan neokonservatif yang membentuk kebijakan soal Irak buat Bush hampir sama sekali tidak menyembunyikan penghinaannya pada orang Arab, baik rakyat maupun pemerintahnya. Komparasi dengan Vietnam saya kira kurang tepat, tetapi sedikitnya ada kesamaan dalam satu hal: AS tidak memahami lawan-lawannya di Vietnam, dan ia juga tidak tahu siapa atau apa yang mereka lawan di Irak. AS berpikir ia sedang memerangi pasukan “Merah” di Vietnam. Tidak ada satu pun di Washington yang diberi tahu bahwa Cina justru negara yang paling tidak disukai Vietnam. Baik di Vietnam maupun di Irak, “isme” terpenting adalah nasionalisme: Komunisme dan Islam melebur dalam nasionalisme.

Perang AS saat ini adalah melawan sebuah musuh yang singkatnya disebut Al Qaeda. Semua hal dikaitkan dengan Al Qaeda. CNN dan BBC (8/11/03) menyiarkan peringatan dari AS bahwa Al Qaeda kemungkinan “sedang berencana” untuk membajak pesawat kargo. Kedutaan AS di Arab Saudi ditutup karena Al Qaeda. Sejumlah kebebasan di land of freedom dibatasi. Bahkan, Kongres AS sekalipun tidak mendapat informasi memadai karena ketakutan pada Al Qaeda. Budaya berahasia telah berubah menjadi paranoia.

Di sisi lain, apa Al Qaeda itu? Sungguh sulit dipercaya bahwa sebuah organisasi yang dipimpin seseorang yang bersembunyi di pegunungan di Afganistan atau Pakistan, dapat menjadi jaringan internasional yang begitu solid yang dapat mengancam AS, baik antarbenua maupun di jantung AS sendiri. Bagaimana Osama bin Laden berkomunikasi dengan begitu banyak tentara bayangannya yang tersebar, apabila sedikit saja kontak dengan alat teknis dapat dideteksi teknologi AS? Bagaimana Osama dapat mengotaki pembajakan pesawat kargo di AS sekarang?

Al Qaeda tidak lagi mewakili sebuah fakta, tetapi memang ia mewakili sebuah ide. Ia telah menjadi simbol bagi suatu realitas yang mengkhawatirkan AS jauh lebih besar dibanding apa yang pernah diperbuat Osama. Sebagaimana invasi Rusia di Afganistan telah menyinergikan kelompok , atau individu Muslim yang tidak saling terkait, untuk memilih Afganistan sebagai medan tempur mereka, pendudukan AS di Irak telah meyakinkan sejumlah besar Muslim bahwa ancaman atas kemerdekaan negara Islam saat ini datang dari AS. Tidak ada mastermind. Yang ada master-objective.

Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan tahun ini adalah bahwa George W Bush merasa kaget ketika pada kunjungan luar negerinya baru-baru ini menyadari bahwa umat Islam tidak menyukainya. Tampaknya Bush disanitasi dari informasi. Ia pasti tidak membaca atau melihat media apa pun. Berbagai berita pasti disuguhkan padanya dalam bentuk kliping.

Menurut Gedung Putih, “rekonstruksi” mulai berjalan baik di Irak, dan ini berarti baik juga buat AS. Pertanyaannya sekarang, mengapa diperlukan konstruksi? Jawabnya jelas, karena adanya destruksi yang diakibatkan oleh perang AS. Diberitakan bahwa sebanyak 87 miliar dollar AS telah dialokasikan untuk Irak. Berapa banyak dari jumlah ini yang akan sampai ke Irak setelah untuk membayar angkatan bersenjata AS? Dan, berapa banyak uang yang dialokasikan untuk kerja sipil akan tersangkut di korporasi AS?

Satu komentar relevan yang dibuat Bush adalah konsekuensi nyata dari perang Irak hanya akan diketahui setelah 50 tahun. Apa yang dikatakannya tidak salah. Sayangnya, konsekuensi itu mungkin akan kurang menyenangkan pada kalangan Gedung Putih saat itu. Bush hendaknya merasa cukup beruntung bahwa saat ini tidak ada demokrasi di 22 negara Arab. Seandainya saja negara Arab memiliki pemerintahan demokratis yang mewakili aspirasi rakyat, akan terdapat 22 negara Arab yang sangat antipati pada Gedung Putih-nya Bush.***

A Fatih Syuhud Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India

Filed under: Artikel Opini,

Banner Blogger Indonesia

#1 Top Ten Blogger Indonesia versi Majalah Tempo

Copy code below, insert into your blog
<a href="http://www.fatihsyuhud.com/blogger-tips/" title="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-indonesia.gif" border="0" alt="Blog Tutorial Wordpress Blogger Blogspot"> </a>

Ikuti info terbaru di blog ini dengan langganan via Email

Bergabunglah dengan 622 pengikut lainnya.

wordpress stats plugin

Stat

free counters
Blogger Indonesia FB Profile
Blogger Indonesia Fan Page

Sebarkan Budaya Ngeblog!


Copy kode di bawah, letakkan di Sidebar blog Anda :)
<a href="http://afatih.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="http://sites.google.com/site/fatihsyuhud/Home/blog-tutorial.gif" border="0" alt="Cara Membuat Blog"> </a>
Tidak tahu cara tukar link? Baca tutorialnya di sini!

Etika Copy Paste

Mengutip tulisan di sini dibolehkan asal menyebut nama penulis (A. Fatih Syuhud) dan link ke fatihsyuhud.net/
A. Fatih Syuhud Budaya ngeblog adalah budaya baca dan menulis dalam skala massal. Sebuah budaya yang dilakukan bangsa-bangsa maju dan civilized. Indonesia akan tetap berkutat dalam kemunduran kalau masih stagnan pada budaya lisan dan enggan mereformasi diri. Setiap Blogger Indonesia "berkewajiban" untuk mengajak rekan-rekannya ngeblog--dengan bahasa Inggris atau Indonesia -- untuk sama-sama menuju tradisi baru insan modern.
Email: fatihsyuhud-at-gmail-dot-com

Paling Populer

Find Us

Blogger Indonesia twitter

Blog Stats

  • 4,425,884 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 622 pengikut lainnya.